MATERI DARUL ARQOM DASAR

MATERI
DARUL ARQOM DASAR
IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH
(IMM) CABANG JEMBER

Akhlaq Islam

Sebagaimana masyarakat Islam itu memiliki keistimewaan di bidang aqidah, ibadah dan pemikiran, Islam juga memiliki keistimewaan dalam masalah akhlaq. Akhlaq merupakan bagian penting dari eksistensi masyarakat Islam. Masyarakat yang mengenal persamaan keadilan, kebajikan dan kasih sayang, kejujuran dan kepercayaan, sabar dan kesetiaan, rasa malu dan kesetiaan, ‘izzah dan ketawadhu’an, kedermawanan dan keberanian, perjuangan dan pengorbanan, kebersihan dan keindahan, kesederhanaan dan keseimbangan, pemaaf dan penyantun, serta saling menasihati dan bekerjasama (ta’awun). Mereka beramar ma’ruf dan nahi munkar, melakukan segala bentuk kebaikan dan kemuliaan, keutamaan akhlaq, semua dengan niat ikhlas karena Allah, bertaubat dan bertawakal kepada-Nya, takut menghadapi ancaman-Nya dan mengharap rahmat-Nya. Memuliakan syiar-Nya, senang untuk memperoleh ridhaNya, menghindari murka-Nya, serta nilai-nilai Rabbaniyah lainnya yang telah banyak dilupakan oleh manusia.
Ketika kita berbicara tentang akhlaq, maka akhlaq itu tidak hanya menyangkut hubungan antara manusia dengan manusia saja, tetapi juga mencakup hubungan manusia dengan penciptannya.
Masyarakat Islam sejak dari hal-hal yang kecil telah mengharamkan segala bentuk kerusakan dan moralitas yang buruk. Bahkan dalam beberapa masalah bersikap keras, sehingga memasukkannya dalam kategori dosa-dosa besar. Seperti misalnya mengharamkan arak dan judi, keduanya dianggap sebagai perbuatan kotor dari perbuatan-perbuatan syetan. Kemudian pengharaman zina dan setiap perbuatan yang mendekati perzinaan. Seperti kelainan seksual yang merupakan tanda rusaknya fitrah dan hilangnya kejantanan. Masyarakat Islam juga mengharamkan praktek riba dan memakan harta orang lain dengan jalan yang bathil, terutama jika orang itu lemah, seperti anak-anak yatim. Juga mengharamkan sikap durhaka kepada kedua orang tua, memutus hubungan kerabat, mengganggu tetangga, menyakiti orang lain baik dengan lisan atau tangan, dan menjadikan di antara tanda-tanda kemunafikan seperti: dusta, berkhianat, tidak menepati janji, serta penyelewengan yang lain.
Terhadap setiap kerusakan yang menyimpang dari fithrah yang sehat dan akal yang cerdas, maka Islam datang untuk mengingkarinya dan terus menerus mengingkarinya. Demikian juga akhlaq mulia yang sesuai dengan fithrah yang sehat dan akal yang waras akan memberi kebahagiaan bagi individu maupun masyarakat maka Islam telah membenarkan dan memerintahkan serta menganjurkannya.
Bagi siapa saja yang membaca Kitab Allah dan hadits-hadits Rasul SAW akan melihat bahwa sesungguhnya akhlaq merupakan salah satu pilar utama bagi masyarakat Islam dan bukan sesuatu yang berada di pinggir atau masalah sampingan dalam hidup. Al Qur’an menyebut akhlaq termasuk sifat-sifat utama dan orang-orang yang beriman dan bertaqwa, di mana tiada yang masuk syurga selain mereka, tiada yang bisa selamat dari api neraka selain mereka dan tiada yang dapat meraih kebahagiaan dunia akhirat selain dari mereka. Akhlaq merupakan bagian dari cabang-cabang keimanan, di mana tak sempurna keimanan seseorang kecuali dengan menghiasi keimanan tersebut dengannya. Barangsiapa yang berpaling dari akhlaq Islam maka ia telah menjauhi sifat-sifat orang yang beriman dan berhadapan dengan murka Allah serta laknatNya.
Berikut ini kami kemukakan sebagian ayat-ayat Al Qur’an mengenai akhlaq Islamiyah sebagai gambaran/contoh sesuai dengan urutan mushaf:
“Bukankah menghadaphan wajahmu ke arah timur dan Barat itu satu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatirn, orang-orang miskin, rnusafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang betaqwa.” (Al Baqarah: 177)
Ayat yang mulia ini mengumpulkan antara aqidah, yaitu beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab-kitab dan nabi-nabi, dengan ibadah, seperti shalat dan zakat dan dengan akhlaq, yaitu memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim dan seterusnya, sampai menepati janji, sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Kemudian menjadikan keterkaitan yang rapi tersebut sebagai hakikat kebajikan dan hakikat beragama serta hakikat ketaqwaan, sebagaimana hal itu dikehendaki oleh Allah.
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran (Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian, dan orang-orangyang menunaikan apa-apa yang Allah perintahkan supaya ditunaikan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhann Tuhan-nya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).” (Ar-Ra’du: 19-22)
Gambaran akhlaq dalam ayat ini memiliki keistimewean, yakni dengan mengumpulkan antara akhlaq Rabbaniyah seperti takut kepada Allah dan takut akan buruknya hisab dengan akhlaq lnsaniyah seperti menepati janji, sabar, silatur rahim, berinfaq dan menolak kejahatan dengan kebaikan. Sesungguhnya orang merenungkan ayat tersebut akan medapatkan bahwa pada dasarnya akhlaq itu seluruhnya bersifat Rabbaniyah. Karena pada hakekatnya kesetiaan itu adalah setia terhadap janji Allah, dan shilah adalah melaksanakan perintah Allah, sabar semata-mata untuk memperoleh ridha Allah, berinfaq juga mengeluarkan rezeki Allah, maka seluruhnya menjadi akhlaq Rabbaniyah yang sampai kepada Allah. Apalagi disertai dengan mendirikan shalat karena shalat itu seluruhnya termasuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah dan menerima sesuatu yang ada di sisi Allah.
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (Yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhi diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannnya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di baik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (Al Mu’minun: 1-11)
Dalam ayat ini kita dapatkan bahwa khusyu’ di dalam shalat, menunaikan zakat dan memelihara shalat itu termasuk dalam lingkup ibadah, selain juga berpaling dari hal-hal yang tidak berguna, memelihara kemaluan dari yang haram dan menjaga amanat-amanat dan janji.
“Dan hamba-hamba (Allah) Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, jauhkan adzab Jahannam dari kami, sesungguhnya adzabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta) mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain selain Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), yakni akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih; maka kejahatan mereka diganti oleh Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan yang tidak berguna, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah dari isteri-isteri kami dan dari keturunan kami sebagai peryenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. “Mereka itulah orang-orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal selama-lamarya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.” (Al Furqan: 63-76)
“Maka sesuatu apa pun yang diberikan kepadamu itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Rabbnnya mereka, mereka bertawakal. Dan (bagi) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf. Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Rabb-nya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan rnusyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zhalim, mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim.” (Asy Syura: 36-40)
Ada dua hal dalam ayat ini yang sangat penting untuk diperhatikan oleh masyarakat Islam, yaitu:
Pertama, menetapkan prinsip syura sebagai unsur terpenting bagi terbentuknya kepribadian masyarakat Islam. Untuk itu syura diletakkan di antara mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat yang di dalam ayat ini diungkapkan dengan berinfaq terhadap sebagian dari rizki yang dikaruniakan oleh Allah. Dan tidak samar bagi seseorang kedudukan shalat dan zakat dalam agama Islam, maka sesuatu yang diletakkan di antara keduanya bukanlah masalah sekunder atau remeh dalam agama Allah.
Kedua, terus berjuang ketika mereka ditimpa oleh suatu kejahatan. Maka bukanlah sikap seorang Muslim menyerah pada suatu kezhaliman atau tunduk kepada kezhaliman dan permusuhan. Tetapi membalas kejahatan itu dengan kejahatan yang serupa agar ia (kejahatan tersebut) tidak berlanjut dan tidak berani lagi berbuat macam-macam. Adapun kalau kita mau memberi maaf, maka pahalanya ada pada Allah.
Dari ayat-ayat pilihan yang telah kami kemukakan tersebut, nampak jelas bagi kita akan kedudukan akhlaq Islam dan posisinya dalam pembentukan masyarakat Islam. Yang disebutkan ini baru sebagian kecil dan ayat-ayat yang terdapat dalam Al Qur’an Al Karim yang membahas tentang akhlaq. Karena Al Qur’an, baik yang diturunkan di Mekkah ataupun di Madinah penuh dengan ayat-ayat yang mengemukakan kepada kita berbagai contoh akhlaq yang mulia. Yang menggabung antara idealita dan realita, antara spintual dan material atau antara agama dengan dunia, dengan seimbang dan serasi, yang belum pernah dikenal dalam aturan yang mana pun (selain Islam).
Para pembaca Al Qur’an bisa merujuk pada surat Al An’am sehingga bisa membaca sepuluh wasiat pada ayat-ayat yang akhir sebagai berikut:
“Katakanlah, “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” Demikian itu yang diperintahkan Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yaatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabatmu, dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kau mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” (Al An’am: 151-153)
Atau merujuk pada surat Luqman dan membaca tentang wasiat Luqman kepada anaknya, atau merujuk pada surat “Ad Dahr” dan membaca sifat-sifat orang-orang baik:
“Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang adzabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang-orang yang ditawan.” (Al Insan (Ad-Dahr): 7-8)
Atau kembali pada surat Al Baqarah dan membaca pada bagian akhir dari surat ini ayat-ayat Allah mengenai diharamkannya riba dan nadzar seseorang untuk makan riba dan bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi mereka jika mereka tidak mau bertaubat dan berhenti untuk cukup dengan modal harta mereka.
Atau kembali pada surat An-Nisa’ tentang bagaimana memberi wasiatwasiat yang baik kepada kaum wanita:
“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka.” (An-Nisa': l9)
Atau membaca surat yang sama yaitu tentang hak-hak kerabat keluarga:
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya.” (An-Nisa': 36)
Atau membaca surat Al Maidah:
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syetan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al Maidah: 90)
Kata “Ijtinaab” sebagaimana terdapat pada ayat tersebut tidak dipergunakan oleh Al Qur’an kecuali bersamanya kesyirikan dan dosa-dosa besar.
Sehingga pembicaraan akan panjang jika kita teliti pembahasan masalah akhlaq dalam ayat-ayat Al Qur’an yang mulia, karena sebagian besar perintah-perintah Al Qur’an dan larangan-larangannya berkaitan erat dengan sisi terpenting dari kehidupan manusia, itulah sisi moral.

Filsafat Ibadah Islam

Pendahuluan
Islam sebagai agama bisa dilihat dari berbagai dimensi; sebagai keyakinan, sebagai ajaran dan sebagai aturan. Apa yang diyakini oleh seorang muslim, boleh jadi sesuai dengan ajaran dan aturan Islam, boleh jadi tidak, karena proses seseorang mencapai suatu keyakinan berbeda-beda, dan kemampuannya untuk mengakses sumber ajaran juga berbeda-beda. Diantara penganut satu agama bisa terjadi pertentangan hebat yang disebabkan oleh adanya perbedaan keyakinan. Sebagai ajaran, agama Islam merupakan ajaran kebenaran yang sempurna, yang datang dari Tuhan Yang Maha Benar. Akan tetapi manusia yang pada dasarnya tidak sempurna tidak akan sanggup menangkap kebenaran yang sempurna secara sempurna. Kebenaran bisa didekati dengan akal (masuk akal), bisa juga dengan perasaan (rasa kebenaran). Kerinduan manusia terhadap kebenaran ilahiyah bagaikan api yang selalu menuju keatas. Seberapa tinggi api menggapai ketingian dan seberapa lama api itu bertahan menyala bergantung pada bahan bakar yang tersedia pada setiap orang. Ada orang yang tak pernah berhenti mencari kebenaran, ada juga yang tak tahan lama, ada orang yang kemampuannya menggapai kebenaran sangat dalam (atau tinggi), tetapi ada yang hanya bisa mencapai permukaan saja.
Agama Islam sebagai aturan atau sebagai hukum dimaksud untuk mengatur tata kehidupan manusia. Sebagai aturan, agama berisi berisi perintah dan larangan, ada perintah keras (wajib) dan larangan keras (haram) , ada juga perintah anjuran (sunnat) dan larangan anjuran (makruh). Sumber hukum dalam Islam adalah al Qur’an, tetapi al Qur’an hanya mengatur secara umum, karena al Qur’an diperuntukkan bagi semua manusia sepanjang zaman dan dis eluruh pelosok dunia. Detail hukum kemudian dirumuskan dengan ijtihad. Karena sifatnya yang regional dan “menzaman” maka fatwa hukum bisa bisa berbeda-beda, ada yang menganggap bahwa hasil ijtihadnya itu sebagai hukum Tuhan, dan ada yang menganggap bahwa dalam hal detail tidak ada hukum Tuhan.
Syari’ah
Pilar yang kedua sebagai asas tegaknya masyarakat Islam setelah aqidah adalah berbagai syiar atau peribadatan yang telah diwajibkan oleh Allah bagi kaum Muslim in. Dan Allah telah membebankan kepada mereka untuk melaksanakannya sebagai media untuk bertaqarrub kepada-Nya. Dan sebagai realisasi dari hakekat keimanan mereka dan keyakinan mereka untuk bertemu dan memperoleh hisab-Nya.
Berkenaan dengan rukun Islam tersebut Rasulullah SAW bersabda dalam hadistnya yang mulia:
“Islam dibangun (ditegakkan) di atas lima dasar: Syahadah (menyaksikan) bahwa tiada ilah selain Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan haji ke Baitullah bagi orang yang mampu memenuhinya.” (HR. Bukhari-Muslim).
Kewajiban-kewajiban tersebut dinamakan sya’a-ir, karena ia merupakan tanda-tanda yang nampak, untuk membedakan dan memisahkan antara kehidupan seorang Muslim dengan non Muslim. Sebagaimana nantinya dapat membedakan antara kehidupan masyarakat Islam dengan non Muslim. Menegakkan syi’ar-syi’ar tersebut dan mengagungkannya merupakan bukti atas kuatnya aqidah dalam hati dan ketetapannya di dalam dada. Allah berfirman:
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagunglan syi’ar-syi ‘ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati.” (Al Hajj: 32)
Secara harfiah, syari`ah artinya jalan, sedangkan sebagai istilah keislaman, syari`ah adalah dimensi hukum atau peraturan dari ajaran Islam. Mengapa disebut syari`ah adalah karena aturan itu dimaksud memberikan jalan atau mengatur lalu lintas perjalanan hidup manusia. Lalu lintas perjalanan hidup manusia itu ada yang bersifat vertikal dan ada yang bersifat horizontal, maka syari’ah juga mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan menusia dengan sesama manusia. Aturan hubungan manusia dengan Tuhan berujud kewajiban manusia menjalankan ritual ibadah (Rukun Islam yang lima). Aturan dalam ritual ibadah berisi ketentuan tentang syarat, rukun, sah, batal, sunnat (dalam haji ada wajib), makruh. Prinsip ibadah itu tunduk merendah kepada Tuhan, tidak banyak mempertanyakan kenapa begini dan begitu, pokoknya siap mengerjakan perintah dan tidak berani melanggar sedikitpun.
Sedangkan lalu lintas pergaulan manusia secara horizontal disebut mu`amalah. Prinsip bermu`amalah adalah saling memberi manfaat, mengajak kepada kebaikan universal (alkhair) , memperhatikan norma-norma kepatutan (al ma`ruf) dan mencegah kejahatan tersembunyi (al munkar). Karena manusia sangat heterogin, maka aturan bermu`amalah sifatnya dinamis, dan merespond perubahan, dengan prinsip-prinsip (1) pada dasarnya agama itu tidak picik, mudah dan tidak mempersulit (`adam al haraj). (2) memperkecil beban, tidak untuk memberatkan (at taqlil fi at taklif), dan (3) pengetrapan aturan hukum secara bertahap (at tadrij fi at tasyri`). Karena adanya prinsip-prinsip inilah maka peranan manusia dalam hal ini ulama- dalam merumuskan aturan-aturan syari`at sangat besar dalam bentuk ijtihad, yakni dengan akal dan hatinya merumuskan ketentuan-ketentuan hukum berdasarkan al Qur’an dan hadis. Al Qur’an menjelaskan sangat detail tentang waris, tetapi selebihnya hanya dasar-dasarnya saja yang disebut. Tentang politik misalnya, al Qur’an tidak menentukan bentuk negara, apakah republik atau kerajaan. Contoh pemerintahan Nabi dan khulafa Rasyidin juga sangat terbuka untuk disebut kerajaan atau republik.
Dari sudut keilmuan, syari`ah kemudian melahirkan ilmu yang disebut fiqh, ahlinya disebut faqih-fuqaha. Karena fiqh itu produk ijtihad maka tidak bisa dihindar adanya perbedaan pendapat, maka lahirnya pemikian mazhab; yang terkenal Syafi`i, Maliki, Hanafi dan Hambali. Ulama yang tinggal di kota metropolitan pada umumnya memiliki pandangan yang dinamis dan rasionil, sedangkan ulama yang tinggal di kota agraris (Madinah misalnya) pada umumnya puritan dan tradisional. Kajian fiqh berkembang sesuai dengan tuntutan zaman, maka disamping ada fiqh ibadah, fiqh munakahat, fiqh al mawarits juga ada fiqh politik (fiqh as siyasah), sekarang sedang dikembangkan fiqh sosial, fiqh jender, fiqh Indonesia, fiqh gaul dan sebagainya.
Memahami Ajaran Islam Dalam Struktur ISLAM-IMAN-IHSAN
Dalam hadis yang terkenal dikisahkan adanya dialog malaikat Jibril (yang menyamar menjadi tamu) dengan Nabi Muhammad tentang Islam, Iman dan Ihsan. Nabi menerangkan bahwa Islam adalah syahadat, salat dst (rukun Islam), Iman adalah percaya kepada Allah, malaikat dst (rukun iman) sedangkan ihsan adalah kualitas hubungan manusia dengan Tuhan (merasa melihat atau sekurang-kurangnya merasa dilihat oleh Tuhan ketika sedang beribadah, an ta`budallaha ka annaka tarahu wa in lam takun tarahu fa innahu yaraka). Konsep ihsanlah nanti yang menjadi pijakan ilmu tasauf, yaitu rasa dekat dan komunikatif dengan Tuhan.
Sebagai sistem, teori struktur Islam-Iman-Ihsan dapat dimisalkan sebagai buah kelapa dimana Islam adalah kulit, Iman adalah daging kelapa, sedangkan ihsan adalah minyaknya, ketiganya saling berhubungan. Kulit kelapa yang besar biasanya dagingnya besar dan minyaknya banyak. Daging kelapa bertahan lama jika ia tetap terbungkus kulitnya, jika dipisahkan maka ia cepat membusuk. Iman akan mudah luntur jika tidak dilindungi oleh amaliah ibadah. Tetapi ada juga kelapa yang kulitnya besar ternyata tidak ada dagingnya, dan apalagi minyaknya (gabug). Demikian juga ada orang yang demontrasi Islamnya sangat menonjol, tetapi kualitas imannya lemah, apalagi moralitasnya.

Hakikat Islam
Pengantar
Sebagai sebuah entitas yang multi-interpretable, Islam menjadi mungkin untuk didekati dalam banyak perspektif, seperti perspektif budayanya, jurisprudensinya, spiritualitasnya saja dan lain sebagainya. Terlepas dari banyaknya perspektif yang dapat kita gunakan tersebut, dalam konteks perkaderan di IMM, diperlukan perspektif pemahaman yang segar atas Islam. Dalam arti Islam tidak hanya boleh dipahami dalam perspektif rasionalisasi realitas dan gejala empiris semata, akan tetapi perspektif pemahaman atas Islam tersebut harus dapat menyentuh sisi-sisi emosional (afektif) kesadaran keagamaan dan kesadaran ketuhanan (god concicousnes) kader-kader Ikatan., yang diharapkan mampu menumbuhkan tata nilai etis Islam yang membimbing kader menuju ridho Allah. SWT. Oleh sebab itu disamping internalisasi sisi-sisi normatif teks juga harus dikedepankan penciptaan suasan yang ‘islami’ secara formal.
Handout Materi
Kata Islam berasal dari kata Islaman yang merupakan derivasi (isytaq) dari kata aslama, berbentuk kata benda kerja (verbal noun/ mashdar), yang berarti keparahan dan ketundukan secara mutlak terhadap hukum-hukum Tuhan. Sikap yang sebenarnya adalah kecenderungan asasi (fitrah) dari semua makhluk yang ada di semesta ini: maka apakah selain dari agama Allah yang kamu pegang, padahal telah berserah diri (Islam) kepadaNya apa-apa yang ada di langit dan di bumi (ali imron: 83). Oleh sebab itu berislam berarti proses aktif seeorang untuk meleburkan diri dalam ketentuan-ketentuan Tuhan yang telah digariskan di alam semesta serta telah dititahkan dalam bentuk wahyu dan tauladan rasul-rasulnya. Risalah ilahiyah yang diwahyukan inilah yang disebut sebagai risalah munazzalah yang merupakan fitrah asazi manusia. Fitrah ini tidak akan pernah bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal (fitrah majbulah) yang dapat dicapai manusia walaupun tanpa agama.”maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (fitrah munazzalah); tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu (fitrah majbulah) tidak ada perubahan pada fitrah Allah, (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. 30: 30).
Konsep mengenai tata nilai universal ini menegaskan bahwa apabila manusia mengikuti fitrahnya maka akan dapat menemukan nilai kebenaran yang berhubungan dengan sistem tingkah laku terhadap sesamanya dan alam sekitarnya. Hanya saja dibutuhkan petunjuk ilahi yang membimbing manusia menuju tuhannya, disamping itu manusia cenderung tidak bersikap kritis terhadap tata nilai yang sudah mentradisi dalam masyarakat, inilah kedua alasan yang menjadikan kehadiran rasul merupakan suatu keharusan. Nabi bersabda: sesungguhnya aku (Muhammad) diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak manusia (muttafaq’alaihi).
Dengan rasul-rasul tersebut Allah membimbing manusia untuk menemukan makna hidup sejati dan sistem tingkah laku (code of conduct) serta cara pandang manusia terhadap tuhannya, alam semesta dan dirinya sendiri, oleh sebab itulah maka risalah yang dibawa utusan-utusan Tuhan tersebut pada esensinya adalah sama dan selaras. Karena system tata nilai tersebut berasal dari tata nilai ideal yang tertinggi (matsal Al a’la) yang ketika berada dalam kondisi otentiknya hanya mampu tercakup dalam pengetahuan tuhan yang maha luas (ecclesiastical) dan transenden “dan pada Allah lah nilai-nilai tertinggi (al Matsal A’la) dan dialah yang maha perkasa lagi maha bijaksana” (An nahl: 60).
Jika seseorang tidak berislam maka jiwanya akan tersesat dan terbelenggu oleh taghut. Perkataan taghut adalah kata keterangan pelaku (Fa’il) dalam format penegasan (sighoh muballaghoh) berasal dari kata kerja tagha yang bermakna bertindak menguasai, tirani dan hegemoni. Maka berislam yang esensial adalah bagaimana melepaskan ikatan yang menyebabkan manusia tidak bebas dan merdeka dari kekuatan tiranik sesama makhlukNya yang berarti membuatnya telah keluar dari fitrah.
Kemudian siapa yang dapat dikategorikan sebagai muslim dan non muslim?. Disini kita akan menghadapi dua sudut pandang yang berbeda yakni agama sebagai institusi (organized religion) dan agama sebagai tata nilai fitri. Sebagai institusi maka agama mengidentifikasi adanya insider dan outsider dalam agama Islam. Identifikasi ini selain bertujuan praktis untuk amar makruf nahi munkar (oleh sebab itu kaum muslimin pengikut Muhammad disebut sebagai umat penengah dan sebaik-baik umat) menuju fitrah manusia yang asasi yaitu kesamaan konsep ketuhanan (kalimatun sawa’), juga untuk internalisasi semangat fitri kepasrahan tersebut dalam jiwa setiap muslim.
Sedang dalam perspektif islam sebagai fitrah manusia maka semua manusia memiliki potensi untuk menjadi muslim asalkan ia bersikap lapang dan secara tulus mengikuti fitrah kemanusiaan. Karena Islam disini bermakna sebagai kualitas ketauhidan sebagai mana kata Ihsan dan Iman. Kualitas yang bisa dimiliki siapa saja. Kualitas ini bisa terdegradasi dalam bentuk-bentuk yang minus seperti fasik, zindik, maupun munafik bila seseorang keluar dari fitrahnya. Oleh sebab itu pengikut Muhammad di Al Qur’an disebut sebagai kaum beriman dan bukan kaum muslimin.
Lawan kategoris dari kata muslim adalah kafir yang secara genetic berarti menyembunyikan, atau menutup. Jadi ia adalah kualitas sikap hidup seseorang yang menutup hatinya dari bimbingan Tuhan melalui fitrah kemanusiaan (majbullah) dan fitrah ilahiyahnya (munazzalah). Dalam persfektif agama sebagai institusi maka Islam mengenal kafir zhimmi yakni kaum beragama lain yang mau berdamai dengan kelompok kaum muslimin dan tidak mengadakan permusuhan, serta kafir harbi yakni umat beragama lain yang berbuat kerusakan dimuka bumi serta memusuhi umat Islam. Karena saat ini tidak dapat kita temukan lagi institusionalisasi Islam dalam bentuk khilafah yang tunggal maka konsep ini sudah tidak relevan lagi untuk diterapkan.
Sedang dalam perspektif substantifnya kafir berarti mengingkari keberadaan gharizah (insting) fitri manusia yang asasi. Oleh sebab itu kata kafir dalam Al Qur’an mempunyai banyak kategori yakni kafir inkar (yang bermakna tidak mengakui ketuhanan, keesaan, dan risalahnya), kafir jahid yang bermakna mengingkari adanya tauhid rububiyah, kafir nifak yakni kafirnya orang munafik dan kafir nikmat yakni seseorang yang mengingkari kemaha pemurahan Allah.
Dalam perjalanannya tata nilai, pandangan hidup dan pandangan dunia yang berasal dari Tuhan tersebut kemudian mengambil bagian dari sejarah kehidupan manusia. Unsur kesejarahan inilah yang sering dilupakan manusia, manusia sering mengklaim bahwa apa yang sampai kepada mereka adalah Islam yang otentik dan tidak lepas dari kesejarahan manusia. Padahal semenjak keberadaannya ke bumi, Islam telah menjadi bagian dari sejarah umat manusia, yang interpretable sesuai dengan kondisi ruang dan waktu sang penafsir serta kondisi obyektif yang meliputi penafsirnya.
Kesejarahan Islam tersebut mengambil bentuk dalam peradaban manusia dalam disiplin keilmuan, yang meliputi hukum, telogi, falsafah dan mistisme dan dalam wujud kongkrit kebudayaan dan peradaban umat manusia. Bentuk sejarah inilah yang sekarang sampai kepada kita saat ini.
Oleh sebab itu dalam ber-Islam kita dilarang bertaklid, disamping karena hubungan dengan tuhan melibatkan kualitas interaksi yang sifatnya private juga hal tersebut berarti menganggap Islam yang mengada dalam sejarah kemanusiaan tersebut adalah islam yang otenik. Sikap ini sangat berbahaya karena sering kali terjadi deviasi bahkan pemalsuan ajaran Tuhan yang sekarang disampaikan Tuhan melalui rasulnya akibat proses sejarah dan kesengajaan oknum tertentu.
Untuk menentukan otensitas islam maka kita harus melakukan penggalian geneologis dalam lapisan-lapisan sejarah itu sehingga kita akan dapat menangkap makna dalam dan pemahaman yang seharusnya atas keberadaan Islam di dunia ini. Dengan begitu akan ada kontinuitas dalam menangkap makna dan semangat Islam semenjak zaman nabi sehingga ke masa kini. Tidak bisa kita hanya memahami Islam dari sumber-sumber terkini karena kalau ada distorsi konsep, semangat maupun nilai kita tidak akan pernah dapat melacaknya. Untuk melakukan penggalian geneologis ini maka kita membutuhkan banyak diiplin keilmuan dasar seperti bahasa dan penguasaan sumber utama Islam (Al Qur’an dan Hadist) yang memadai dan keilmuan keislaman lainnya. Wallahu’alam Bissowab.
Pemantapan
Disampaikan diakhiri session atau diakhir pelatihan, bisa berupa pemantapan dengan komunikasi verbal dan atau dengan tulisan ataupun, pemantapan yang berifat menyegarkan seperti permainan, simulasi dan sebagainya. Dianjurkan untuk memberikan pemantapan ini pada akhir session karena suasana yang ada masih terbangun dan fokus peserta masih terjaga, dengan alokasi waktu kira-kira 10-15 menit.
Contoh-contoh pertanyaan untuk pemantapan:
 Makna generik dari kata Islam adalah menyerahkan diri kepada Allah, dengan demikian apakah semua penyerahan diri kepada Allah atau yang dianggap Allah walaupun melalui jalan yang tidak diajarkan oleh nabi dapat disebut sebagai ber-Islam?
 Seorang yang berijtihad dengan mandiri akan bertanggungjawab terhadap hasil ijtihadnya sendiri, oleh sebab itu sebaiknya kita menyadarkan keislaman kita dengan bertakliq kepada imam tertentu karena kita tidak akan bertanggungjawab terhadap hasil ijtihad tersebut karena semua telah ditanggung imam yang bersangkutan, bagaimana komentar anda tentang pertanyaan ini?
 Dalam surat At Taubah disebutkan “dan barang siapa menghukumi dengan selain apa yang diturunkan Allah maka mereka termasuk orang-orang yang kafir”. Saat ini di Indonesia yang kita pakai adalah hukum yang diturunkan oleh Allah, apakah kita termasuk orang kafir?
 Tujuan dari shalat adalah untuk menumbuhkan sikap amar ma’ruf nahi munkar, kalau sikap ini sudah kita miliki berarti kita tidak perlu melakukan sholat. Bagaimana komentar anda atas pernyataan ini?

Islam dan Peradaban
Pengantar
Islam dan peradaban merupakan kajian yang sangat penting bagi aktivis muda Islam mengingat Islam historis kurang mendapat tempat dalam kajian para aktivis muda Islam. Kecenderungan yang terjadi di banyak kelompok kaum muda Islam yang lebih fasih bicara revolusi bolzevik di Rusia ketimbang revolusi yang terjadi di jazirah Arab ketika lahirnya Islam 15 abad silam. Padahal di dunia barat, revolusi yang di pimpin Rasulullah dianggap sebagai revolusi paling berhasil dalam sejarah kemanusiaan.
Bicara tentang Islam memang tidak hanya bicara aspek normatif semata (Al-Qur’an dan al-hadits), karena kajian historis Islam membuka ruang bagi munculnya pemahaman baru bagi konsepsi-konsepsi populer semisal demokrasi, HAM, supremasi sivil, dst yang sesungguhnya sangat kompatibel terhadap landasan nofmatif Islam. Dengan kata lain, teori-teori dan discourse peradaban (sivilisation) yang mewarnai dinamika intelektual kita hari ini dalam praksisnya pernah dipercontohkan oleh Rasulullah SAW ketika memimpin Negara Madinah Al-Munawarah.
Karenanya, kajian tentang konstruksi peradaban Islam merupakan kajian wajib bagi kader-kader muda IMM sebagai pilar ideologis yang tentunya niscaya mewarnai aktivismenya.
Handout Materi
Ibnu Khaldun menggunakan istilah “Umran Hadhari”, bagi menjelaskan peradaban, untuk membandingkan dan membedakan masyarakat nomaden yang sering berpindah-pindah dengan masyarakat kota yang menetap tinggal di suatu tempat dan membina sebuah peradaban. “Hadhari” diterjemahkan sebagai kemajuan peradaban.
Setiap peradaban memiliki tubuh dan jiwa tidak ubahnya seperti manusia. Tubuhnya adalah keberhasilan-keberhasilan materiilnya berupa bangunan, industri dan peralatan serta segala sesuatu yang berhubungan dengan kemakmuran hidup dan kesenangan duniawiyah. Sedangkan jiwa peradaban adalah seperangkat ideologi, konsep, tata nilai, moralitas dan tradisi yang tercermin dari perilaku individu dan kelompok, interaksi antara individu atau kelompok dengan yang lainnya; dan pandangan mereka tentang agama dan kehidupan, alam dan manusia, serta individu dan kelompok.
Peradaban-peradaban besar yang dikenal oleh manusia, mempunyai ragam yang berbeda dari yang satu dengan yang lainnya dari sudut sikapnya terhadap materi dan mental spiritual. Ada peradaban yang lebih menonjol sisi materiilnya daripada sisi spiritualnya. Sementara peradaban yang lain lebih menonjol sisi moril spirituilnya dari pada sisi materiilnya. Dan selebihnya ada yang mempunyai keseimbangan kedua sisi moril spirituil dan materiilnya.
Sejarah Peradaban Islam
Franz Rosenthal, seorang sarjana Barat yang menterjemahkan buku Muqaddimah Ibnu Khaldun ke dalam Bahasa Inggeris, menulis bahawa tamadun atau peradaban Islam, yang dirujuk kepada Andalus, bukan sebuah peradaban kerana kekuatan tentara, keluasan wilayah dan penduduk yang besar; tetapi karena kekuatan ilmu atau knowledge triumphan. Islam secara normatif mempunyai sifat-sifat kemajuan peradaban karena Islam datang bersama sifat-sifatnya yang positif, yang tidak mungkin bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal (liberatif dan emansipatif), seperti liberal, toleran, anti kekerasan, adil, anti eksploitasi, egaliter, plural, dan lain-lain.
Hal ini terlihat dari konstruksi peradaban yang dibangun Rasulullah ketika memimpin negara Madinah Al-Munawarah. Sebuah negara kota yang membangun keadaban bukan dari dominasi mayoritas – apalagi kekuatan tentara – penduduk, melainkan hasil kompromi politik antar suku untuk hidup bersama secara damai. Sebuah peradaban dimana keadilan ditegakkan tanpa represi negara (karena belum ada birokrasi), perdagangan yang berlangsung tanpa penghisapan, serta pluralitas suku dan agama yang hidup berdampingan.
Sepeninggal Rasulullah SAW, Islam dipimpin oleh Khulafaurrasyidin. Pada masa kehalifahan ini teritorial Islam mengalami perluasan yang menakjubkan. Wilayah kekaisaran romawi dan yunani yang menolak terus menerus dieksploitasi secara cepat dibebaskan dan menjadi imperium Islam. Pasca kekhalifahan, kekuasaan Islam berpindah-pindah – sebagai konsekuensi politis – dinasti muawiyah ke Damaskus dan abbasiyah ke Bagdad. Pada era ini pun dimensi ilmu secara menyeluruh, kebudayaan, pemikiran, ekonomi, kesenian dan sebagainya mendapat hak yang secukupnya.
Maka lahirlah pencipta besar, pemikir kreatif dunia Islam seperti Al-Khawarizmi, ahli matematik yang ulung; Ibnu Sasawayh, dokter pakar diet; Al-Fargani, ahli astronomi; Tsabit bin Qurrah, ahli geometri; Ar-Razi, dokter penemu penyakit cacar dan darah tinggi; Az-Zahrawi, ahli bedah; Al-Khazin, ahli matematik; Ibnu Haytham, ahli fizik; Al-Biruni, tokoh astronomi; Ibnu Sina, dokter; dan banyak lagi.
Kemegahan peradaban islam berakhir dengan serbuan tentara Mongol pada pertengahan abad ke-13 yang meluluh lantakkan kota Bagdad, seiring dengan tumbuhnya benih-benih kebangkitan kembali Eropa dengan ‘renaisance’nya. Sementara islam memasuki masa-masa zaman kegelapan sampai pada awal abad ke-19. karena hampir sebagian besar daerah kekuasaan Islam telah menjadi daerah kekuasaan imperialisme bangsa Eropa sebagai wujud dari ‘kebangkitan’ Eropa.
Selain serbuan tentara Mongolia dan perang salib, serta perpecahan diantara para pemimpin negara, untuhnya peradaban Islam klasik menjelaskan kepada kita betapa ketika artikulasi keagamaan diinstitusionalisasikan dalam kebijakan negara, maka yang terjadi adalah monopoli kebenaran atas nama negara. Kisah Ahmad ibnu Hanbal ketika menentang pemikiran Khalifah al-Makmun tentang al-Qur’an kemudian dianggap menyimpang dari negara adalah kisah tragis pemasungan kebebasan berpikir. Problem mendasar inilah yang telah melemahkan peradaban Islam, dengan cirinya sebagai peradaban ilmu (knowledge triumphan).
Masa kegelapan Islam baru berakhir dan memperlihatkan tanda-tanda kebangkitan pada awal abad ke-19. seiring dengan lahirnya tokoh-tokoh pembaharu Islam ddan berbagai gerakan islam di dunia Arab. Pertama, gerakan muncul di Mesir dengan tiga tokoh, yaitu: Jamaluddin Al Afghani ynag berkebangsaan Afghanistan dijuluki sebagai ‘tokoh Renaisance islam’, Muhammad Abduh yang berkebangsaan Mesir bercita-cita terwujudnya kejayaan dan kemulyaan umat islam dinegeri manapun, serta Rasyid Ridho dan Muhammad Iqbal. Walaupun sebelum mereka sudah terlebih tumbuh benih-benih kebangkitan melalui tokoh-tokoh seperti Ibnu Taimiyah dan Abdul Wahab dengan gerakan wahabi-nya (Islam murni). Gerakan pembaharuan Islam ini secara langsung juga mempengaruhi lahirnya gerakan Islam serupa di banyak negara muslim seperti Indonesia dengan lahirnya Muhammadiyah.
Masa Depan Peradaban Islam
Peradaban yang dimiliki oleh zaman modern ini yaitu peradaban barat, adalah satu sosok peradaban – tidak dipungkiri- mempunyai ciri menghormati kebebasan manusia, khususnya di dalam negerinya, memberi kebebasan seluas-luasnya bagi kecenderungan dan sumber daya manusianya sehingga mampu menaklukkan “alam” untuk dimanfaatkan dan meledakkan kekuatan nuklir untuk kepentingan dirinya; mampu terbang di angkasa seperti layaknya burung; mampu berenang dalam laut seperti layaknya ikan; mampu menempuh jarak diatas bumi yang sangat jauh dengan kecepatan tinggi; bahkan mampu mempelajari angkasa luar hingga sampai ke luar galaksi kita, sampai pada revolusi biologi dan revolusi ilmu pengetahuan sehingga mampu menciptakan alat yang sangat menakjubkan yang mampu memudahkan bagi manusia untuk menyiasati waktu dan daya pikirnya yaitu komputer. Penemuan-penemuan itu berkat kemajuan ilmu pengetahuan manusia yang dipakai dan diaplikasikan dalam teknologi.
Meskipun keberhasilan upaya manusia untuk menemukan sarana dan prasarana yang demikian canggih, ternyata yang menjadi kenyataan berbicara lain; bahwa peradaban ini belum memberikan kebahagiaan yang diharapkan atau ketentraman yang diidamkan. Sebab peradaban ini ibarat jasad yang ruhnya tikus! Kekurangan peradaban modern inilah yang merasuk ke dalamnya “materialisme pragmatis” yang membuat kita berkata bahwa itu adalah jiwa peradaban Barat, dasar filfasatnya, sifat dasarnya, dan inti ideologi menjadi karakternya, yaitu sisi-sisi yang harus diberi pencerahan dan muatan.
Problem ini pula yang menjadi persoalan mendasar di negara-negara muslim sebagai penganut ideologi kapitalis objek. Narkotika dan obat terlarang, kejahatan, kemiskinan, kesenjangan ekonomi, dsb menjadi pemandangan umum dibanyak negara muslim. Nilai barat yang sesungguhnya tidak kompatibel dengan Islam diserap sedemikian rupa sehingga menyebabkan terjadinya ketegangan di banyak Negara muslim. Konsekuensinya adalah menguatnya kelompok fundamentalisme Islam sebagai respon atas ketidakadilan timur-barat, desarnya liberalisme kapitalisme, dan kemajuan teknologi yang lepas kontrol nilai.
Namun sebagian umat Islam memberi respon moderat atas ketegangan ideologi tersebut. Perlawanan ideology secara revivalis tidak akan meruntuhkan ideologi kapitalisme liberal, melainkan hanya akan mengalienasi kelompok fundamentalis dari arus utama gerakan Islam. Pencerahan dunia Islam melalui pendidikan dan pengentasan kemiskinan merupakan jawaban paling realistis, disamping penguatan kebudayaan Islam yang populis di ruang public (public spare) umat Islam. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih humanis merupakan tawaran terbaik sebagai anti tesis keringnya ideologi kapitalisme. Konstruksi peradaban inilah yang tak dimiliki kapitalisme liberal; liberatif dan emansipatif.
Konflik dan pergulatan peradaban Barat dan Islam sempat “membeku” dengan munculnya peradaban sosialis-komunis yang saat itu direpresentasikan oleh Uni Soviet dan Cina. Namun, setelah ambruknya kekuasaan Uni Soviet (1992) yang ada di hadapan peradaban Barat adalah peradaban Islam. Itu berarti Islam menjadi batu sandungan yang sangat tajam dan bisa menjegal kepentingan-kepentingan Barat-kapitalis, saat ini Amerika Serikat sebagai komandannya dan mampu menjadi potensi yang mampu menggusur serta meluluhlantakkan peradaban Barat di masa depan.
Gerakan kembali kepada Islam yang seringkali diartikulasikan sebagai Gerakan Kebangkitan Islam biasa tampil dengan slogan: “Kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah”. Tetapi walau dengan slogan yang sama, mengapa wujud kebangkitan tersebut berbeda-beda? Inilah yang menjadi tantangan bagi umat Islam. Apakah mereka bisa mewujudkan kebangkitan tersebut yang mana akan menentukan prospek masa depan. Gerakan kebangkitan terutama bersifat intern, pribumi, positif, dan ideologis, yang berlangsung di tengah masyarakat muslim. Ia harus berhubungan, dan bahkan mungkin berbentrokan dengan kekuatan-kekuatan yang ada di gelanggang internasional.
Masa depan peradaban Islam ditentukan oleh faktor-faktor yang sangat mendasar sekali. Apabila kita tidak mencermati dengan apa yang terjadi dan memprediksikan dengan apa yang akan terjadi, maka keberadaan peradaban Islam akan terancam hancur terkikis oleh pengaruh Barat yang dominan dalam berbagai segi atau dalam berbagai hal. Malik bin Nabi (1905-1973), pemikir gaya Ibnu Khaldun, dari Aljazair, pernah mengajukan formula “kebangkitan Islam” yang sederhana: “Kaum muslim kembali ke sumber utamanya, Al-Qur’an dan Hadits, sambil mengambil berbagai unsur yang baik dari luar”, bak “memasukkan unsur lain ke dalam pohon yang kita tanam, agar unggul, tanpa ia sendiri kehilangan aroma dan rasa aslinya”.

Ketauhidan

Ajaran Tauhid bukan hanya ajaran Nabi Muhammad SAW, tetapi merupakan ajaran setiap nabi/rasul yang diutus Allah SWT.
(QS. Al-Anbiya: 25 ).

Pendahuluan
Tauhid diambil dari kata Wahhada Yuwahhidu Tauhidan yang artinya mengesakan. Satu suku kata dengan kata wahid yang berarti satu atau kata ahad yang berarti esa. Dalam ajaran Islam Tauhid itu berarti keyakinan akan keesaan Allah. Tauhid berdasarkan kepada “la ilaha illa’ Llah, Muhammadur-Rasulullah”: “Tidak ada tuhan yang wajib disembah dengan sebenarnya melainkan Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah”. Atau “asyhadu an la ilaha illa’Llah, wa asyhadu anna Muhammadar-Rasulullah”: “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang wajib disembah dengan sebenarnya melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah”. Dalam ayat, antaranya, yang terjemahannya : “Ketahuilah bahwa tiada tuhan melainkan Allah …”. (Surah Muhammad: Ayat 19).
Penyaksian itu adalah hasil dari keyakinan iman tanpa ragu tentang hakikat keTuhanan yang Maha Esa, yang merupakan penguasa bagi segalanya. Keyakinan ini datang sebagai telaah ilmu dan juga kesadaran batin yang disebut sebagai ilmul-yakin, atau ‘ainul-yaqin atau haqqul-yaqin. Ilmul-yaqin merupakan tahap keyakinan yang menimbulkan kebenaran tauhid hasil dari pengetahuannya, dengan berdasarkan bukti-bukti yang berifat nakli atau akli atau intelektual. ‘Ainul-yaqin timbul sebagai tahap tertentu dalam kesadaran batin berkenaan dengan hakikat tauhid. Haqqul-yaqin merujuk kepada pengenalan hakikat tauhid berdasarkan kepada “penyaksian batin” – musyahadah – tentang kebenaran itu yang tidak meninggalkan keraguan lagi.
Bukti Ke-Esa-an Allah

“Dan Dia-lah yang telah menciptakan semua langit dan bumi dalam enam hari…” (QS. Hud: 7)
Hadist Rasulullah SAW yang dirawikan dalam Shahih Muslim bersabda
‘Sesungguhnya Allah telah memberikan ketentuan-ketentuan dari seluruh makhluk, sebelum dia menciptakan semua langit dan bumi, 50.000 tahun lebih dahulu. Dan ‘ArsyNya adalah di atas air’

Salah satu pokok yang harus diyakini dalam beragama ialah Islam itu untuk manusia yang hidup, bukan untuk orang mati. Sama halnya dengan penciptaan langit dan bumi, Allah SWT mengindikasikan bahwa penciptaan langit dan seisinya dikhususkan untuk manusia sebagai makhluk yang paling sempurna, ini dapat dilihat dari sabda Rasulullah di atas yang menegaskan bahwa alam dan seisinya telah Allah persiapan 50.000 tahun sebelum makhluk di dunia ini diciptakan.
Kesan yang kita dapatkan dari semua ini adalah bahwa semuanya ini telah dijadikan dengan tidak sembarangan saja (‘Abatsan), atau dibiarkan kacau-balau (Sudan), atau tak tentu arah (Bathilan). Lalu untuk apa Allah menjadikan semuanya ini?. Untuk apa Allah memberitahukan semua kejadian ini dengan cara demikian?. jawabannya adalah: “Sebagai contoh kepada manusia, siapakah diantara kamu yang lebih baik amalannya”. Maha Kuasa Allah, yang mempunyai Ketinggian (Jalal) dan Kemuliaan (Ikram), Kegagah-Perkasaan (Al ‘Izzah) dan Kekuasaan (As-Sulthan), dan Kerajaan (Al Malik) serta Pengetahuan (Al-‘Ilm) dan Nikmat yang tak terhingga.
Allah SWT menciptakan ketujuh langit sebagai atap yang memayungi manusia. Allah telah menciptakan bumi ini untuk dimanfaatkan oleh manusia sebagai tempat hidup. Manusia diberi akal oleh Allah untuk memaknai kesemuanya ini, sedang Allah maha kuasa lagi maha berkehendak. Apakah wajar jika manusia melupakan kenikmatan ini?. Jika kita mampu memaknai itu semua, sesungguhnya Allah telah memberikan tanda-tanda ini untuk dijadikan sebagai petunjuk bagi manusia bahwa kita tidak dibiarkan dengan sekehendak kita dalam hidup di dunia ini.
Sama hal nya jika kita memaknai agama sebagai pengatur kehidupan manusia dalam menghargai dan memanfaatkan ciptaan Allah. sebagaimana dijelaskan diatas maka sesungguhnya agama memiliki posisi penting dalam menuntun manusia, sebab agama hanya berlaku bagi manusia yang masih hidup. Agama harus kita definisikan sebagai pengatur kehidupan manusia sebelum menuju kematian bukan sesudahnya. Perintah-perintah, larangan, anjuran, ibrah yang ada dalam Al Qur’an semuanya ditujukan kepada manusia, kesemuanya mencerminkan proses bagaimana kehidupan di dunia ini seharusnya dijalankan. Dalan surat Al-Anfal ayat 24 Allah berfirman “Wahai orang-orang yang berian penuhilah panggilan Allah dan RasulNya jika kalian semua dipanggil untuk sesuatu (Islam) yang menghidupkan” makna ayat ini dengan tegas menjelaskan bahwa agama itu diberlakukan untuk digunakan manusia dalam menjalani hidup. Sedangkan ayat-ayat yang menjelaskan tentang kejadian setelah kematian, seperti surga dan neraka, pengadilan Allah (hisab) dan lain sebagainya, kebenarnya hanya sebatas untuk diyakini secara mutlak.
Kebenaran diatas bagi kehidupan manusia akan sangat penting, baik sebagai motivasi hidup maupun pedoman hidup manusia untuk lebih bertanggungjawab dalam segala aktivitas. Sebab kehidupan setelah kematian merupakan kelanjutan dari kehidupan pertama manusia di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa dua kehidupan ini berifat kausalitas, yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya.

Urgensi tauhid dalam Islam
Urgensi tauhid dalam islam dapat terlihat dari dari
a) Sejarah perjuangan Rasulullah saw, dimana hampir selama periode Makkah Rasulullah saw mengerahkan usahanya untuk membina tauhid ummat Islam. Rasul selalu menekankan tauhid dalam setiap ajarannya, sebelum seseorang diberi pelajaran lain, maka tauhid ditanamkan lebih dahulu kepada mereka.
b) Setiap ajaran yang menyangkut ibadah mahdloh umpama nya senantiasa mencerminkan jiwa tauhid itu, yakni dilakukan secara langsung tanpa perantara.
c) Setiap perbuatan yang bertentangan dengan jiwa dan sikap tauhid yaitu perbuatan syirik dinilai oleh al-Qur’an sebagai : Dosa yang paling besar, (an-Nisa’ 48). Kesesatan yang paling fatal, (an-Nisa’116). sebab diharamkannya masuk sorga (al-Maidah 72). Dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT (an-Nisa’ 48).
Manifestasi Tauhid
I’tikad dan keyakinan tauhid mempunyai konsekuensi bersikap tauhid dan berfikir tauhid seperti ditampakkan pada :
a) Tauhid dalam ‘ibadah dan do’a. Yaitu tidak ada yang patut disembah kecuali hanya Allah dan tidak ada dzat yang pantas menerima dan memenuhi do’a kecuali hanya Allah. (Al-Fatihah 5).
b) Tauhid dalam mencari nafkah dan berekonomi. Yaitu tidak ada dzat yang memberi rizki kecuali hanya Allah (Hud 6). Dan pemilik mutlak dari seluruh apa yang ada adalah Allah SWT. QS.(al-Baqarah 284, an-Nur 33).
c) Tauhid dalam melaksanakan pendidikan dan da’wah. Yaitu bahwa yang menjadikan seseorang itu baik atau buruk hanyalah Allah SWT. Dan hanya Allah yang mampu memberikan petunjuk kepada seseorang (al-Qoshosh 56, an-Nahl 37).
d) Tauhid dalam berpolitik. Yaitu penguasa yang Maha Muthlaq hanyalah Allah SWT. (al-Maidah 18, al-Mulk 1). Dan seseorang hanya akan memperoleh sesuatu kekuasaan karena anugerah Allah semata-mata (Ali-‘Imran 26). Dan kemulyaan serta kekuasaan hanyalah kepunyaan Allah SWT.(Yunus 65).
e) Tauhid dalam menjalankan hukum. Bahwa hukum yang benar adalah hukum yang datang dari Allah SWT. Serta sumber kebenaran yang muthlaq adalah Allah SWT. (Yusuf 40 dan 67).
f) Tauhid dalam sikap hidup secara keseluruhan, bahwa tidak ada yang patut ditakuti kecuali hanya Allah. (at-Taubah 18, al-Baqarah 150). Tidak ada yang patut dicintai kecuali hanya Allah (dalam arti yang absolut) (at-Taubah 24). Tidak ada yang dapat menghilangkan kemudharatan kecuali hanya Allah. (Yunus 107). Tidak ada yang memberikan karunia kecuali hanya Allah. (Ali-‘Imran 73). Bahkan yang menentukan hidup dan mati seseorang hanyalah Allah SWT. (Ali-‘Imran 145).
g) Menghindar dari kepercayaan-kepercayaan, serta sikap-sikap yang dapat mengganggu jiwa dan ruh tauhid seperti : Mempercayai adanya azimat, takhyul, pelet, meminta-minta kepada selain Allah, mengkultuskan sesuatu selain Allah, melakukan tasybih, musyabihah (antrofomorfisme), yaitu menganggap Allah berjisim dan lain-lain.
h) Tauhid yang murni akan melahirkan satu sikap yang tunduk dan patuh kepada Allah, yang disebut al-Qur,an dengan sikap sami’na wa atho’na yaitu kami dengar dan kami patuh. Dan kepada mereka yang tidak patuh dinilai sebagai orang yang mengilah-kan hawa nafsu (al-Jasiyah 23). Nabi bersabda : Tidak berzina orang yang berzina kalau dia beriman dan tidak mencuri seorang pencuri kalau beriman
Makna Beragama
Berbicara tentang beragama, paling tidak ada dua hal yang harus dijadikan landasan, yaitu: a) untuk apa beragama dan b) bagaimana seharusnya beragama. Untuk menjawab pertanyaan pertama, A. Mukti Ali menjabarkan dalam 5 macam, antara lain:
1. Motivatif, bagi manusia beragama merupakan factor yang bisa mendorong manusia untuk mendasari dan melandasi cita-cita serta sebagai penuntun untuk menjalani seluruh aspek kehidupan didunia dan memahami kehidupan setelah kematian.
2. Liberatif, atau makna yang membebaskan manusia dari segala bentuk kebodohan atau ketidaktahuan yang mengikat dan menghalanginya ber-empati dan ber-emansipasi, sehingga menjadi manusia yang dinamis dengan penuh kebebasan berfikir dan bergerak.
3. Sublimatif, suatu makna yang menjadikan Tuhan sebagai pangkal tolak dan tujuan bagi seluruh ativitas manusia, lahir maupun bathin. Sehingga tidak menyebabkan manusia seenaknya bersikap dan berkehendak.
4. Protektif, artinya dengan beragama manusia akan memiliki penuntun dan penunjuk jalan yang membimbing manusia kearah mana seharusnya dia bergerak, dan nilai-nilai apakah yang seharusnya dibela taupun dimenangkan. Misalnya, keadilan atau kedzaliman, kasih saying atau pemerkosaan dan lain-lain.
5. Inovatif, yang memiliki makna bahwa beragama akan memberikan daya kreatif dan inovatif yang menggerakkan manusia untuk bersikap progresif.
Oleh karena itu Al Qur’an merupakan sebuah pedoman hidup paling sempurna yang Allah turunkan khusus untuk manusia, maka niscaya kiranya menjadi acuan bagi kita untuk memaknai hidup melalui agama yang dirahmati Allah. Landasan dari ini semua telah tegas disampaikan Allah untuk manusia dalam memaknai beragama sebagai hudan (petunjuk, QS. 2: 2), furqon (pembeda, QS. 2: 185), tibyan (atau bayyinah (penjelas, QS. 2: 185), siroojam muniiro (lampu penerang, QS. 25: 61), syifa’ (resep, QS. 10: 57), dan rahmah (QS. 17: 82). Makna ini akan berlaku bagi manusia dalam menghadapi kehidupan di dunia dengan baik manakala manusia mampu mengkolaborasikan secara utuh dan harmonis. Maka jika manusia mampu memaknai hidup di dunia dengan beragama kepada Allah secara utuh, maka sesungguhnya itulah hidup yang sebenarnya (utuh). Wallahu’alam Bissowab.

Metodologi Dakwah Islam
“Dan hendaklah diantara kamu segolongan umat yang menyeru kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran.merekalah orang-orang yang beruntung”
(QS.Ali Imran: 104).
Dalam tempo dua puluh tiga tahun Rasulullah telah berhasil melaksanakan dakwahnya. Beliau mampu mengubah kehidupan yang gelap tak berarah kepada kehidupan yang terang benderang diridhoi Allah SWT. Selama dua puluh tiga tahun itu tidak selamanya dakwah Rasulullah berjalan dengan mulus, selama itu beliau mengalami berbagai macam tantangan dan rintangan baik dari dalam (keluarga) maupun dari luar, masyarakat sekitar. Tapi inilah kenyataannya, keberhasilan dakwah Rasulullah merupakan bukti dari kebesaran Allah SWT, sampai saat ini agama Islam menjadi agama mayoritas di belahan dunia ini.
Pada zaman ini memang Islam merupakan agama mayoritas, tapi sampai saat ini yang menjadi penguasa dunia bukanlah orang Islam, sebaliknya justru orang kafirlah yang menjadi penguasa dunia. Mengapa hal ini bisa terjadi? Mengapa orang Islam tidak bisa menjadi penguasa dunia? Mengapa dunia Islam malah menjadi dunia ketiga?
Kita sebagai orang Islam, seharusnya merasa tergugah dengan pertanyan-pertanyan seperti itu, selaku orang Islam harus mempunyai rasa tanggung jawab akan agamanya, harus berusaha mengembalikan cita-cita Rasulullah dan para sahabatnya. Usaha yang dapat kita lakukan adalah dengan berdakwah, sebagaimana yang tercantum dalam surat Ali Imran 104 bahwa “dintara kalian hendaklah menjadi penyeru kebaikan, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran”.
Dalam masalah pelaksanaannya, terdapat beberapa metodologi dakwah, sbb:
1. Dakwah Fardiyah
Metode dakwah fardiyah ini dilaksanakan dengan cara mengajak -kebaikan- kepada seseorang atau sekelompok orang yang terdiri dari beberapa orang saja. Biasanya dakwah fardiyah ini dilaksanakan tidak begitu formal seperti dakwah-dakwah yang lainnya, seorang dai berada didalam mesjid dan berkhutbah dihadapan orang banyak, tapi dakwah ini bisa dilaksanakan di mana saja dan tidak begitu membutuhkan persiapan yang matang, seperti ketika berkumpul dengan orang-orang baik itu dikampus, di pasar, di jalan, di rumah atau di mana saja berada.
Dakwah ini bisa dilaksanakan dengan spontanitas dan hal seperti ini sering terjadi pada semua orang, bahkan setiap hari seseorang pasti bertemu dan bergaul antara satu dengan yang lainnya, dan dakwah ini juga sangat mudah untuk direalisasikan karena untuk melaksanakannya tidak membutuhkan persiapan yang matang dan penulis yakin bahwa semua orang yang mengaku dirinya muslim pasti bisa melaksanakannya.
Sesungguhnya metode dakwah ini sangat bersifat sensitif sekali, karena biasanya orang yang diajak bicara tidak begitu saja bisa mau menerima apa yang ditawarkan, oleh karena itu apa yang harus dilakukan agar kita bisa melaksanakannya, maka di bawah ini akan dijelaskan trik-trik atau adab-adab dalam dakwah fardiyah:
1) Sabar dan Bersifat Ramah
Sifat ini jelas harus dimilikioleh seorang dai, sifat sabar dan ramah ini dapat kita lihat bagaimana nabi Muhammad saw berdakwah selama bertahun tahun dan menghadapi orang yang bermacam-macam,karena sifat sabar dan ramahnya ini beliau banyak yang mengikuti.
2) Saling Menghormati
Perbedaan pendapat memang selalu terjadi, tapi jangan menjadikan hal ini sebagai sebab retaknya hubungan silaturahmi, sebab seorang dai harus bisa menghargai dan memahami pendapat orang lain yang berbeda.
3) Lapang Dada
Jangan pernah merasa diri paling benar, apa yang diucapkannya adalah yang paling benar bahkan orang-orang yang menyalahi ucapannya dicap bodoh, dosa apalagi kafir, dan hal inilah yang menjaadikan seseorang dibenci.
4) Bertahap
Terkadang orang menerima seruan/ajakan dakwah itu membutuhkan waktu, seorang mubaligh harus bisa mengetahui pemahaman-agama- mad’unya, baik dari segi aqidahnya, ibadahnya atau mu’amalahnya.
5) Ikhlas
Sifat ini juga harus kita miliki karena apa yang kita kerjakan itu hanya untuk Allah SWT.
2. Dakwah ‘âmah
Berbeda dengan dakwah fardiyah, metode ini menyeru -kebaikan- kepada seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya pada seseorang ataupun sekelompok orang saja,tapi semua manusia yang ada dibumi ini menjadi obyek lahan dakwah. Bila dibandingkan dengan dakwah fardiyah, dakwah ‘amah ini lebih berat rintangan dan tantangannnya. Sebab dalam dakwah ini adalah seluruh masyarakat, oleh karena itu dakwah ini harus dipersiapkan dengan matang dan tersusun serta memerlukan strategi-strategi yang baik.
Ada sebuah asumsi yang mengatakan bahwa: kalimat-kalimat yang di perdengarkan itu lebih kuat pengaruhnya daripada kalimat-kalimat yang dibaca2, kenapa? Karena kalimat yang diperdengarkan itu akan lebih mengena di hati dan lebih menggugah jiwa serta memberi motivasi bagi yang mendengarkannya. Bila kita melihat sejarah para nabi dan rasul, bisa kita lihat bahwa perjuangan dakwah mereka itu berhasil setelah melewati beberapa tahun dan banyak mengalami berbagai rintangan dan tantangan.mereka berdakwah sampai titik darah penghabisan, tapi apa mereka lakukan bisa kita rasakan sekarang ini.
Adab dakwah amah:
1) Pilihan-pilihan yang terbaik
Dalam metode ini ada empat hal yang harus dimiliki oleh seorang dai. pertama, menentukan topik atau tema yang akan kita sampaikan kepada obyek dakwah, hal harus sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Kedua, dalam menggunakan kata-kata yang disampaikan harus menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti dan dipahami oleh semua lapisan masyarakat. Ketiga, menentukan waktu yang sesuai antara materi yang disampaikan dengan keadaan atau kejadian yang sedang terjadi di masyarakat. Keempat, tempat yang nyaman akan membantu berhasilnya proses dakwah.
2) Sikap Waspada
Diantara hal-hal yang harus di waspadai ialah sikap perdebatan, karena kebanyakan dengan perdebatan ini hubungan silaturahmi bahkan hubungan keluargapun bisa retak, karena itu hal ini harus dihindari. Selain itu waktu penyampaian pun harus diperhatikan jika terlalu panjang maka mustami’in akan merasa jenuh dan bosan yang seterusnya tidak bisa menangkap apa yang disampaikan.
3) Segi Penyampaian
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyampaikan materi antara lain:
a. Diawali dengan bismillah.
b. Muqodimah.
c. Tenang dalam menyampaikan.
d. Intonasi yang sesuai.
e. Pengklasifikasian masalah.
f. Sistematis.
g. Kesimpulan
3. Dakwah bil Kitâbah
Dai yang sukses bukanlah orang yang berpeci dan bersorban serta menyerukan “telah diwajibkan atas kalian shalat” dan hanya menyampaikan materi-materinya di dalam sebuah masjid, tapi mubaligh yang sukses adalah orang yang bisa memberi keselamatan atau kemaslahatan dan pemahaman -agama- kepada manusia dan juga orang yang mampu membawa dan mendidik manusia dari kejelekan kepada kebaikan. Dan para mubaligh itu tersebar di setiap tempat dan tetap melakukan tugasnya-berdakwah- kapan dan di mana saja mereka berada, dan diantara dakwah yang mereka lakukan adalah dengan dakwah bilkitâbah.
Dakwah bilkitâbah ini merupakan metode yang cukup unik dan praktis, seorang mubaligh cukup hanya membuat sebuah tulisan dan menyebarkannya ke masyarakat. Materi-materi yang dapat di publikasikan berupa:
1) Sebuah Karangan/Tulisan.
Di zaman sekarang ini sudah tersebar media-media yang dapat mempublikasikan gagasan-gagasan seseorang, baik itu di surat kabar, majalah, buku, de el el. Tapi sebagian besar dari media-media itu banyak mempublikasikan pemikiran-pmikin yang jauh dari pemikiran islam. Ini merupakan tugas bagi kita selaku orang islam yang bertanggung jawab akan agamanya, kita gunakan media-media tersebut untuk mengimbangi para pemikir barat yang jelas-jelas banyak menyudutkan agama islam.
2) Kritikan-Kritikan
Yang dimaksud kritikan disini ialah mengkritik atau menanggapi kesalahan-kesalahan yang terjadi di media masa, karena sebagaimana yang kita saksikan ternyata banyak orang-orang yang menulis tentang keIslaman padahal orang tersebut kurang memahami keIslaman itu sendiri. Mungkin ada faktor lain orang-orang yang menulis seperti ini, dan ini merupakan tugas para mubaligh untuk membenarkan hal-hal yang melenceng, karena tugas dari mubaligh itu sendiri adalah mencegah kemungkaran.
4. Dakwah bil Qudwah
Salah satu metode dakwah yang dilaksanakan oleh rasulullah ialah dengan dakwah bil qudwah, yaitu dengan memberi teladan atau contoh yang baik agar diikuti oleh semua orang. Rasullullah adalah teladan bagi semua umatnya oleh karena itu kita harus mengikuti apa yang telah beliau ajarkan kepada umatnya. Seorang Mubaligh harus mempunyai pribadi dan akhlak yang baik, dimanapun mereka berada senantiasa memperlihatkan prilaku-prilaku yang baik.tetapi apa yang dikerjakannya itu bukanlah sifat riya yang ingin dipuji oleh orang lain tapi ini adalah cara untuk mengajak orang lain pada kebaikan.
Sifat-sifat yang harus dimiliki oleh para dai untuk melaksanakan dakwah bilqudwâh ini antara lain:
1) Sikap `affah dan îtsar.
`Affah ialah sikap selalu menjauhkan diri dari hal-hal yang kurang baik, sedangkan itsar ialah sikap mementingkan orang lain. Hidup di masyarakat sekarang memang harus berhati-hati kita jangan terjebak dengan suasana yang menggiurkan apalagi terbawa oleh kemaksiatan-kemaksiatan yang terjadi di masyarakat. Hidup ini hendaknya selalu mewarnai orang lain dengan kebaikan jangan terwarnai oleh kejelekan. Selain itu seorang mubaligh jangan menyimpan sifat egois, yang selalu mementingkan dirinya sendiri tanpa memperhatikan orang lain yang ada di sekitarnya. Seorang pendakwah harus peka terhadap lingkungannya.
2) Tasâmuh
Dalam hal ini sikap toleransi harus kita kembangkan, dalam artian harus menghargai dan menghormati orang lain. Memang perbedaan-perbedaan banyak terjadi dan kita harus bisa mensikapinya dengan adil dan bijaksana. Seperti yang diterangkan dalam alquran “…maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarah lah dengan mereka dalam urusan itu…” Dakwah Islamiyah itu dilandaskan dengan rasa cinta, bagaimana satu sama yang lainnya itu memiliki rasa persaudaraan yang tinggi bukannya saling memojokkan dalam satu urusan.
3) Rela Berkorban
Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap harta dan dirimu dan juga akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. Para mubaligh akan menghadapi berbagai macam obyek dakwah di masyarakat, terdapat yang kaya dan miskin, yang kuat dan lemah, yang berilmu dan bodoh, dan yang sehat maupun yang sakit. Oleh semuanya itu kita harus bisa menjadi contoh bagi mereka semua, dan sedikkitnya ada pengorbanan dalam mennghadapi itu semua, baik waktunya yang banyak tersita atau hartanya yang tersisihkan untuk fakir miskin dan yang lainnya.itu semua hanya untuk berdakwah di jalan Allah SWT.
4) Silaturahmi.
Dalam alquran allah telah sebutkan bahwa “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. 49:13).
Sebagai mubaligh kita harus peka terhadap lingkungan sekitar, sedikitnya mengetahui siapa saja obyek dakwah kita, apalagi kalau kita bisa mengenalnya dan mengunjungi serta memperhatikan keadaannnya.
Penutup
Tugas dakwah ini memang terasa berat, bila kita tidak mempunyai kesiapan yang maksimal, oleh karena itu persiapan-persiapan yang harus kita bina, kita mulai dari sekarang secara terus menerus. Tulisan ini merupakan salah satu usaha untuk mencoba memaparkan metode-metode dakwah yang sebenarnya masih banyak lainnya. Memang tulisan ini belum semaksimal apa yang diharapkan, tapi semoga dengan tulisan ini bisa menjadikan kita lebih bersemangat untuk melaksanakan tugas kita, yaitu dakwah Islamiyah.

Muhammadiyah Sebagai Gerakan Dakwah Islam
Landasan Hitoris Lahirnya Muhammadiyah
Kemegahan peradaban Islam berakhir dengan serbuan tentara Mongol pada pertengahan abad ke-13 yang meluluhlantakkan kota Bagdad, seiring dengan tumbuhnya benih-benih kebangkitan kembali Eropa dengan ‘renaisance’nya. Sementara Islam memasuki masa-masa zaman kegelapan sampai pada awal abad ke-19, karena sebagian besar daerah kekuasaan Islam telah menjadi daerah kekuasaan imperialisme Eropa sebagai wujud dari ‘kebangkitan’ Eropa.
Masa kegelapan Islam baru berakhir dan memperlihatkan tanda-tanda kebangkitan pada awal abad ke-19. seiring dengan lahirnya tokoh-tokoh pembaharu islam dan berbagai gerakan islam di dunia Arab. Pertama, gerakan muncul di Mesir dengan tiga tokoh, yaitu : Jamaluddin Al Afghani ynag berkebangsaan Afghanistan dijuluki sebagai ‘tokoh Renaisance Islam’, Muhammad Abduh yang berkebangsan Mesir bercita-cita terwujudnya kejayaan dan kemuliaan ummat Islam di negeri mana pun, serta Rasyid Ridho dan Muhammad Iqbal. Walaupun sebelum mereka sudah terlebih tumbuh benih-benih kebangkitan melalui tokoh-tokoh seperti Ibnu Taimiyah dan Abdul Wahab dengan gerakan wahabi-nya (Islam murni).
Mata rantai pembaharuan Islam di dunia Arab akhirnya pun melanda nusantara melalui pemikiran para ulama yang belajar di Arab. Gerakan pebaharuan Islam yang berkembang di Arab mengusung cita-cita mengembalikan Islam pada jalan sesungguhnya dengan kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah. Sebagai solusi keterbelakangan terhadap umat Islam. Dengan kembali kepada sumber ajaran Islam yang sesungguhnya, yaitu Al-Qur’an dan sunnah maka umat Islam di seluruh dunia bisa keluar dari perbedaan interpretasi ajaran yang terpolar dengan beberapa aliran teologi yang menjadi sumber perpecahan ummat Islam.
Selain pengaruh gerakan di atas, ada beberapa sebab lahirnya muhammadiyah, antara lain:
a. Keinginan dari KH. Ahmad Dahlan untuk mendirikan organisasi yang dapat dijadikan sebagai alat perjuangan dan da’wah untuk menegakkan ammar ma’ruf nahi munkar yang bersumber pada Al-Qur’an, Surat Ali Imron : 104 dan surat Al-Ma’un sebagai sumber bagi gerakan sosial-praktis untuk mewujudkan gerakan tauhid.
b. Ketidakmurnian ajaran Islam yang dipahami oleh sebagian umat Islam Indonesia, sebagai bentuk ‘adaptasi tidak tuntas’ antara tradisi islam dan tradisi lokal nusantara awal yang bermuatan paham animisme dan dinamisme. Sehingga dalam prakteknya umat Islam di Indoneia memperlihatkan hal-hal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam, terutama yang berhubungan dengan prinsip aqidah Islam yang menolak segala bentuk kemusryikan, taqlid, bid’ah dan khurafat. Sehingga purifikasi (pemurnian) ajaran menjadi pilihan mutlak bagi umat Islam Indonesia.
c. Keterbelakangan umat Islam Indonesia dalam segala segi kehidupan menjadi sumber keprihatinan untuk mencarikan solusi agar dapat keluar dari keterbelakangan. Keterbelakangan umat Islam dalam dunia pendidikan menjadi sumber utama keterbelakangan dalam peradaban. Pesantren tidak bisa selamanya dianggap menjadi sumber lahirrnya generasi baru muda Islam yang berpikiran modern. Kesejahteraan umat Islam akan tetap berada di bawah garis kemiskinan jika ‘kebodohan’ masih melingkupi umat Islam Indonesia.
d. Maraknya kristenisasi di Indonesia sebagai efek domino dari imperialisme Eropa ke dunia timur yang mayoritas beragama Islam. Proyek kristenisasi satu paket dengan proyek imperialisme dan modernisasi bangsa Eropa, selain keinginan untuk memeperluas daerah koloni untuk memasarkan produk-produk hasil revolusi industri yang melanda Eropa.
e. Imeprialisme Eropa tidak hanya membonceng gerilya gerejawan dan para penginjil untuk menyampaikan ‘ajaran jesus’ untuk menyapa ummat manusia di seluruh dunia untuk ‘mengikuti’ ajarran jesus. Tetapi juga membwa angin modernisasi yang sedang melanda Eropa. Modernisasi yang berhembus melalui model pendidikan barat (belanda) di Indonesia mengusung paham-paham yang melahirkan modernisasi Eropa, seperti sekulerisme, individuisme, libelarisme dan rasionalisme. Jika penetrasi ini tidak dihentikan maka akan lahir generasi baru islam yang rasional tetapi liberal dan sekuler.
Arti Muhammadiyah
Dengan berbagai latar belakang diatas maka K.H. Ahmad Dahlan mengambil inisiatif untuk mendirikan muhammadiyah pada tanggal 18 November 1912 M (8 Dzulhijjah 1330 H) di Yogyakarta. Secara etimologis Muhmmadiyah dapat diartikan sebagai “pengikut Muhammad SAW”, yang terdiri dari kata ‘Muhammad’ dan ‘ya nisbiyah’. Sehingga setiap orang yang meyakini dan menjadi pengikut Muhammad SAW adalah orang muhammadiyah tanpa dibatasi oleh ideologi golongan, bangsa, dan organisasi. Sementara secara terminology, muhammadiyah adalah gerakan dawah amar ma’ruf nahi munkar berasas Islam dan bersumber Al Qur’an dan sunnah demi terwujudnya baldhatun thaibatun warobbul ghofur, yang bersumber pada QS. Ali Imron: 104.

Maksud dan Tujuan Muhammadiyah
Maksud dan tujuan muhammdiyah secara lengkap rumusannya seperti terdapat dalam anggaran dasar muhammadiyah, sbb:
“mengakkan dan menjunjung tinggi agama islam sehingga terwujudnya masyarakat utama, adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT”
maksud dan tujuan muhammdiyah tersebut diwujudkan secara praksis dalam realitas kehidupan keagamaan dan sosial umat, al:
 Bidang keagamaan
Tantangan modernitas dan tradisi (bermuatan takliq, bid’ah dan kurafat) menjadi dua persoalan keagamaan yang dihadapi oleh muhammadiyah. Purifikasi atau pemurnian dan gerakan tajdid adalah 2 hal yang menjadi ciri gerakan da’wah keagamaan muhammdiyah. Sehingga muhammadiyah juga merumuskan pedoman ubudiyah, muamalah, hisab, dan sebagainya melalui keputusan tarjih Muhammadiyah yang berisikan para ulama.
 Bidang pendidikan
Kepedulian muhammadiyah dibuktikan dengan mendirikan lembaga pendidikan formal dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi dengan menggabungkan antara pendidikan agama dan pendidikan umum sebagai jembatan untuk menuntaskan kebodohan yang sedang diidap oleh umat Islam Indonesia, sehingga seimbang antara kehidupan dunia dan akhirat
• Bidang sosial kemasyarakatan
Untuk memenuhi kebutuhan umat dan untuk keperluan da’wah, maka didirikan rumah sakit, panti asuhan, balai pengobatan, klinik, apotik, percetakan, lembaga peyuluhan dan lain-lain.
• Bidang politik kenegaraan
Muhammdiyah berperan besar dalam pergerakan menjelang kemerdekaan, paska kemerdekaan, perlawanan atas pemberontakan PKI 1948 dan 1965, maupun dalam menjaga kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam negara kesatuan republik Indonesia. Namun muhammadiyah secara organisasi tidak terlibat dalam agenda politik praktis.
Ciri Perjuangan Muhammdiyah
Ada 3 ciri dari perjuangan muhammadiyah
1) Muhammadiyah sebagai gerakan Islam.
Gerakan Islam dijadikan sebagai ciri perjuangan Muhammdiyah sebagai telaah terhadap QS Ali Imron: 104 serta 17 ayat Al-Qur’an lainnya yang didalamnya tergambar dengan jelas asal-usul ruh, jiwa, nafas, semangat muhammadiyah dalam pengabdiannya kepada Allah SWT. Segala hal yang dilakukan oleh muhammadiyah di segala bidang di atas adalah semata-mata untuk merealisasikan prinsip-prinsip ajaran Islam menuju masyarakat utama yang rahmatan lil ‘alamin.
2) Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar.
QS. Ali Imron: 104 menjadi khittah dan sumber strategi perjuangan muhammadiyah, yakni dakwah (menyuruh amar ma’ruf nahi munkar, dengan masyarakat sebagai objek perjuangannya). Dan semua amal usaha muhammadiyah merupakan media bagi gerakan dakwah Islamiyah
3) Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid (purifikasi dan reformasi)
Sifat tajdid yang dikenakan pada gerakan muhammadiyah sebenarnya tidaklah hanya pada sebatas pengertian upaya memurnikan ajaran Islam dari berbagai penyimpangan ajaran Islam, tetapi juga upaya Muhammadiyah untuk melakukan berbagai pembaharuan tata cara pelaksanaan ajaran Islam, dalam realitas sosial kemasyarakatan, dan lain sebagainya.
Dalam hubungannya dengan salah satu ciri muhammadiyah sebagai gerakan tajdid, maka muhammadiyah dapat dinyatakan sebagai gerakan purifikasi dan gerakan reformasi.
Struktur organisasi dan ortom muhammadiyah
Secara organisasional muhammadiyah memiliki struktur organisasi kepemimpinan berurutan dari tingkat ranting (tingkat desa), cabang (kecamatan), daerah (kota/kabupaten), wilayah (propinsi) dan pusat (nasional). Sementara kepengurusan dalam muhammadiyah terdiri dari beberapa bidang (majelis), antara lain:
 Majelis tarjih
 Majelis hikmah
 Majelis tablig
 Majelis pendidikan dasar dan menengah
 Majelis kebudayaan
 Majelis pembina kesejahteraan social
 Majelis pembina kesehatan
 Majelis pembina ekonomi
 Majelis wakaf dan kehartabendaan
 Majelis pustaka
 Majelis pendidikan tinggi dan litbang
 Dan beberapa lembaga
Disamping majelis dan lembaga, terdapat organisasi otonom (ortom) yang bernaung di bawah payung Muhammadiyah, dengan diberi kewenangan untuk mengatur rumah tangganya sendiri. Ortom-ortom tersebut adalah :
1) Aisyiyah
2) Nasyiatul Aisyiyah (NA)
3) Pemuda Muhammadiyah (PM)
4) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)
5) Iaktan Remaja Muhamadiyah (IRM)
6) Tapak Suci Putra Muhammadiyah
Empat organisasi ortom, yaitu pemuda Muahammadiyah, Nasyiatul Asyiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan Ikatan Remaja Muhammadiyah tergabung dalam Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM). Sementara itu Ortom yang harus dibina di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (OTM) adalah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Tapak Suci Putra Muahammadiyah.
Peran Muhammadiyah dalam Perjalanan Sejarah Bangsa
Semenjak didirikan (1912), 4 tahun setelah Budi Utomo berdiri (1908) sebagai simbol perjuangan kemerdekaan Indonesia modern awal, Muhammadiyah sudah mengambil peran bersama-sama organisasi perjuangan kemerdekaan lainnya untuk konsisten mencarikan jalan menuju kemerdekaan Indonesia. KH Ahmad Dahlan misalnya, ikut duduk sebagai pengurus Budi Utomo dan menjadi penasehat sarikat Islam. Penggantinya KH. Mas Mansur, merupakan tokoh Muhammadiyah yang terlibat banyak dalam pendirian Partai Islam Indonesia (1938) dan berbagai aktifitas perjuangan kemerdekaan lainnya. Begitu juga dengan Ki Bagus Hadi Kusuma yang banyak terlibat dalam perjuangan menjelang kemerdekaan 1945 dan beberapa tokoh lainnya bahkan terlibat dalam penyiapan konsep kemerdekaan Indonesia.
Pasca kemerdekaan, Muhammadiyah tetap tampil secara konsisten dalam berbagai peranan dakwah dan peran sosialnya. Muhammadiyah hadir sebagai penjaga moral bangsa. Ketika pemilu 1955, NU terlibat dalam politik praktis dan menjadi partai politik, Muhammadiyah tetap pada khittahnya. Walupun secara kultural Muhammadiyah sangat dekat dengan partai Masyumi, karena sebagaian besar tokoh-tokoh Masyumi adalah tokoh-tokoh Muhammadiyah juga.
Ketika PKI menjadi kekuatan politik dan idiologi yang kuat pada pertengahan 60an, Muhammadiyah menjadi penghalang utama dan paling ditakuti untuk memasuknya paham-paham marxis dan komunis di Indonesia. Sampai 32 tahun suharto berkuasa, Muhammadiyah tetap melihat sebagai Ormas islam yang tetap focus pada agenda social praktis yang menyentuh realitas masyarakat tanpa ikut tergoda untuk ‘bermain’ dalam politik praktis. Tetapi mengusung agenda ‘high politik’, bukan ‘low politik’. Walau sesungguhnya banyak kader Muhammadiyah ikut ‘bermain’ dalam politik praktis (bergabung diberbagai partai politik) dan menjadi bagian dari birokrasi negara, Muhammadiyah tidak tergiur untuk meninggalkan khittahnya sebagai gerakan sivil society.
Peran Muhammadiyah bagi Indonesia Masa Depan.
Sebelum diurai lebih jauh tentang arah dan peran Muhammadiyah ke depan, maka perlu kita urai bebrapa hal yang menjadi ganjalan di Muhammadiyah untuk melangkah lebih confiden ke depan, antara lain :
• Menurunnya progresifitas gerakan dakwah akibat lemahnya penafsiran terhadap purifikasi (pemurnian) yang menjadi doktrin inti Muhammadiyah.
• Muhammadiyah selalu terlambat dalam membangun mitos baru terhadap realitas untuk menuntun warganya, sehingga terlalu lama berkutat dengan mitos sinkretis, animis dan TBC. Sementara perlawanan terhadap KKN tidak perlu menjadi mitos di Muhammadiyah.
• Menurunnya gerakan pemikiran (Intelektualisme) di Muhammadiyah yang berakibat serius pada perkembangan amal usahanya. Sehingga akan melemahkan daya antisifasi terhadap perubahan. Dalam hal ini Muhammadiyah tertinggal dalam diskursus teologis, sosiologis, antropologis, maupun perkembangan organisasi.
• Muhammadiyah selalu terlambat merespon wacana pemikiran yang sedang berkembang, misalnya wacana Islam liberal, pluralisme, sosialisme relegius, demokrasi, post modernisme, post tradisionalisme, gender dan lain sebagainya.
• Eforia politik paska revormasi (1998) membawa Muhammadiyah semakin dekat kegaris demarkasi politik praktis. Hampir sebagain warga Muhammadiyah terhanyut dalam eforia politik. Sehingga eksodus pimpinan Muhammadiyah dan Ortom ke parpol menjadi fenomena tersendiri.
Ada beberapa hal yang menjadi catatan penting bagi eksistensi Muhammadiyah kedepan:
• Memacu kembali progresifitas dan mempertajam arah gerakan dengan lebih respon terhadap perubahan dan realitas empirik ummat. Muhammadiyah harus lebih memiliki keperdulian terhadap persoalan kemiskinan, petani, buruh, persoalan social lainnya.
• Perlu dilakukan tafsir ulang terhadap konsep purifikasi (TBC) yang selama ini menjadi doktrin Muhammadiyah. Hal ini dilakukan agar lebih jernih melihat realitas keberagamaan ummat yang histories dan realitas. Sehingga Muhammadiyah tidak tercabut dari akar budaya bangsa masyarakat dan memiliki titik sentuh dengan berbagai lapisan keberagamaan ummat. Dakwah kultural bukan diartikan dengan menghalalkan tradisi sinkretis, animis dan TBC, tetapi tradisi lokal diakomodasi untuk dituntun pada akidah yang digariskan Al-Qur’an dan Sunnah.
• Membangkitkan kembali etos intelektualisme di Muhammadiyah agar lebih tangap terhadap perubahan dan wacana pemikiran yang berkembang. Sehingga agenda aktivisme di Muhammadiyah bersumber dan sejalan dengan etos intelektualisme. Tuntutan umat dan warga terhadap persoalan eologis, sosiologis, politik dan budaya menjadi terpenuhi. Termasuk tafsir pemikiran Muhammadiyah terhadap wacana pemikiran yang berkembang, seperti tafsir terhadap gender, pluralisme, demokrasi, dan HAM. Sehingga nantinya Muhammaiyah memiliki metodologi dalam memahami idealitas maupun realitas empirik umat dengan nalar Muhammadiyah. Tanpa bermaksud latah seperti arkoun dan al-jabiri dengan nalar ‘islam’ dan nalar ‘Arab’nya.
• Muhammadiyah harus tetap konsisten dengan khittah perjuangan untuk tidak terlibat dalam aktivitas politik praktis, sehingga agenda umat tidak terbengkalai, karena disibukkan dengan agenda-agenda politik jangka pendek.
• Muhammadiyah harus selalu memiliki ide-ide kreatif dalam menyikapi berbagai persoalan dan agenda bangsa. Mulai dari persoalan pendidikan, ekonomi, politik, hukum, sosial dan budaya.
Muhammadiyah harus mampu menata diri dan tumbuh menjadi organiasi dengan managerial gerakan yang terkelola secara rapi dan solid.

Kepribadian Muhammadiyah
Tonggak berdirinya Muhammadiyah sesungguhnya dimulai dari pembacaan kritis terhadap realitas disekitar kita, banyaknya ketidak adilan dan kebodohan serta pudarnya pemahaman Islam menggugah Kh. Ahmad dahlan untuk mengupayakan purifikasi dalam mempertahankan ortodoksi ajaran Islam dan berorentasi pada gerakan moral, dakwah, dan sosial. Hal ini ditunjukkan misi “amar ma’ruf nahi mungkar” dan selalu mendasarkan pad ar-ruju’u ila a-Qur’an wa as-sunnah.
Identitas Muhammadiyah sebagai gerakan moral yang berperan sebagai alat rekayasa sosial dari masa kemasa memiliki spirit pembebasan dari belenggu tradisionalisme dan konservatisme yang menggugat kemapanan tradisi. Gerakan Muhammadiyah yang membawa spirit pencerahan di tengah kekolotan tradisi , belenggu kolonialisme dan para penguasa lalim adalah bagian dari identitasnya selain sebagai gerakan sosial yang paham betul akan keadaan bangsa ini.
Dalam wilayah sosial Muhammadiyah telah banyak berperan dalam kesejahteraan dan pengentasan kemiskinan terbukti dengan didirikannya rumah sakit -rumah sakit atau PKU, sedangkan dalam konteks pembangunan pendidikan bangsa Muhammadiyah mampu menunjukkan komitmennya sejak awal melalui pendidikan. Gerakan penididikan yang dilakukan Muhammadiyah ialah wujud komitmen Muhammadiyah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan memberikan pencerahan mental kepada bangsa ini.
Matan Keyakinan Cita-Cita Hidup Muhammdiyah
A. Latar belakang
Matan keyakinan dan cita-cita Hidup Muhammadiyah merupakan satu dari beberapa rumusan resmi persyarikatan yang disahkan atau diptuskan dalm tanwir muhammadiyah Ke-37 tahun 1968 di Yogyakarta dan kemudian diperbaiki dan diubah oleh Pimpinan Pusat Muhammdiyah berdasarkan amanat tanwir tahun 1970.
Perumusan matan dan keyakinan sesungguhnya tidak terlepas keterkaitan antara kondisi bangsa dan internal Muhammadiyah dalam perumusan matan keyaninan dan cita-cita hidup Muhammdiyah, hal yang dirumuskan adalah tentang keyaninan hidupnya, cita-cita, konsepsi, ajaran, fungsi dan misinya, fungsi agama karena rumusan MKCH merupakan rumusan tentang Muhammdiyah yang esensial dan rumusan hal-hal yang berupa prinsip-prinsip yang fundamental.
Untuk dapat melaksankan hidup dan kehidupan yang sesuai dengan keyakinan serta dalam mencapai tujuan yang menjadi cita-cita mutlak diperlukan konsepsi ajaran. Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan berkeyakinan bahwa Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada rasul-Nya sejak Nabi Adam.AS sampai Nabi Muhammad.SAW, dan merupakan rahmat dan hidyah dari Allah.SWT yang diberikan kepada umat manusia sepanjang masa dan menjamin kesejahteraan hidup baik itu materiil dan spiritual maupun duniawi dan ukhrawi.
B. Teks Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah
1. Muhammadiyah adalah gerakan yang berasaskan Islam, bercita-cita dan bekerja untukmewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, untuk melaksanakan fungsi danmisi manusia sebagai hambadan khalifah di muka bumi.
2. Muhammdiyah berkeyaninanbahwa Islam adalah Agama Allah yang diwahyukan kepada rasulnya sejak Nabi Adam AS sampai Nabi Muhammad SAW sebagai hidayah dan rahmat Allah kepada manusia, sepanjang masa dan menjamin kesejahteraan hidup materiil-spirituil dan duniawi -ukhrawi.
3. Muhammadiyah dalam mengamalkan Islam berdasarkan :
• Al-qur’an: kitap Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW
• Sunnah Rasul: Penjelasan dan pelaksanaan ajaran-ajaran Al-Qur’an yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW.
• Dengan menggunakan akal pikiran sesuai dengan ajaran Islam
4. Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam meliputi: Aqidah, Akhlak, Ibadah, Mu’ammalat Duniawiyat
5. Muhammadiyah mengajak segenap lapisan bangsa yang telah mendapat karuniaAllah berupa tanah air yang mempunyai sumber-sumber kekayaan, kemerdekan bansa dan negara Republik Indonesia untuk berusaha bersama-sama menjadikan satu negera adil, makmur dan dirido Allah SWT.
Sistematika dan Pedoman Memahami MKCH Muhammadiyah.
Rumusan matan keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah yang terdapat diatas merupakan rumusan tentang Muhammadiyah secara essensial dan rumusan tersebut terbagi 3 (tiga) kelompok ;
1. Mengandung Pokok-Pokok persoalan yang bersifat ideologis.
a. Asas: Muhammadiyah adalah berasaskan Islam
b. Cita-cita/tujuan: dan bekerja untuk terwujudnya masyarakat utama yang diridloi allah
c. Ajaran yang digunakan berdasarkan keyakinan dan cita-cita hidup yang berasaskan Islam dan dikuatkan oleh hasil penyeledikan ilmia, historis dan sosiologis Muhammadiyah berkeyaninan bahwa ajaran yang dapat dilaksanakan hidup yang sesuai dengan ‘asasnya’ dan perjuangannya sebagimana yang dimaksud dalam (Islam) sanagt perlu adanya rumusan secara konkore sistematis dan menyeluruh tentang konsepsi-konsepsi ajaran Islam yang meliputi aspek hidp dan kehidupan manusia atau masyarakat sebagai isi daripada masyarakat yang sebenar-benarnya.
d. Keyakinan dan cita-cita Muhammadiyah
Persoalan-persoalan pokok keyakinan dan cita-cita Muhammadiyah sebagaimana yang telah diuraikan dengan singkat di atas tidak lepas dari faham yang diyakini oleh Muhammadiyah (Islam). Islam merupakan sumber keyakinan dan hidup Muhammadiyah. Oleh sebag itu faham agama dalam Muhammadiyah adalah yang paling essensial bagi adanya keyakinan dan cita-cita Muhammadiyah.
2. Mengandung Persoalan yang mengenai paham agama menurut Muhammadiyah
Dalam mengamalkan Islam Muhammadiyah tidak bisa lepas dari Al-qu’an dan Assunah, maka muhammadiyah berkeyaninan demi terwujudnya nilai-nilai akhlak (moral) muhammadiyah selalu berpedoman pada Al-qu’an dan as-sunnah.
Sebagimana yang telah diuraikan dengan singkat seperti ditas, bahwa Muhammadiyah berkeyaninan agama Islam adalah agama yang dirurunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya, sejak Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad. SAW yang merupakan Nabi terakhir, maka dari situ agama yang dibawa oleh muhammd itulah yang tetap belaku hingga sekarang dan untuk masa selanjutnya. Dengan akal pikiran progressif dan dinamis mempunyai peranan dan lapangan yang luas, karena pikaran bisa mempertimbangkan seberapa jauh keadaan dan waktu terhadap kesesuaian hukum dalam batas maksud-maksud dan pokok-pokok ajaran Islam, oleh sebab itu Muhammadiyah berpendapat bahwa pintu ijtihad selalu terbuka.
Dengan dasar dan cara memahami seperti diatas, Muhammadiyah berpendirian bahwa ajaran Islam merupakan kesatuan ajaran yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Seperti aqidah, akhlak, ibadah dan mu’amalat. Dimana itu semuanya bertumpu dan mencerminkan kepercayaan tauhid dalam hidup dan kehidupan manusia.
3. Mengandung persoalan mengenai fungsi dan misi Muhammadiyah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
Berdasarkan keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah yang bersumber pada ajaran Islam seperti tersebut diatas, Muhammadiyah menyadari kewajibannya berjuang dan mengajak kepada segenap golongan dan lapisan bangsa untuk mengatur dan membangun dan membangun bangsa ini, sehingga terwujud masyarakat yang adil dan makmur, sejahtera, sebagai baik dari segi materiil maupun spirituil yang diridhoi Allah SWT. Kaena Muhammadiyah adalah persyarikatan yang telah menegaskan bahwa seluruh yang dikerjakan Muhammadiyah dengan amal usanya harus bertumpu pada tujuan akhir yaitu terciptanya masyarakat utama (adil, makmur, sejahatera ) yang diridhoi oleh Allah SWT sehingga seorang muslim yang tergabung dalam Muhammdiyah akan sadar keberadaanya sebagi hamba Allah.
Hidup bermasyarakat bagi manusia adlah sunnnatullah atau dalam istilah umumnya adalah keniscayaan sebagaimana yang telah ditegaskan dalam al-Quran surat hujarat. Keniscayaan manusia selaku makhluk yang bermasyarakat telah disepakati oleh semua disiplin ilmu pengetahuan. Dalam tinjauan filosofis manusia adalah mahkluk tuhan (HOMO Divian), mahluk mandiri yang mempunyai kebebasan (Free Will), sedangkan dilihat dari sifatnya manusia adalah mahluk pribadi (Homo Individualicum) sekaligus mahluk sosial (homo socius) yang oleh Aristotales dinamai dengan Zoon Politicon.
Mangacu pada perkembangan sejarah dan kenyataan bansa Indonesia sempai dewasa ini, semua yag ingin dilaksanakan dan dicapai oleh Muhammadiyah seperti yang terdapat dalam keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah adalah bukan hal yang baru, dan pada hakekatnya adalah sesuatu yagn sangat wajar. Sedangkan pola perjuangan Muhammadiyah dalam melaksanakan dan mencapi cita-cita hidupnya dalam masyarakat. Muhammadiyah dalam melaksanakan dan mencapai cita-cita hidupnya dalam masyarakat. Muhammadiyah menggunanakan dakwah Islam dan proses belajar mengajar berpegang teguh pada amar ma’ruf nahi mungkar.
Dengan dakwah Islam dan amar ma’mur nahi mungkar diharapkan nantinya Muhammadiyah dapat membuktikan secara teoritis konseptual, operasional dan secara riil bahwa ajaran Islam mampu mengatur masyarakat dalam Negara Republik Indonesia yang ber-pancasila dan UUS 1945 menjadi masyarakat yang adil dan makmur serta sejahtera baik materiil maupun immateriil yang diridhoi Allah SWT.

Konsepsi Tauhid Sosial sebagai kepribadian Muhammdiyah.
Kata tauhid dalam Islam dipahami sebagai menunggalkan atau mengesakan Allah. Dalam Islam Tauhid dibagi menjadi dua yaitu tauhid Uluhiyyah dan tauhid Rububiyyah. Tauhid ilahiyyah adalah tauhid menyadarkan kepada kita bahwa Allah adalah eksistensi tunggal. Sedangkan tauhid rubbubiyyah adalah tuhan yang memperhatikan , menyantuni memberi supervisi secara detail artinya sesungguhnya setiap maksluk yang telah diciptakan dalam perhatian dan penanganan Allah SWT. Sedangkan yang dimaksud dengan tauhid sosial adalah dimensi sosial dari Tauhidillah. Ini dimaksudkan agar tauhid Uluhiyyah dan Tauhid Rubbubiyyah yang sudah tertanam dikepala kita kaum Muslimin bisa diturunkan lagi kedalam dataran pergaulan sosial, realitas sosial, secara konkret. Istilah ini tentunya mengacu kepada ajaran Islam yang sangat kental dengan pemberdayaan masyarakat bawah dan keadilan.
Sebagai organisasi Jami’iah (persyarikatan) dan Harakah (gerakan), muhammadiyah memegang teguh tauhid sebagai doktrin sentral. Bendera Muhammadiyah menunjukkan dengan jelas betapa seluruh gerakan dan kehidupan Muhammadiyah harus berdasarkan pada tauhid. Dalam wawasan keagamaan Muhammadiyah, tauhid adalah hal yang paling kunci. Tauhid yang jernih dan benar akan melahirkan kehidupan yang bersih seimbang, adil dan sejahtera. Sebaliknya jika tauhid sudah terkena polusi syirik maka kehidupan umat Islam akan mengalami degradasi dan degenerasi dalam segala bidang.
Namun jangan dilupakan bahwa tauhid juga menuntut ditegakkann nya keadilan sosial, karena dilihat dari kacamata tauhid, setiap gejala eksploitasi manusia atas manusia lainnya adalah pengingkaran terhaedap persamaan derajat manusia di depan Allah, sehingga jurang pemisah kelas (strata) ekonomi kaya, miskin yang disertai dengan terjadinya eksploitasi dan penghisapan merupakan fenomena yang mengingkari nilai-nilai tauhid. K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah bertahun-tahun pada awal berdirinya Muhammadiyah mengajarkan surat Al-ma’un kepada santrinya tidak semata-mata karena pesan-pesan keadilan sosial dari surat Al-ma’un yang belum sepenuhnya dilaksankan oleh kalangan ummat Islam. Tetapi juga karena Kiay Dahlan ingin menanamkan satu pengertian bahwa keadilan sosial, adalah realisasi “tauhid sosial” ditengah masyarakat Indonesia.
Dalam konteks ke-Indonesiaan, disamping harus teguh memegang tauhid aqidah, Muhammadiyah juga mempertajam tahud sosialnya, kondisi Indonesia modern yag tumbuh bersama paham ekonomi kapitalis telah melahirkan fenomena penumpukan kekayaan dan kemakmuran pada pribadi-pribadi tertentu dan penindasan terhadap pribadi lain. Patologi sosial yang terjadi dari sabang sampai merauke menunjukkan bahwa ketidakadilan sosial dan kesenjangan sosial merupakan pemicu utama kekerasan sosial dan disintegrasi bangsa.
Dalam perjalanannya, upaya untuk mengimplementasikan tauhid sosial didukug oleh empat doktrin yang hidup di lingkungan warga Muhammadiyah empat doktrin tersebut adalah:
Pertama, Percerahan Ummat
Para tokoh Muhammadiyah pendahulu tidak pernah bosan mengingatkan masyarakat Islam bahwa ilmu pengetahuan adalah ‘barang’ yang hilang dari kaum muslimin yagn harus direbut kembali dari tangan Barat yang sudah mencapai puncak peradabannya setelah mengalai masa kegelapan Eropa pada abad pertengahan. Seperti halnya Islam juga mengalami masa kegelapan peradaban setelah masa kejayaan pada saat kekuasaan Bani Umayyah di Damaskus dan Bani Abbasiyah di Baghdad.
Proses pencerahan ummat dalam Muhammadiyah dimulai dengan proses pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah dan sarana pendidikan lain sebanyak mungkin dan bukan dengan mendirikan usaha-usaha dagang. Lewat doktrin ‘enligtment’ bagi ummat Islam maka terjadi reduksi terhadap makna ‘santri . Santri dianggap sebagi orang mampu menguasi ilmu pengetahuan agama yang diimbangi dengan pengetahun keduniaan, pengetahuan tentang aqidah-akhlak, tafsir dan faqfi juga harus diimbangi dengan pengetahuan filsafat, kosmologi, engineering, ilmu ekonomi, sosial-politik ideologi dan lain sebagainya.
Kedua, menggembirakan amal shalih.
Doktrin iman tanpa keshalihan sosial ibarat “pohon tanpa buah” sangat dipegang kokoh oleh seluruh warga Muhammadiyah. Dokrin ini berfungsi secara organisasional antara lain adalah untuk mobilisasi, atau dalam bahasa Muhammadiyah untuk menggembirakan amal shalih kolektif.
Ketiga, kerjasama untuk kebaikan
“Berkerjasamalah dalam kebajikan dan taqwa dan janganlah bekerja sama dalam dosa dan permusuhan” (Qur’an 5;2) telah dijadikan doktrin perjuangan Muhammadiyah. Sebagai organisasi dakwah yang berusaha mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menegakkan kebajikan dan mencegah kemungkaran, Muhammadiyah mengimbau para mubaligh untuk dapat bekerjasama dengan semua pihak demi tercapainya tujuan bersama. Di kalangan Muhammadiyah muncul istilah “hanya dengan ‘iblis’ saja Muhammadiyah tidak bisa bekerjasama”.
Keempat, tidak berpolitik praktis.
Dalam mencapai cita-cita perjuangannya untuk membangun masyarakat utama yagn diridhoi oleh Allah SWT. Muhammadiyah menghindari politik praktis. Sepintas sikap Muhammadiyah ini sangat tidak bijak, jika dipahami politik sebagi salah satu akses untuk menjalankan proses dakwah, karena jika setiap sesuatu didukung dan distimulus melalui sebuah keputusan politik maka keputusannya akan mempunyai kekuatan pendorong lebih. Masalahnya, tugas Muhammadiyah adalah membangun masyarakat baik nilai maupun sturktur dalam perspektif jangka panjang, Muhammadiyah tidak ingin mengambil jalan pintas yang belum tentu pasti akan berhasil. Apalagi akses politik yang tidak stabil dan tidak beretika akan berakibat buruk pada masa depan ummat islam. Logika Muhammadiyah adalah dengan membina masyarakat lewat siraman nilai-nilai Islam, Muhammadiyah berarti telah mempersiapkan manusia-manusia yang berakhlak, memegang nilai-nilai dan norma-norma moral secara kuat.
Penutup
Sebagai sebuah organisasi social, Muhammadiyah telah diakui sebagai pilar penting sivil society di Indonesia. Bahkan jika melihat amal usaha Muhammadiyah berupa ratusan Perguruan Tinggi (PTM), ribuan sekolah dan rumah sakit, panti asuhan, perbankan, dll pantaslah jika banyak pemikir Islam dunia menyebut Muhammadiyah sebagai organisasi Islam terbesar di dunia dan menjadi panutan gerakan keagamaan di dunia Islam. Hal ini tentu menjadi kebanggaan sekaligus tantangan bagi kita kader penerus persyarikatan agar langkah Muhammadiyah tidak pernah mandeg.

Filsafat Logika
Definisi dan Urgensi Logika.
Logika dalam filsafat adalah alat atau dasar yang penggunaannya akan menjaga kesalahan dalam berfikir. Lebih jelasnya, Logika adalah sebuah ilmu yang membahas tentang alat dan formula berfikir, sehingga seseorang yang menggunakannya akan selamat dari cara berfikir salah. Manusia sebagai makhluk yang berfikir tidak akan lepas dari berfikir. Namun, saatberfikir, manusia seringkali dipengaruhi oleh berbagai tendensi, emosi, subyektifitas dan lainnya sehingga ia tidak dapat berfikir jernih, logis dan obyektif. Logika merupakan upaya agar seseorang dapat berfikir dengan cara yang benar, tidak keliru. Sebelum kita pelajari masalah-masalah logika, ada baiknya kita mengetahui apa yang dimaksud dengan berfikir. ” Berfikir adalah proses pengungkapan sesuatu yang misterius, majhul atau belum diketahui dengan mengolah pengetahuan-pengetahuan yang telah ada dalam benak kita (dzihn) sehingga yang majhul itu menjadi ma’lum (diketahui).
Faktor-faktor Kesalahan berfikir.
a. Hal-hal yang dijadikan dasar (premis) tidak benar.
b. Susunan atau form yang menyusun premis tidak sesuai dengan kaidah logika yang benar.
Argumentasi (proses berfikir) dalam alam pikiran manusia bagaikan sebuah bangunan. Suatu bangunan akan terbentuk sempurna jika tersususn dari bahan-bahan dan konstruksi bangunan yang sesuai dengan teori-teori yang benar. Apabila salah satu dari dua unsuritu tidak terpenuhi, maka bangunan tersebut tidak akan terbentuk dengan baik dan sempurna. Sebagai missal, “[1] Socrates adalah manusia; dan [2] setiap manusia bertindak zalim; maka [3] Socrates bertindak zalim”. Argumentasi semacam ini benar dari segi susunan formnya. Tetapi, salah satu premisnya salah yaitu premis yang berbunyi, “Setiap manusia bertindak zalim”, maka konklusinya tidak tepat. Atau misal, “[1] Socrates adalah manusia; dan [2] Socrates adalah seorang ilmuwan”, maka “[3] manusia adalah ilmuwan”. Dua premis ini benar tetapi susunan formulanya tidak benar, maka konklusinya tidak benar. (Dalam pembahasan qiyas nanti akan dijelaskan susunan argumentasi yang benar).
Ilmu Pengetahuan.
Para ahli filsafat mendefinisikan ilmu sebagai berikut: Ilmu pengetahuan adalah gambaran tentang sesuatu yang ada dalam benak (akal). Benak atau pikiran kita tidak lepas dari dua kondisi yang kontradiktif, yaitu ilmu dan jahil (ketidak tahuan). Pada saat keluar rumah, kita menyaksikan sebuah bangunan yang megah dan indah, dan pada saat yang sama pula tertanam dalam benak kita gambaran bangunan itu. Kondisi ini disebut jahil. Pada kondisi ilmu, benak atau akal kita kadang hanya :
1) Menghimpun gambaran dari sesuatu saja (bangunan, dalam misal). Terkadang kita hanya menghimpun tetapi juga.
2) Memberikan penilaian atau hukum (juggement), (misalnya, bangunan itu indah dan megah).
Aksiomatis dan Nadzari.
Pembahasan tentang kulli (general) dan ju’i (parsial) secara asensial sangat erat kaitannya dengan tashawwur dan juga aksidental berkaitan berkaitan dengan tashdiq. Kulli adalah tashawwur (gambaran benak) yang dapat diterapkan (berlaku) pada beberapa benda diluar. Misalnya; gambaran tentang manusia dapat diterapkan (berlaku) pada banyak orang; Budi, Novel, Ahamad dan lainnya. Juz’I adalah tashawur yang dapat diterapkan (berlaku) hanya pada satu benda saja. Misalnya; gambaran tentang Budi hanya untuk seseorang yang bernama budi saja. Manusia dalam berkominikasi tentang kehidupan kehidupan sehari-hari menggunakan tashawwur-tashawwur yang juz’i. Misalnya; Saya kemarin ke Jakarta; Adik saya sudah mulai masuk sekolah; Bapak saya sudah pensiun dan sebagainya. Namun, yang dipakai oleh manusia manusia dalam kajian-kajian keilmuan adalah tashawwur-tashawwur kuli, yang sifatnya universal. Seperti, 2 X 2 = 4; Orang yang beriman adalah orang yang bertanggung jawab atas segala perbuaatan; Setiap akibat pasti mempunyai sebab dan lain sebagainya. Dalam ilmu mantig kita akan sering menggunakan kulli (gambaran-gambaran yang universal), dan jarang bersangkutan dengan juz’i.

Nisab Arba’ah.
Dalam benak kita terdapat banyak tashawwur yang bersifat kulli dan setiap yang kulli mempunyai realita (afrad) lebih dari satu. (Lihat definisi kulli). Kemudian antara tashawwur kulli yang satu dengan yang lain mempunyai hubungan (relasi). Ahli mantiq menyebut bentuk hubungan ini sebagai “Nisab Arba’ah”. Mereka menyebutkan bahwa ada empat kategori relasi:
1. Tabayun (diferensi)
2. Tasawi (ekuivalen)
3. Umum wa khusus Mutlag (implikasi) dan
4. Umum wa khusus Minwajhin (assosiasi).
Tabayun adalah dua tashawwur kulli yang masing-masing dari keduanya tidak bisa diterapkan pada seluruh afrad tashawwur kulli yang lain. Dengan kata lain, afrad kulli yang satu tidak mungkin sama dan bersatu dengan afrad kulli yang lain. Misal: tashawwur manusia dan tashawur batu. Kedua tashawwur ini sangatlah berbeda dengan afradnya tidak mungkin sama. Setiap manusia pasti bukan batu dan setiap batu bukan manusia. Tasawi adalah dua tashawwur kulli yang keduanya bisa diterapkan pada afarad kulli yang lain. Misal: tashawwur manusia dan tashawwur berfikir. Artinya setiap manusia dapat berfikirdan setiap yang berfikir adalah manusia. Umum wa khusus mutlak adalah tashaswwur kulli yang satu dapat diterapkan pada seluruh afrad kulli yang lain dan tidak sebaliknya. Missal: tashawwur manusia dan tashawwur hewan. Setiap manusia adalah hewan dan tidak setiap hewan adalah manusia. Afrad tashawwur hewan lebih umum dan lebih luas sehngga mencakup semua afrad tashawwur manusia. Umum wa khusus min wajhin adalah dua tashawwur kulli yang masing-masing dari keduanya dapat diterapkan pada afrad kulli yang laindan sebagian lagi tidak dapat diterapkan. Missal: tashawwur manusia dan tashawwur putih. Kedua tashawwur ini bersatu pada seorang manusia yang putih, tetapi kadang-kadang keduanya berpisah seperti pada orang yang hitam dan pada kapur tulis yang putih.
Hudud dan Ta’rifat
Kita sepakat bahwa masih banyak hal yang belum kita ketahui (majhul). Dan sesuai dengan fitrah kita selalu ingin mengetahui hal-hala yang masih majhul. Pertemuan lalu telah dibahas bahwa manusia mempunyai ilmu dan pengetahuan, baik tashawwuri ataupun tashdiqi. Majhul (jahil) sebagai anonim dari dari ma’lûm (ilmu) , juga terbagi menjadi dua majhul tashawwuri dan majhul tashdiqi. Untuk mengetahui hal-hal majhul tashawwuri kita perlu mengetahui kita membutuhkan ma’lûm tashawwuri. (lihat definisi berpikir. Pencarian majhul tashawwur dinamakan “ha” atau ta’rif. Had ta’rif adalah sebuah jawaban dan keterangan yang didahului pertanyaan “Apa?”. Saat enghadapisesuatu yang belum kita ketahui( (majhul), kita akan segera bertanya “Apa itu?”. Artinya, kta bertanya tentang esensi dan ahkikat sesuatu itu. Jawaban dan keterangan yang diberikan adalah had (definisi) dari sesuatu itu. Oleh karena itu, dalam disiplin ilmu, mendefinisikan sesuatu materi yang akan dibahas penting sekali sebelum membahas lebih lanjut masalah-masalah yang berkaitan dengannya. Perdebatan tentang sesuatu materi akan menjadi sia-sia kalau definisisnya belum jelas dan disepakati. Ilmu mantiq bertugas menunjukkan cara membuat had atau definisi yang benar.
Macam-Macam Definisi (Ta’rif)
Setiap definisi bergantung pada kulli yang digunakan. Ada lima klli yang digunakan untuk mendefinisikan majhul tashawwuri (biasa disebut “kuliyat khamsah”). Lima kulli itu adalah:
1. Nau (spesies)
2. jins (genus)
3. Fashl (diferentia)
4. ‘Aradh’aam (common accidens)
5. ‘Aradh khas (proper accidens)
Pembahasan tentang khuliyat khamsah ini secara detail termasuk pembahasan filsafat, bukan pembahasan mantiq. Had tâm, adalah definisi yang menggunakan jins dan fashl untuk menjelaskan untuk menjelaskan bagian-bagian dari esensi majhul. Misal: apakah manusia itu? Jawabannya dala “hewan yang berpikir (natiq)”. “Hewan” adalah jins manusia dan “Berpikir” adalah fashl manusia. Keduanya dalah bagian dari esensi manusia. Had Nâqish, adalah definisi yang menggunakan ‘ardham’âm, misalnya, “Manusia adalah wujud yang berjalan”, “tegak lurus”, dan “tertawa” bukan bagian esesnsi dari manusia, tetapi hanya bagian dari eksiden. Rasam Nâqish, adalah definisi yang menggunakan ‘ardh’âm, misalnya, “Manusia adalah wujud yang berjalan”.

Preposisi
Sebagaimana yang telah kita ketahui, tashdiq adalah penilaian dan penghukuman atas sesuatu dengan sesuatu yang lain (seperti: gunung itu indah; manusia itu bukan kera dan lain sebagainya). Atas dasar itu, tashdiq berkaitan dengan dua hal: maudhu’ dan mahmul (“gunung” sebagai maudhu’ dan “indah” sebagai mahmul. Gabungan dari sesuatu itu disebut qadhiyyah (preposisi).
Macam-macam Preposisi
Setiap qadhiyyah terdiri dari tiga unsure: 1) mawdhu’, 2) mahmul, dan 3) rabithah (hubungan antara mawdhu’ dan mahmul). Berdasarkan masing-masing unsure itu, qadhiyyah dibagi menjadi beberapa bagian.
Berdasarkan rabithah-nya, qadhiyyah dibagi menjadi dua: hamliyyah (preposisi kategoris) dan syarthiyyah (preposisi hipotesis).
Qodhiyah hamliyyah
Adalah qadhiyyah yang terdiri dari maudhu’,mahmul, dan rabithah. Lebih jelasnya, ketika kita membayangkan sesuatu, lalu kita menilai atau menetyapkan atasnya sesuatu yang lain, maka sesuatu yang pertama disebut mawdhu’ dan sesuatu yang kedua dinamakan mahmul dan yang menyatukan antara keduanya adalah rabithah. Misalnya, “Gunung itu indah”. “Gunung” adalah mawdhu’, “Indah”, adalah mahmul dan “itu” adalah rabithah (Qadhiyyah hamliyyah, proposisi katagorik). Terkadang kita menafikan mahmul dari mawdhu’. Misalnya, “Gunung itu indah”. Yang pertama disebut qadhiyyah hamliyyah mujabah (afirmatif) dan yang kedua disebut qadiyyah hamiliyyah salibah (negative).
Qadhiyyah syarthiyyah .
Terbentuknya dari dua qadhiyyah yang dihubungkan dengan huruf syarat seperti, “jika” dan “setiap kali”. Contoh : jika Tuhan itu banyak, maka bumi akan hancur. “Tuhan itu banyak” adalah qadhiyyahhamliyah; demilian pula “bumi akan hancur” sebuah qadhiyyah hamilah. Kemudian keduanya dihubungkan dengan kata “jika”. Qadhiyyah yang pertama (dalam contoh, Tuhan itu banyak) disebut muqaddam dan qadhiyyah yang kedua (dalam contoh, bumi akan hancur) disebut tali. Qadhiyyah syarthiyyah dibagi menjadi dua: muttasilah dan munfasilah. Qadhiyyah syarthiyyah yang menggabungkan antara dua qadhiyyah seperti contoh diatas disebut muttasilah, yang dimaksud bahwa adanya “keseiringan” dan “kebersamaan” antara dua qadhiyyah. Tetapi qadhiyyah syarthiyyah yang menunjukkan adanya perbedaan dan keterpisahan antara dua qadhiyyah disebut munfasilah, seperti, Bila angka itu genap, maka ia bukan ganjil. Antara angka genap dan angka ganjil tidak mungkin ngumpul.
Qadhiyyah Mahshurah dan Muhmalah.
Pembagian qadhiyyah berdasarkan mawdhu’-nya dibagi menjadi dua: mahshurah dan muhmalah. Mahshurah adalah qadhiyyah yang afrad (realita) mawdhu’-nya ditentukan jumlahnya (kuantitasnya) dengan menggunakan kata “semua” dan “setiap “atau “sebagian” dan “tidak semua”. Contohnyasemua manusia akan mati atau sebagian manusia pintar. Sedangkan dalam muhmalah jumlah afrad mawdhu’-nya tidak ditentukan. Contohnya manusia akan mati, atau manusia itu pintar. Dalam ilmu mantiq, filsafat eksakta dan ilmu pengetahuan lainnya, qadhiyyah yang dipakai adalah qadhiyyah mahshurah. Qadhiyyah mahshurah terkadang kulliyah (proposisi determinative general) dan terrkadang juz’iyyah (proposisis determinative particular) dan qadhiyyah sendiri ada yang mujabah (afirmatif) dan ada yang salibah (negative). Maka qadhiyyah mahshurah mempunyai empat macam:
Mujabah kulliyyah: Setiap manusia adalah hewan.
Salibah kulliyah: Tidak satupun manusia yang berupa batu.
Mujabah juz’iyyah : Sebagian manusia pintar.
Salibah juz’iyyah : Sebagian manusia bukan laki-laki.
Sebenarnya masih banyak lagi pembagian qadhiyyah baik berdasarkan mahmul-nya (qadhiyyah muhassalah dan mu’addlah), atau jihat qadhiyyah ((dharuriyyah, daimah dan mumkinah) dan qadhiyyahu syarthiyyah muttasilah (haqiqiyyah, maani’atul jama’ dan maani’atul khulw). Namun qadhiyyah yang paling banyak dibahas dalam ilmu filsafat, mantiq dan lainnya adalah qadhiyyah mahshurah.
Hukum-hukum Qadhiyyah.
Setelah kita ketahui definisi dan pembagian qadhiyyah, maka pembahasan berikutnya adalah hubungan antara masing-masing dari empat qadhiyyah mahshurah. Pada pembahasan terdahulu telah kita ketahui bahwa terdapat empat macam hubungan antara empat empat tashawwuri kulli:
1. Tabayun.
2. Tasawi
3. Umum wa khusus mutlak
4. Umum wa khusus min wajhin.
Demikian pula terdapat macam hubungan antara masing-masing empat qadhiyyah mahshurah:
1. Tanaqudh.
2. Tadhadd.
3. Dukhul tahta tadhadd.
4. Tadakhul.
Tanaqudh (mutanaqidhain/kontradiktif).
Adalah dua qadhiyyah yang mawdhu’ dan mahmulnya sama, tetapi kuantitas (kam) dan kualitasnya (kaif) berbeda, yakni yang satu kulliyah mujabah dan yang lainnya juz’iyah salibah. Misalnya, “Semua manusia hewan” (Kulliyyah mujabah) dengan “Sebagian manusia bukan hewan”(juz’iyyah salibah). Thadad (kontrariatif) adalah dua qadhiyyah yang sama kuantitasnya (keduanya kulliyyah), tetapi yang satu mujabah dan yang lain salibah.
Misalnya, “Semua manusia dapat berfikir” (kulliyyah mujabah) dengan “Tidak satupun dari manusia dapat berfikir” (kulliyah salibah). Dukhul tahta tadhad (dakhilatain tahta tadhad[interferensif sub-kontrariatif]) adalah dua qadhiyyah yang sama kuantitasnya (keduanya juz’iyyah), tetapi yang satu mujabah dan lainnya salibah.
Misalnya, “Sebagian manusia pintar” (juz’iyyah mujabah) dengan “Sebagian manusia tidak pintar” (juz’iyyah salibah). Tadakhul (mutadakhilatain /interferensif) adalah dua qadhiyyah yang sama kualitasnya tetapi kuantitasnya berbeda. Misalnya , “Semua manusia akan mati” (kulliyyah mujabah) dengan “Sebagian manusia akan mati”(juz’iyyah mujabah) atau “Tidak satupun manusia akan kekal”(kulliyyah salibah) dengan “Sebagian manusia tidak kekal” (juz’iyyah salibah). Dua qadhiyyah ini disebut pula.
Hukum dua qadhiyyah mutanaqidhain (kontradiktif) jika salah satu dari dua qadhiyyah itu benar maka yang lainnya pasti salah. Demikian pula jika yang satu salah, maka yang lainnya benar. Artinya tidak mungkin (mustahil) kedua-duanya benar ataui salah. Dua qadhiyyah biasa dikenal dengan ijtima’ al naqidhain mustahil (kombinasi kontradiktif). Hukum dua qadhiyyah mutadhaddain (kontrariatif), jika salah satu dari dua qadhiyyah itu benar, maka yang lain pasti salah. Tetapi, jika salah satu salah, maka yang lain belum tentu benar. Artinya keduanya tidak mungkin benar, tetapi keduanya mungkin salah.
Hukum dua qadhiyyah dakhalatain tahta tadhad (interferensif sub-kontrariatif), jika salah satu dari dua qadhiyyah itu salah, maka yang lain pasti benar. Tetapi jika yang satu benar, maka yang lain belum tentu salah. Dengan kata lain, dua qadhiyyah itu tidak mungkin salah, tetapi mungkin saja keduanya benar.
Hukum dua qadhiyyah mutadakhilatain (interferensif), berbeda dengan masalah tashawwuri. (Lihat pembahasan tentang nisab arba’ah), Bahwa tashawwur kulli (misalnya, manusia) lebih umum daritashawwur juz’I (missal, Ali). Disini, qadhiyyah kulliyyah lebih khusus dari qadhiyyah juz’iyyah. Artinya, jika qadhiyyah kulliyyah benar, maka qadhiyyah juz’iyyzh pasti benar. Tetapi, jika qadhiyyah juz’iyyah benar, maka qadhiyyah kulliyyah belum tentu benar. Misalnya, jika setiap “A” adalah “B” (qadhiyyah kulliyah), maka pasti “sebagaian A adalah B”. Tetapi, jika “Sebagian A adalah B”, maka belum pasti “Setiap A adalah B”.
Tanaqudh.
Salah satu hukum qadhiyyah yang menjadi dasar semua pembahasan mantiq dan filsafat adalah hukum tanaqudh (hukum kontradiksi). Para ahli mantiq dan filsafat menyebutkan bahwa selain mawdhu’ dan mahmul dua qadhiyyah mutanaqidhain itu harus sama, juga ada beberapa kesamaan dalam kedua qadhiyyah tersebut. Kesamaan itu terletak pada:
1. Kesamaan tempat (makam)
2. Kesamaan waktu (zaman)
3. Kesamaan kondisi (syart)
4. Kesamaan korelasi(idhafah)
5. Kesamaan pada sebagian atau keseluruhan (juz dan kull).
6. Kesamaan dalam potensi dan actual (bil quwwah dan bil fi’li)

Qiyas (Silogisme).
Pembahasan tentang qadhiyyah sebenarnya pendahuluan dari masalah qiyas, sebagaimana pembahasan tentang tashawwur sebagai pendahuluan dari hudud atau ta’rifat. Dan sebenarnya inti pembahasan mantiq adalah hudud dan qiyas.
Qiyas adalah kumpulan dari beberapa qadhiyyah yang berkaitan yang jika benar, maka dengan sendirinya (li dzatihi) akan menghasilkan qadhiyyah yang lainnya (baru). Sebelum kita lebih lanjut membahas tentang qiyas, ada baiknya kita secara sekilas beberapa macam hujjah(argumentasi). Manusia disaat ingin mengetahuib hal-hal yang majhul, maka terdapat tiga cara untuk mengetahuinya.
Pengetahuan dari juz’I ke juz’I yang lainnya. Argumentasi ini sifatnya horizontal, dari sebuah titik yang parsial ke titik yang parsial lainnya Argumentasi ini disebut tamtsil (analogi). Pengetahuan dari juz’i ke kulli atau dengan kata lain, dari khusus ke umum (mengeneralisasi yang parsial). Argumentasi ini bersifat vertical, dan disebut astiqra’ (induksi). Pengetahuan dari kulli ke juz’I, atau dengan kata lain, dari umum kekhusus. Argumentasi ini disebut qioyas (silogisme)
Macam-Macam Qiyas.
Qiyas dibagi menjadi dua, iqtirani (silogisme kategoris) dan istitsna’I (silogisme hipotesis). Sesuai dengan definisi qiyas diatas, satu qadhiyyah atau beberapa qadhiyyah yang tidak dikaitkan antara satu dengan yang lain tidak akn menghasilkan qadhiyyah baru. Jadi untuk memberikan hasil (konklusi) diperlukan beberapa qadhiyyah yang saling berkaitan. Dan itulah yang namanya qiyas.
1. Qiyas Iqtirani.
Qiyas Iqtirani adalah qiyas yang mawdhu’ sdan mahmul natijahnya berada secara terpisah pada dua muqaddimah. Contoh : “Kunci itu besi” dan “Setiap besi akan memuai jika dipanaskan”, maka kunci itu akan memuai jika dipanaskan”. Qiyas ini terdiri dari tiga qadhiyyah, [1]. Kunci itu besi, [2]. Setiap besi akan memuai jika dipanaskan, [3]. Kunci itu akan memuai jika dipanaskan.
Qadhiyyah pertama disebut muqqadimah shugra (premis minor), qadhiyyah kedua disebut muqaddimah kubro (premis mayor) dan yang ketiga adalah natijah (konklusi).
Natijah merupakan gabungan dari nawdhu’ dan mahmul yang sudah tercantum 0pada dua muqaddimmah, yakni, “Kunci” (mawdhu’) dan “akan memuai jika dipanaskan” (mahmul). Sedangkan “Besi” sebagai had awshat. Yang paling berperan dalam qiyas adalah penghubung antara mawdhu’ muqaddimah shugra dengan mahmul muqaddimah kubro. Penghubung itu disebut had awsath harus berada pada kedua muqaddimah (shugra dan kubra) tetapi tidak tercantum dalam natijah. (lihat contoh,pen).

Empat bentuk qiyas Iqtirani.
Qiyas Iqtirani kalau dilihat dari letak kedudukan had awsath-nya pada muqaddimah shugra dan qubra mempunyai empat bentuk:
1) Syakl Awwal, adalah Qiyas yang had awsath-nya menjadi mahmul pada muqaddimah shugra dan menjadi mawdu’ pada muqaddimah kubra. Misalnya, “Setiap Nabi itu Makshum”, dan “Setiap orang makshum adalah teladan yang baik”, maka “Setiap nabi adalah teladan yang baik”. “Makshum” adalah had awsath, yang menjadi mahmul pada muqaddimah shugra dan menjadi mawdhu’ pada muqaddimah kubra. Syarat-syarat syakl awwal.
Syakl awwal akan menghasilkan natijah yang badihi (jelas dan pasti) jika memenuhi dua syarat berikut ini: “Muqaddimah shugra harus mujabah, Muqaddimah kubra harus kulliyah.
2) Syakl kedua, adalah Qiyas yang had awsath-nya menjadi mahmul pada kedua muqaddimah-nya. Misalnya, “Setiap nabi makshum”, dan “Tidak satupun pendosa itu makshum”, maka “Tidak satupun dari nabi pendosa”.
Syarat-syarat syakl kedua: Kedua muqaddimah harus berbeda dalam kualitasnya (kaif, yakni mujabah dan salibah). Muqaddimah kubra harus kulliyah.
3) Syakl Ketiga, adalah Qiyas yang had awsath-nya menjadi mawdhu’ pada kedua muqaddimahnya. Misalnya, “Setiap nabi makshum”, dan “Sebagian nabi adalah iman”, maka “Sebagian orang makshum adalah iman”.
Syarat-syarat syakl ketiga. Muqaddimah sughra harus mujabah. Salah satu dari kedua muqaddimah harus kulliyyah.
4) Syakl Keempat, adalah Qiyas yang had aswath-nya menjadi mawdhu’ pada muqaddimah sughra dan menjadi mahmul pada muqaddimah kubra (kebalikan dari msyakl awwal).
Syarat-syarat syakl keempat: Kedua muqaddimah harus mujabah. Muqaddimah sughra harus kulliyyah atau kedua muqaddimahnya harus berbeda kualitasnya (kaif). Salah satu dari keduanya harus kulliyyah.
Catatan menurut para mantiqiyyin, bentuk qiyas iqtirani yang badihi (jelas sekali) adalah yang pertama sedangkan yang kedua dan ketiga membutuhkan pemikiran. Adapun yang keempatsangat sulit diterima oleh pikiran. Oleh karena itu Aristoles sebagai penyusun mantiq yang pertama tidak mencantum bentuk yang keempat.

2. Qiyas Istitsna’i.
Berbeda dengan qiyas iqtirani, qiyas ini terbentuk dari qadhiyyah syarthiyyah dan qadhiyyah hamliyyah. Misalnya, “Jika Muhammad itu utusan Allah, maka dia mempunyai mukjizat. Oleh karena dia mempunyai mukjizat, berarti dia utusan Allah”. Penjelasannya: “Jika Muhammad itu utusan Allah, maka dia mempunyai mukjizat”, adalah adalah qadhiyyah syarthiyyah yang terdiri dari muqaddam dan tali (lihat definisi qadhiyyah syarthiyyah). Dan, “Dia mempunyai mukjizat” adalah qadhiyyah hamliyyah. Sedangkan, “Maka dia mempunyai mukjizat” adalah natijah. Dinamakan ististna’I karena terdapat kata, “tetapi”, atau “oleh karena”. Macam-macam Qiyas Ististna’I (silogisme) ada empat macam qiyas ististna’i: Muqaddam positif dan tali positif. Misalnya, “Jika Muhammad utusan Allah, maka dia mempunyai muljizat. Tetapi Muhammad mempunyai mukjizat berarti. “Dia utusan Allah”.
Muqaddam negative dan tali positif. Misalnya, “Jiak Tuhan itu tidak satu, maka bumi ini akan hancur. Tetapi bumi tidak hancur, berarti Tuhan satu (tidak tidak satu)”. Tali negative dan muqaddam negative. Misalnya, “Jika Muhammad bukan nabi, maka dia tidak mempunyai mukjizat. Tetapi dia mempunyai mukjizat, berarti dia Nabi (bukan bukan Nabi)”. Tali negative dan muqaddam positif . Misalnya, “Jika Fir’aun itu Tuhan, maka dia tidak akan binasa. Tetapi dia binasa, berarti dia itu bukan Tuhan”.
Sesat pikir.
Kekeliruan penalaran yang disebabkan oleh pengambilan kesimpulan yang tidak sahih dengan melanggar ketentuan-ketentuan logika atau sususnan dan penggunaan bahasa serta penekanan kata yang secara sengaja/tidak telah menyebabkan pertautan gagasan yang tidak tepat.
• Sesat pikir karena bahasa yaitu kesalahan yang terjadi karena salah memahami bahasa.
• Sesat pikir formal yaitu terjadi karena pelanggaran terhadap bentuk penalaran formal.
• Sesat pikir material yaitu terjadi karena kesalahan isi penalaran itu sendiri.
Referensi:
1. Makalah Ust. Husein Al-Kaff dalam Kuliah logika, “Pengantar Menuju Filsafat Islam”, di Yayasan Pendidikan Isalam Al-Jawad pada tanggal 25 Oktober- 1 November 1999 M.
2. Lois O. Kattsoff, “Elements of philosophy”, penerbit the rolanld press company New York.
3. Jan Hendrik Rapar, “Pengantar Logika”, Kanisius Press.

Gerakan Mahasiswa
Dalam setiap segmen sejarah bangsa Indonesia, mahasiswa selalu menempati peran penting. Bahkan bisa dikatakan Mahasiswa merupakan kunci dari perubahan itu sendiri. Menyimak dokemen sejarah, kita dapat menemukan peran kaum muda mahasiswa dalam merubah arah bangsa dengan melawan imperialisme pada era pra kemerdekaan dan menumbangkan rezim yang represif, korup, otoriter, serta ketidakadilan lainnya yang dipertontonkan pada era orde lama, orde baru, dan orde reformasi. Keterlibatan sebagai aktor dominan terlihat jelas pada saat lahirnya angkatan 1908 ditandai lahirnya Budi utomo oleh mahasiswa Stovia Jakarta. Pada tahun 1928 kaum muda mahasiswa kembali memelopori lahirnya sumpah pemuda, sebuah pilar penting perjuangan kemerdekaan.
Fase selanjutnya mencatatkan peran mahasiswa dalam revolusi fisik 1945 dengan membentuk para militer yang terlibat dalam banyak pertempuran pada decade 1945 hingga 1950. Setelah berakhirnya kolonialisme asing, tahun 1966 mahasiswa kembali memelopori gerakan menumbangkan orde lama sebagi wujud penolakan atas otoritarianisme dan kediktatoran rezim Soekarno. Gerakan mahasiswa tahun 1966-lerlepas dari fakta histories yang ditumpangi oleh militer (soeharto) tetaplah dicatat sejarah sebagai gerakan revolusioner mahasiswa dalam sejarah bangsa-bangsa.
Pasca kekuasaan militeristik soeharto selama 32 tahun, mahasiswa lagi-lagi memulai gerakan demokratisasi dan penumbangan rezim orde baru. Masih segar dalam ingatan kita ketika ribuan massa mahasiswa dan rakyat menyerbu gedung DPR/MPR dan menuntut diturunkannya Soeharto dari kekuasaan. Gerakan ini merupakan puncak dari beberapa fase penolakan mahasiswa atas kekuasaan otoritarian orde baru sejak 1974 (malari), 1978, dan 1990an. Paparan historis di atas merujuk bukti otentik akan peran kelompok intelektual ini merespon kondisi masyarakat dan bangsa yang membutuhkan perubahan. Sejarah telah mencatat perjuangan Mahasiswa di Indonesia yang hingga hari ini tidak pernah diam bersama buku dan kampusnya dengan mimpi-mimpi kemapanan. Mahasiswa terus berjuang dan bergerak sebagai kekuatan control atas pemerintah untuk kepentingan rakyat.
Sejarah dunia juga mencatat peran besar mahasiswa sebagai prime mover terjadinya perubahan politik dan budaya pada suatu negara. Secara empirik kekuatan mahasiswa terbukti dalam serangkaian peristiwa, penggulingan diktator Juan Peron di Argentina 1955, Perex Jimerez di Venezuela 1958, Ayub Khan di Pakistan 1969, Reza Pahlevi di Iran 1979, dll. Akan tetapi sebagian besar peristiwa penggulingan kekuasaan bukan monopoli gerakan mahasiswa sampai akhirnya tercipta gerakan revolusioner. Namun gerakan Mahasiswa lewat aksi mereka yang bersifat politis telah terbukti menjadi katalisatpr yang sangat penting bagi penciptaan gerakan rakyat dalam menentang tirani.

Peran Pokok Mahasiswa dalam dinamika Bangsa.
Seperti dikatakan diatas, mahasiswa memiliki peran penting dalam perubahan social (social change) dan dinamika masyarakat. Mahasiswa sebagai kaum middle memiliki peran sebagai agen perubahan (agent of change), tranformasi, dan kontrol atas kekuasaan rezim. Mahasiswa merupakan jembatan pembangunan ideologi perjuangan rakyat dalam menciptakan kehidupan yang adil dan sejahtera. Namun peran apa pun yang dimiliki ini harus dibingkai sebagai peran moral dan merupakan implementasi dari gerakan idealisme kaum menengah. Secara fungsional mahasiswa lebih tepat jika disebut sebagai words dog of the government, yang setiap saat akan selalu mengingatkan dan menyadarkan penguasa, partai politik, militer, dan infrastruktur negara yang lupa diri.
Dalam bingkai moral peran mahasiswa tanpa tendensi dan tanpa pamrih, sehingga cita-cita penegakan kebenaran tidak ditunggangi oleh kepentingan tertentu. Arif Budiman pernah menganalogikan gerakan mahasiswa tersebut seperti seorang cowboy yang selalu saja muncul dan turun tangan ketika kejahatan merajalela dalam suatu daerah, dan ia akan meninggalkan daerah tersebut apabila kejahatan telah sirna tanpa peduli dengan jabatan Sheerif yang sedang dipersiapkan oleh masyarakat sebagai penghargaan (dalam Arbi Sanit, 1999).
Apa yang melandasi gerakan mahasiswa adalah kesadaran atas realitas yang ada. Bagi mereka kesadaran adalah hukuman yang paling berat yang diberikan oleh Tuhan. Ketika kelaparan dan kesenjangan social, penyalahgunaan kekuasaan (Power Abuse), dan perampasan hak-hak rakyat berlangsung, pada saat itulah mahasiswa turun membasmi bandit-bandit rakyat. Kesadaran ini lah yang menjadi ukuran siapa mahasiswa dan bandit-bandit bermuka mahasiswa.
Misi Suci Mahasiswa.
Kiranya cukup jelas dalam memori kita gerakan Mei 1998 ketika ribuan mahasiswa dari berbagai kampus dan organisasi turun ke jalan menuntut turunnya Soeharto. Beberapa tahun kemudian, di awal tahun 2002 gemuruh aksi menentang kenaikan BBM, TDL dan tarif telepon menjadi catatan paling terakhir gerakan mahasiswa di Indonesia secara nasional, itulah ulah mahasiswa yang identik dengan demontrasi. Namun demontrasi ini bukanlah aksi reaksioner tetapi merupakan gerakan respon atas kebijakan pemerintah yang menindas rakyat miskin. Gerakan ini merupakan manifestasi penolakan terhadap segala penindasan.
Mahasiswa sebagai kekuatan moral hanya tunduk dan patuh pada kebenaran dan keadilan. Hal inilah yang akhirnya melahirkan gerakan perubahan yang luhur dan sejati serta mampu melahirkan kondisi lingkungan sosial yang progresif dan revolusioner. Sebagai kekuatan control (agent of control) mahasiswa menempatkan diri sebagai kekuatan oposisi ekstra parlementer yang menghadirkan mekanisme ceck and balance sebagai kendali atas pemerintah yang ada. Dalam posisi ini mahasiswa nsicaya menggembleng diri dalam konstalasi gerakan yang dinamis dan berbenturan dengan kekuasaan. Maka jiwa kritis dan progresif gerakan harus ditumbuhkan pada setiap tingkah laku dan pola fikir. Dalam pergerakannya mahasiswa perlu mengatur pola dan metode gerakannya. Untuk membangun perubahan yang konstruktif mahasiswa perlu mengatur stamina gerakan protes yang simultan dan terarah.
Bila kita mengamati gerakan mahasiswa maka mereka sangat pantas disebut sebagai pelanjut risalah prophetic (misi kenabian). Sebuah misi mulia untuk tegakkan kebenaran. Tugas yang membutuhkan sebuah jawaban konkrit tidak bertele-tele. Tidak katakan tidak, benar katakan benar. Karena itu mahasiswa identik dengan gagasan ideopraksis. Atau bahasa lainnya meminjam istilah Kuntowijoyo dari kontemplasi menuju aksi.
Tugas Politik Mahasiswa
Tugas mahasiswa yang semakin berat, memaksa mahasiswa untuk bertindak lebih tegas dan berani. Mahasiswa harus melakukan gerakan control terhadap partai politik yang sudah menjadi ajang apresiasi politik rakyat. Partai politik yang ada sering kali mengeksploitasi kepentingan rakyat dengan alasan perjuangan kaum tertindas dsb. Tidak jarang rakyat yang tidak tau apa-apa hanya diam dalam ketertindasan dan ekploitasi demi elit politik yang sebenarnya korup dan lalim.
Seperti kita ketahui sisa-sia orde baru kembali mencoba merebut kendali atas negeri dan bangsa ini. Mereka berenkarnasi menjadi wajah baru namun – pasti – tetap dengan paradigma lama. Begitu pula dengan rezim reformasi yang penuh dengan reformis gadungan, mereka terbukti tak ubahnya dengqn rezim terdahulu karena sama-sama menindas rakyat, meski dengan modus dan takaran yang berbeda. Ironisnya, realitas gerakan mahasiswa cenderung mengalami reduksi dengan banyaknya elit mahasiswa yang melakukan afiliasi politik di parpol tertentu. Padahalmahasiswa harus memiliki komitment untuk meminimalisir penggunaan legitimasi politik oleh parpol yang bersifat abstract oriented dan tidak berpihak pada rakyat. Mahasiswa harus tetap memposisikan diri sebagai kaum intelektual dan agent of change dengan melakukan kontrol secara berkelanjutan sehingga bersifat transformative sebagai gerakan oposisi.
Epilog.
Dalam pola gerakannya, mahasiswa senantiasa berporos pada gerakan moral dan gerakan politik moral. Namun dalam setiap diskursus gerakan mahasiswa pada wilayah lain yang sering terlupa yaitu gerakan intelektual dan gerakan kultural. Karena tak ada gerakan tanpa pembacaan ideologis, dan tak akan ada pembacaan ideologis jika tanpa diskursus & pewacanaan intelektual. Gerakan mahasiswa dapat terfocus pada aksi turun ke jalan, sosial kemasyarakatan, dokumentasi intelektual, sebagai pilihan-pilihan gerakan. Kesemuanya merupakan langgam kerja kader berupa ; baca, diskusi dan aksi. Semuanya berkaitan satu sama lain, sebagai metodologi kerja-kerja intelektual pencerahan (intelektual organik).

Kepemimpinan
Pendahuluan.
Salah satu alasan berdirinya organisasi mahasiswa atau pemuda adalah sebagai sarana pengembangan kader-kader pemimpin bangsa yang tangguh untuk menyongsong masa depan. Karena itu masalah pemimpin (leader) dan kepemimpinan (leadership) selalu mendapat porsi yang strategis dalam setiap gerak dan dinamika organisasi-organisasi tersebut.
Menilik dari catatan sosio-historis perkembangan organisasi mahasiswa/pemuda di Indonesia, setiap fase sejak era kolonialisme, awal kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan telah banyak melahirkan kader-kader pemimpin bangsa, terlepas dari pasang surut yang dialami pada setiap fase sebagai respon terhadap perubahan social yang terjadi di masyarakat. Fenomena kepemimpinan secara alamiah memang akan menjadi semakin kompleks kalau dihadapkan pada realitas sosial kehidupan masyarakat yang semakin diwarnai oleh kompetisi dan konflik.
Kondisi obyektif masyarakat Indonesia yang sangat plural dan memiliki tingkat pemilahan sosial (social cleavage) yang tinggi serta relatif masih rendahnya mobilitas sosial menuntut kualifikasi kepemimpinan yang cukup tinggi sebagai syarat bagi seseorang untuk menjadi pemimpin (Gaffar,1990). Mempersiapkan calon pemimpinan bangsa di masa depan (kasus Sekolah Taman Madya Taruna Nusantara) yang mencoba mengkombinasikan konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara dan semi militer. Pro dan kontra terhadap efektifitas lembaga semacam ini terus bermunculan. Tetapi secara rasional dalam realitas pola rekruitment kepemimpinan yang relatif tertutup selama beberapa fase akhirnya melahirkan pemimpin yang diragukan kemampuannya dalam pencapaian tujuan.
Saat ini bangsa Indonesia masih menyisakan multi krisis yang demikian kompleks. Padahal beberapa negara yang juga mengalami krisis pada beberapa tahun yang lalu telah mampu keluar dari lingkaran. Hal ini tentu saja dikarenakan adanya kebijakan dan kekompakan dari elit politik yang berperan dalam mengambil kebijakan. Sedangkan di Indonesia, krisis tidak kunjung selesai dan bahkan ada kecenderungan meningkat serta mengarah pada disintregasi bangsa yang merupakan imbas betapa tidak mampunya pemimpin kita saat ini. Maka tidak salah jika forum “45 mengidentifikasi bahwa krisis bangsa Indonesia adalah akibat krisis kepemimpinan, baik yang di eksekutif maupun legislatif.
Definisi Kepemimpinan.
Kepemimpinan menurut Mac Gregor (Gaffar,1990) tidak lain adalah, “Kemampuan untuk memobilisasi dan mengelola sejumlah sumber daya dalam rangka mencapai tujuan yang sudah ditentukan”. George R Terry mendefinisikan kepemimpinan sebagai aktivitas mempengaruhi orang-orang untuk mencapai tujuan kelompok secara suka rela. Dari berbagai definisi tentang kepemimpinan yang berkembang saat ini, disepakati bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktifitas seseorang atau kelompok orang untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa proses kepemimpinan adalah fungsi pemimpin, pengikut dan variable situsional lainnya (Hersey and Blanchard,1986).
Definisi tersebut tidak menekankan pada suatu jenis organisasi tertentu. Dalam situasi apapun dimana seseorang berusaha mempengaruhi perilaku orang lain atau kelompok, maka sedang berlangsung proses kepemimpinan. Dengan demikian, setiap orang melakukan proses kepemimpinan dari waktu ke waktu, apakah aktifitasnya dipusatkan pada dunia usaha, lembaga pendidikan, organisasi, atau keluarga.
Apabila di dalamnya disebutkan ada pemimpin dan pengikut, bukan berarti bahwa hubungan hirarkis antara atasan dan bawahan akan menjadi titik tekan dalam pembahasan ini. Setiap saat seseorang berusaha mempengaruhi perilaku orang lain, maka orang itu adalah pemimpin potensial, dan orang yang dipengaruhi adalah pengikut potensial, tidak jadi soal apakah itu atasan, rekan sejawat, bawahan, kawan maupun sanak keluarga. Pemimpin dalam konteks ini adalah orang yang mampu mempengaruhi orang lain dan yang memiliki otoritas manajerial. Ia dapat ditunjuk atau muncul dari suatu kelompok dan kemampuannya dalam mempengaruhi orang lain.
Karena kekuasaan (power) adalah inti dari kepemimpinan, maka sumber-sumber kekuasaan juga menjadi penting. Amitai Etzioni membagi sumber kekuasaan menjadi kekuasaan posisi (position power) dan kuasa pribadi (personal power). Perbedaan ini berkembang dan konsep tentang kekuasaan sebagai kemampuan untuk menimbulkan atau mempengaruhi perilaku (Hersey and Blanchard, 1986). Sumber-sumber kekuasaan dibagi menjadi lima dimensi sebagai berikut:
a) Kekuasaan karena kedudukan/jabatan (kekuasaan legitimasi)
b) Kekuasaan karena kualitas pribadi yang menimbulkan rasa hormat/segan (kekuasaan pribadi).
c) Kekuasaan karena kemampuan memberi atau mencabut anugerah yang bernilai tinggi (kekuasaan berlian).
d) Kekuasaan karena kemampuan menjatuhkan hukuman atau menimbulkan keadaan yang tidak disenangi (kekuasaan paksaan).
e) Kekuasaan karena kemampuan intelektual/keahlian/ketrampilan atau memiliki sesuatu yang berharga (kekuasaan pengetahuan).
Adapun unsur pengikut juga mendapat perhatian dalam kepemimpinan. Secara formal pemimpin dan pengikut dapat dibedakan, namun belum tentu dalam praktek pemimpin formal yang berpengaruh, bisa saja pemimpin informal justru dipengaruhi pengikut. Adapun empat golongan pengikut sebagi berikut:
1) Pengikut konstruktif, yaitu pengikut yang patuh kepada pemimpin tetapi kritis dalam memberi saran-saran apabila dirasa perlu untuk pencapaian tujuan.
2) Pengikut subversif, yaitu pengikut yang egois, tidak loyal, musuh dalam selimut, dimana kepatuhannya hanya untuk tujuan-tujuan tertentu pribadinya.
3) Pengikut rutin, yaitu pengikut yang asal patuh saja, pasif dan tanpa berfikir.
4) Pengikut fanatik, yaitu pengikut yang cenderung memuja serta membangun kultus individu terhadap pemimpin.
Pendekatan dan Model-Model Kepemimpinan
Jika kita mengamati perilaku kepemimpinan, maka kita dapat membaginya menjadi tiga bagian pendekatan (adair,1994). Yaitu:
a. Pendekatan Situasional terhadap Kepemimpinan
Pendekatan ini merupakan pendekatan tradisionalis. Dalam pendekatan ini disebutkan bahwa orang dapat tampil menjadi pemimpin dalam sebuah kelompok karena memiliki cirri-ciri tertentu, tetapi tidak memfokuskan pada kemampuan atau potensi kepemimpinan yang dimiliki. Walaupun banyak ditolak oleh kebanyakan ilmuwan karena berdasarkan penelitian melanggar demokrasi, namun tetap disepakati bahwa pemimpin memang memiliki kualitas tertentu yang diharapkan oleh kelompoknya. Sehingga ia sekaligus sebagai cermin kelompoknya.
b. Pendekatan Kelompok
Pendekatan ini memandang kepemimpinan menurut fungsi yang memenuhi kebutuhan kelompok, yaitu apa yang harus dilakukan. Di sini terjadi interaksi antara tiga variable penting, yakni: pemimpin yang berkaitan dengan kualitas, kepribadian dan watak, kemudian situasi penunjang, dan berkaitan dengan pengikut dan kebutuhannya.
c. Pendekatan fungsional.
Pada bagian ini pendekatan mempertimbangkan fungsi-fungsi kepemimpinan sebagai variable yang penting. Misalnya keikutsertaannya dalam pengambilan keputusan, konsistensi dan fleksibilitas (kualitas), level kepemimpinan, dan nilai-nilai yang dianut sebagai indikator kualitas kepemimpinan dan penerapannya.
Berbagai pendekatan yang telah diuraikan diatas dapat dikonfirmasi secara teoritik dengan teori perilaku kepemimpinan yang berkembang sampai saat ini, diantaranya:
a) Model Fiedler, menyatakan bahwa kelompok-kelompok yang efektif tergantung pada kecoccokan antara gaya interaksi seorang pemimpin dengan anak buah serta sejauh mana situasi memberi kendali dan pengaruh pada pemimpin itu. Menurut model ini, ada tiga factor yang menentukan efektifitas kepemimpinan, yaitu:
1. Hubungan Pemimpin-Anggota, yaitu tingkat kepercayaan, keyakinan dan rasa hormat anak buah terhadap pemimpin mereka (baik atau buruk).
2. Struktur tugas, sejauh mana formalitas tugas-tugas yang dipandang secara prosedural (tinggi atau rendah).
3. Kekuasaan posisi, tingkat pengaruh yang dimiliki pemimpin berdasar kekuasaannya seperti memerintah, memecat, menertibkan, mengangkat dan sebagainya (kuat atau lemah)
b) Model Alur Tujuan, Bahwa tingkah laku pimpinan itu dapat diterima bawahan sejauh mereka menganggap sebagai sumber kepuasan, entah langsung atau masa depan. Pada model ini ada empat perilaku pemimpin, yaitu:
• Pemimpin yang direktif, membiarkan bawahannya mengetahui apa yang diharapkan dari diri mereka, menjadwal pekerjaan sebagai mana mestinya dilakukan, memberi bimbingan spesifik dalam menyelesaikan tugas.
• Pemimpin yang suportif, bersikap bersahabat dan menunjukkan perhatian terhadap kebutuhan bawahan.
• Pemimpin yang partisipatif, memberikan kesempatan bawahan dalam memberikan saran dan kritik (berunding) sebelum membuat keputusan.
• Pemimpin yang berorientasi prestasi, mematok tujuan-tujuan mendatang dan mengharapkan bawahan bekerja pada tingkat tinggi (maksimal).
c) Model Partisipasi Pemimpin, menurut Victor Vroom dan Phillip Yetton model ini menggambarkan hubungan perilaku pemimpin dan pembuat keputusan.
Beberapa model kepemimpinan diatas dapat dikelompokkan sebagai bagian dari teori kontingensi. Sedangkan beberapa pandangan kepemimpinan yang lebih dapat diterapkan, meliputi:
1. Teori Atribusi Kepemimpinan, dalam konsep ini kepemimpinan sekedar atribut yang dibuat orang mengenai individu dan lain. Misalnya, kecenderungan orang mencirikan pemimpin memiliki karakterristik, kecerdasan, keterampilan, dan lain-lain.
2. Teori Kepemimpinan Karismatik, pengikut cenderung membuat atribusi-atribusi kepemimpinan yang heroik atau luar biasa. Karakteristiknya meliputi keyakinan, visi, dan ideology. Mengartikulasikan keyakinan kuat terhadap visi, perilaku yang lain dari biasa, penampilan terhadap kepekaan lingkungan.
3. Teori Kepemimpinan Visioner, yaitu kemampuan untuk mencandra, menciptakan dan menegaskan suatu visi yang realistis, dapat dipercaya dan menarik menangani masa depan sebuah organisasi yang ada sekarang. Kepemimpinan model ini sekarang ini banyak diperbincangkan sebagai syarat yang harus dimiliki pemimpin organisasi demi menjawab tantangan masa depan. Tiga sifat yang harus dimiliki pemimpin Visioner adalah :(1) emampuan untuk menjelaskan visi kepada oprang lain (komunikator yang baik); (2) Kampuan-kemampuan untuk menafsirkan visi dalam perilaku (mengaktualisaikan); (3) Kemampuan untuk memperluas atau menerapkan visi pada berbagi konteks kepemimpinan.
4. Teori Kepemimpinan Transaksional, adalah kepemimpinan yang membimbing dan memotivasi pengikut-pengikut mereka dalam arah tujuan yang sudah ditetapkan dengan cara menjelaskan persyaratan peran dan tugas. Model Fiedler, Alur-tujuan, dan partisipasi pemimpin termasuk dalam tipe ini.
5. Teori Kepemimpinan Transformasional, adalah kepemimpinan yang memberikan pertimbangan yang tersendiri, rangsangan intelektual dan memiliki kharisma. Kepemimpinan yang memperhatikan perkembangan masing-masing pengikut dan selalu memandu menuju perbaikan.
Kepemimpinan dapat juga diklasifikasikan berdasarkan atas kecenderungan dalam memimpin. Dari kecenderungan dalam memimpin tersebut, kemudian dibagi lima tipe kepemimpinan, yaitu:
a) Teori Otokratik, yakni pemimpin yang bersifat egois sehingga parameter yang dipakai dalam mengukur organisasi sangat subyektif. Selain itu, secara metode jenis-jenis perilaku loyalitas bawahan adalah kesetiaan pada dirinya. Dan dominasi peribadi terhadap kebijakan sangat kentara\menonjol.
b) Tipe Paternalistik, yakni pemimpin yang dimunculkan karena sifat keteladanan sehingga difigurkan.
c) Tipe Kharismatik, yakni kepemimpinan yang dimunculkan oleh seseorang yang diangap memiliki kemampuan yang tidak bisa dimiliki oleh masyrakat biasa dan terkadang orang yang dipimpin tidak mengetahui alasan secara logis mengapa demikian.
d) Tipe Laised Faire, yakni pemimpin yang mengangap bahwa organisasi dapat berjalan dengan sendirinya walau tanpa melalui bentuk manajemen yang baik. Dan biasanya tingkat intervensi pemimpin kepada bawahan sangat rendah.
e) Tipe Demokratik, yakni kepemimpinan yang menempatkan pemimpin dalam organisasi sebagai seorang koordinator, tetapi juga menempatkan diri sebagi mediator/fasilitator sehingga gerak dan langkah organisasi menggunakan pendekatan holistik dan intregralistik.
Kualitas Kepemimpinan.
Ukuran kualitas dari kepemimpinan adalah sejauh mana efektifitas seorang manajer menjalankan fungsi-fungsi kepemimpinannya. Efektifitas kepemimpinan itu tidak diukur dari sekedar mencapai keberhasilan tertentu. Faktor keberhasilan kepemimpinan biasanya mengutamakan kuasa posisi dan supervisi yang ketat. Pra syarat yang harus dipunyai dari kepemimpinan yang berkualitas adalah: Kecerdasan, pendidikan, keterampilan, dan daya andal dalam melakukan tanggung jawab, stabilitas emosi, ketegasan, obyektivitas dan kerja sama yang sinergis sebagai kekuatan progresif. Namun yang tidak kalah pentingnya adalah kepribadian yang tersirat dalam kepemimpinan karena menyangkut watak dan integritas moral yang dimiliki. Hal tersebut merupakan modal dalam membangun budaya kepercayaan & kredibilitas. Dan keberadaan kepercayaan ini harus didukung oleh:
• Integritas : Keterampilan dan kelugasan.
• Kompetensi : Keterampilan dan pengetahuan teknis antar pribadi.
• Loyalitas : Kesetiaan dan kesediaan melindungi/menyelamatkan.
• Keterbukaan : Kesediaan berbagi ide secara bebas dan terbuka.
Dari berbagai uraian tentang aspek-aspek kepemimpinan diatas sangat memberikan suatu pelajaran yang penting. Apalagi bila kita lihat situasi dan arah perkembangan masalah kepemimpinan di Indonesia di masa mendatang. Kompleksitas persoalan yang kita hadapi dengan kepemimpinan yang mempunyai visi kedepan sekaligus mempunyai kemampuan transformasi yang progresif sehingga diharapkan terwujud kepemimpinan yang terbuka dan demokratis.

Manajemen Organisasi
Pendahuluan.
Sosialisasi manusia pada suatu saat akan tergugah ketika ia tidak mampu mencapai tujuannya sendiri atau ia melihat bahwa orang lain memiliki tujuan yang sama dengan dirinya. Berdasarkan persamaan-persamaan itu, kemudian mereka membentuk kelompok-kelompok dengan menggabungkan sumber daya yang mereka miliki. Pada tahap ini prosesnya masih alami. Ternyata penggabungan sumber daya tidak menjadi jawaban bagi efektifitas dan efisiensi kerja, bahkan menimbulkan masalah-masalah baru, yaitu konflik-konflik kepentingan pribadi (conflict of individual interests).
Seiring dengan kemajuan pemikiran manusia, kelompok-kelompok ini kemudian mulai mengadakan pembagian kerja dan pengalokasian sumber daya dengan lebih teratur dan terencana. Inilah cikal bakal organisasi yang kita kenal sekarang.
Pengertian Organisasi.
Banyak definisi yang ditawarkan para ahli, di bawah ini adalah definisi yang paling sering dikutip:
1. An organization is a system of cooporative human activities. Organisasi adalah sistem dari kegiatan manusia yang bekerja sama. (Cheeter I. Barrard).
2. Organization are system that are designed by people to accomplish some purpose or achieve some goal. Organisasi adalah system yang dipolakan orang untuk melaksanakan tujuan dan mencapai suatu sasaran. (Thomas J. Atchinson & Winston W. Hill in Management Today).
3. Organization is a stable system of individuals who work together to achieve, through a hierarchy of rank and division of labour, common goals. Organisasi adalah sistem mapan dari orang-orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, melalui suatu jenjang kepangkatan dan pembagian kerja. (Everett M Rogers & rekha Agarwala Rogers in Communication in Organization).
Dari definisi-definisi di atas, kita dapat menarik benang merah bahwa dalam setiap organisasi pasti akan dijumpai sistem, peraturan, tujuan, dan bidang garapan, sumber daya, pembagian kerja dan hubungan. Organisasi adalah sebuah system, sebagai system organisasi harus memiliki keharmonisan, keteraturan yang pasti dan dipandang sebagai satu kesatuan. Kesatuan dalam organisasi adalah holistic, bukan atomik, artinya dalam sebuah organisasi tidak dilihat lagi subyek-subyek pembentuknya. Penekanan organisasi adalah pada tahap pembagian kerja. Sebagai sebuah system, organisasi juga memiliki sifat terbuka (opening system), karena dalam organisasi terjadi perputaran dan pertukaran bahan, informasi, energi dan lingkungan.
Karena sifat yang terbuka, sebuah organisasi harus selalu menyesuaikann diri dengan lingkungannya agar ia tidak tertinggal dalam persaingan dengan organisasi lain, karena begitu bayak faktor yang menentukan kebeberhasilannya. Semakin banyak sumber daya yang terlibat maka semakin ringan pekerjaan, namun semakin banyak pula permasalahan. Ketersediaan sumber daya yang melimpah belum tentu dapat mengantarkan kemajuan bagi suatu organisasi. Faktor penyebab utama biasanya conflict of interreset, yaitu benturan-benturan kepentingan pribadi masing-masing sebagai pelaku organisasi.
Manajemen organisasi
Manajemen organisasi adalah suatu bentuk pekerjaan yang sangat erat dengan organisasi. Dalam setiap organisasi sesederhana apapun bentuknya, pasti terjadi proses manajerial. Ini lah yang menjadi jantungnya suatu organisasi. Hampir seluruh organisasi yang berhasil memiliki manajemen yag baik, teratur dan terencana. Manajemen berasal dari bahasa inggris to manage, yang artinya mengatur. Menurut kamus the random house dictionary of the English language, college edition, to manage berasal dari bahasa italic mannag (iare) yang artinya melatih kuda. Struktur kata ini tidak asli, karena dari bahasa latin manus yang artinya tangan. Terminology yang ditawarkan para ahli terhadap kata ini antara lain:
 Menurut henry fayol, manjemen aspek pembagian tugas, wewenang dan tanggung jawab, disiplin, kesatuan perintah, kesatuan pengarahan, pengutamaan, kepentingan umum, jenjang kepangkatan, ketertiban, jiwa korps dan sebagainya.
 Menurut george R. Terry dalam principle of management (definisi yang paling banyak dikutip), manajemen adalah sebuah proses yang khas, terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan (planning), pengorganisasian (organization), pelaksanaan (actuating), pengawasan (controlling) yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainya.
Tahapan Dalam Manajemen.
Manajemen sebagai suatu proses, memioliki tahapan-tahapan tetentu. Diantara para ahli terjadi perbedaan pendapat dalam jumlah dan penamaan tahapannya.
 Harold koontz & cyrill o’donnel: planning, organizing, staffing, directing, dan controlling
 Henry fayol: planning, organizing, commanding, coordinating, dan controlling
 Luther gulick: planning, organizing, staffing, directing, coordinating, reporting dan budgeting.
 George R. terry : planning, organizing, actuating, dan controlling (POAC)
Walaupun masing-masing ahli berbeda pendapat para pelaku organisasi banyak menggunakan teori George R. terry, karena disamping sederhana, juga sebenarnya mencakup tahapan-tahapan yang dikemukakan para ahli yang lain.

1. Planning/Perencanaan
Adalah tahapan perencanaan dan perancangan. Dalam tahapan ini, seorang pelaku pelaku organisasi harus mampu meramalkan situasi pekerjaan dan bidang garapan yang akan dilaksanakan. Ia juga dituntut untuk mampu memvisualisasikan hambatan yang nantinya akan di temui dan hal yang paling penting dalam tahapan ini adalah kreatifitas.
2. Organizing/pengorganisasian.
Adalah jembatan antara perencanaan dan pelaksanaan. Dalam tahapan ini dilakukan identifikasi dan klarifikasi kegiatan yang diperlukan, pengelompokan aktivitas menurut sumber daya manusia dan situasi, pendelegasian kekuasaan, koordinasi antar personil dan hubungan arus informasi, dan sebagainya. Pelaku organisasi selayaknya mengikuti pameo “the right man in the right place” demi efektifitas dan efisiensi kerja organisasi. Efektif artinya berhasil mencapai tujuan dengan waktu yang sesingkat-singkatnya serta memuaskan seluruh pihak yang dilibatkan. Efisien artinya sesuai dengan rencana dan biaya yang dianggarkan. Hal yang paling penting dalam tahap ini adalah komunikasi antar personil.
3. Actuating/penggiatan.
Adalah proses pengerahan, perangsangan, pembimbing, dan pengarahan sumber daya. manusia agar proaktif dan kreatif, bekerja penuh kesadaran dan tanggung jawab. Disinilah pentingnya kepemimpinan (leadership).
4. Controlling/Pemantauan.
Adalah kegiatan memeriksa, mengkaji apakah pekerjaan yang dilakukan sudah sesuai dengan rencana. Menurut Robert N. Antoni, Jhon Dearden dan Richard F. Vancil dalam Management Control System, “Management control is the process by which managers assure that resources are obtained anf used effectively and efficiently in accomplishement of the organization’s obyektives”. Manajemen control adalah proses pemastian apakah sumber daya sudah diperoleh dan digunakan seefektif dan seefisien mungkin dalam pencapaian tujuan organisasi. Karena berhubungan dengan SDM, maka disini lah pentingnya Publik Relation and Human Relation.
Tahap Manajerial Aspek penekanan
Planing Creativity
Organizing Communication
Actuating Leadership
Controlling Human & Publik Relations

Obyek langsung manajemen pada dasarnya adalah sumber daya dalam organisasi ada enam macam, sering disebut Six M, yaitu:
1) Men (SDM)
2) Materials (sumber daya barang).
3) Machines (sumber daya mesin).
4) Methods (sumber daya metode).
5) Money (sumber daya uang).
6) Markets (sumber daya pasar).
Teori dan Teknik Manajerial.
Ada beberapa teori dan teknik yang dapat digunakan agar proses manajerial organisasi benar-benar efektif dan efisien, serta sesuai dengan prinsip ekonomi organisasi. Teori-teori ini antara lain:
1. PKS (Posisi Keunggulan Strategis).
Dikemukakan oleh Prof. Cuno Pumpin dalam bukunya, The Essence of Corporate Strategy. Suatu organisasi akan maju bila memiliki orientasi ke depan, bentuk yang sederhana dan tidak birokratis, bersifat organis, tidak mekanistik. Keunggulan bersaing menjadi tumpuan utama teori ini. Keunggulan dalam bersaing dapat diperoleh dengan :
• Differensiasi, yaitu menduduki posisi khusus di pasar dengan menjaga kualitas, citra dan inovasi.
• Pemusatan kekuatan sumber daya: pada titik lemah lawan, pada titik kuat kita, pada event kesempatan.
• Penyesuaian tujuan dengan sumber daya.
• Kesatuan doktrin (unite de doctrine), yaitu semangat partisipasi, tujuan, strategi sederhana dan homogen.
2. TQC (Total Quality Control).
Teori ini sudah diterapkan menyeluruh di Jepang, namun baru dipopulerkan pada 1951 oleh Edward Deming, berupa konsep pengendalian mutu terpadu (Integrated Quality Control/IQQ). Teori ini menitik beratkan proses manajerial pada pengendalian mutu dari proses awal hingga akhir.
3. TQM (Total Quality Management).
Teori ini baru mulai dibicarakan orang pada pertengahan 1990-an. Teori ini menitikberatkan proses manajerial pada mutu/kualitas manajerial itu sendiri dengan berwawasan ke depan.
Komunikasi Manajemen.
Salah satu aspek yang penting dalam berorganisasi adalah komunikasi. Teori-teori manajemen yang hebat, rancangan dan perencanaan yang bagus serta sumber daya yang melimpah tidak akan berpengaruh banyak bagi kemajuan organisasi, jika tidak terdapat komunikasi yang baik antar pelaku organisasi. Menggarisbawahi pentingnya komunikasi dalam organisasi, Lawrence D. Brennan, seorang pakar manajemen terkenal pernah berkata, management is communication.
Komunikasi berasal dari bahasa latin commicatio, yang berarti pemberitahuan atau pertukaran pikiran. Kata ini berasal dari kata communis yang artinya sama. Ini bisa difahami bahwa setelah mengalami proses komunikasi, komunikator dan komunikan memiliki pengetahuan dan pandangan yang sama terhadap suatu kasus permasalahan. Tujuan dilakukannya komunikasi dalam organisasi adalah unyuk mengubah sikap (attitude), pendapat (opinion) dan tingkah laku (behavior) pelaku organisasi agar dapat mendukung cita-cita dan tujuan organisasi.
Jenis-jenis Komunikasi.
1. Komunikasi menurut jenis pesan yang digunakan dibagi menjadi dua:
• Komunikasi Verbal (Verbal Communication), yaitu komunikasi menggunakan bahasa manusia.
• Komunikasi non Verbal (Non Verbal Communication), yaitu komunikasi menggunakan selain bahasa manusia.
2. Menurut jumlah pesannya, komunikasi dibagi menjadi dua:
• Komunikasi satu arah (One Way Traffic Communication), terdiri dari pesan komunikator saja.
• Komunikasi dua arah (Two Way Traffic Communication), terdiri dari pesan komunikator dan tanggapan komunikan.
3. Menurut arahnya, komunikasi dibagi:
• Komunikasi Internal
• Komunikasi Vertikal; down ward Communication, contoh: pimpinan kepada bawahan, dan up ward Communication, contoh: bawahan kepada pimpinan.
• Komunikasi Horisontal, contoh : komunikasi antar teman.
• Komunikasi Diagonal/ cross Communication, contoh: komunikasi dalam rapat.
• Komunikasi Eksternal, contoh: Komunikasi dengan organisasi dan instansi lain.
Unsur Komunikasi.
1) Communicator/komunikator, yaitu orang yang menyampaikan pikirannya.
2) Communicant/komunikan, yaitu sasaran penyampaian pesan. Jenisnya bisa homogen dan heterogen. Komunikasi dalam organisasi biasanya homogen.
3) Massage/Pesan, yaitu pesan yang ingin disampaikan, berupa meaningful symbols/ simbol yang memiliki arti.
4) Media, yaitu sarana untuk menyalurkan pesan.
5) Effect/tanggapan, yaitu respon, reaksi dari komunikan. Efek komunikasi dapat berupa :
• Cognitive effect, yaitu yang berhubungan dengan nalar. Contoh: dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dsb.
• Affective effect, yaitu yang berhubungan dengan perasaan. Contoh: dari tidak suka menjadi suka, dari benci menjadi cinta, dsb.
• Conative behavioral effect, yaitu yang berhubungan dengan kebiasaan. Contoh: dari malas menjadi rajin, dari pembangkang jadi penurut, dsb.

Human Relation dan Public Relation.
Aspek ini mulanya hanya dipandang sebelah mata, seiring berkembangnya kapitalisme di seluruh dunia. Tapi kemudian para ahli mulai menyadari penanganan manusia tidak dapat disamakan dengan penanganan terhadap mesin atau barang. Penanganan yang kurang baik terhadap anggota organisasi terkadang dapat menghambat organisasi itu sendiri. Jack Hallowan dalam bukunya Apphed Human Relationship, An Organizational Approach, mengemukakan bahwa human relation mulai dikenal orang pada 1850 dalam permasalahan buruh. Ini bermula ketika Fredrick Taylor pada awal abad XX menawarkan teori Scientific Management yang kemudian banyak diterapkan oleh para pengelola pabrik. Ia berpendapat bahwa produktifitas akan naik jika masing-masing pekerja memiliki perincian tugas tertentu. Maka mulai dikenallah ban-ban berjalan di pabrik-pabrik.
Teori ini kemudian dikecam karena dianggap hanya merupakan bentuk lain eksploitasi pekerja saja. Pada 1920, mulai muncul pendekatan humanistik bagi pekerja. Adalah Elton Mayo dari National Research Council dan Massachussets Institute of Technology (MIT), yang mengadakan studi tentang efek lampu dan ventilasi udara terhadap pekerja di sebuah pabrik di Hawthorne, Amerika.
Pada era 30-an, human relation diabaikan karena terjadi resesi di AS pasca PD II. Barulah pada pertengahan abad XX, orang mulai melirik konsep ini. Dan sampai sekarang terbukti bahwa human relations dan public relations yang terbina dengan baik dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi kerja. Jika Human Relation (HR) menitikberatkan obyeknya pada pandangan-pandangan humanistic, maka public relations menitik beratkan obyektifitas pada tingkah laku manusia dalam dinamika kelompok. Human relations bersifat represif, sedangkan PR bersifat preventif/pencegahan.
A. Human Relations.
Dalam organisasi harus dihindari dan diwaspadai permasalahan-permasalahan yang timbul dari pribadi-pribadi anggota organisasi. Permasalahan-permasalahan ini bisa menyebabkan perpecahan dalam tubuh organisasi yang berakibat terancamnya keberhasilan tujuan organisasi itu sendiri. Permasalahan-permasalahan ini biasanya timbul dari:
• Conflict of Interest, Manusia memiliki keinginan, cita-cita, harapan dan tujuan yang berbeda-beda. Masing-masing ingin mencapai tujuannya sendiri-sendiri. Tidak jarang kepentingan-kepentingan mereka harus berbenturan dengan kepentingan orang lain. Jika kedua belah pihak tidak pat bersikap dewasa dan profesional, dapat menimbulkan perpecahan. Untuk itu, setiap anggota suatu organisasi, harus mampu memisahkan permasalahan dan konflik pribadi dengan kepentingan organisasi serta mendahulukan kepentingan bersama.
• Motivasi. Tidak semua memiliki motivasi yang bagus ketika memasuki suatu organisasi. Ini dapat berpengaruh terhadap dedikasi dan loyalitasnya terhadap organisasi tersebut. Tugas organisasi lah yang harus memupuk motivasi mereka, dengan cara meningkatkan daya undang partisipasi. Dengan demikian diharapkan tumbuh loyalitas dan dedikasi mereka.
• Heredity. Pembawaan pribadi kadang dapat pula menjadi faktor penyebab kurang lancarnya komunikasi dalam organisasi. Seorang yang pembawaannya sombong pasti akan dikucilkan dari rekan-rekannya. Dalam hal ini diperlukan pemahaman dan pengertian seluruh anggota organisasi terhadap sifat dan pembawaan manusia. Secara garis besar, manusia dibagi tiga: ettrofert, introvert dan ambivert. Seorang extrofert memiliki wawasan dan perhatian keluar dari dirinya. Ia suka bergaul, periang dan mudah dipengaruhi orang lain. Sebaliknya, introfert adalah seorang yang pembawaannya pediam, suka menyendiri, dan hanya memikirkan dirnya sendiri. Secara teori seorang extrofert dan introfert tidak pernah bisa bersatu. Namun kita tidak perlu khawatir, karena jumlah mereka hanya sedikit. Kebanyakan orang memiliki karakter ambivert, yaitu karakter pertengahan antara extrofert dan introfert.
• Environment. Latar belakang juga bisa menjadi penyebab potensial bagi permasalahn organisasi. Untuk itu setiap anggota harus memahami betul latar belakang orang lain bisa sangat sangat jauh berbeda dengan dirinya, untuk itu diperlukan pengertian dalam memahami sikap dan tingkah laku seseorang.
B. Public Relation
Permasalahan dalam bidang ini lebih kompleks dan memiliki hubungan langsung dengan sumber daya organisasi
• Sugesti. Yaitu sikap apriori tertutup yang dipengaruhi lingkungan dan pengalaman pribadi. Contoh: anggota suatu kepanitiaan gagal mengajukan proposal karena sudah memiliki sugesti yang tidak baik terhadap suatu perusahaan.
• Imitasi. Yaitu sifat meniru manusia terhadap yang ia nilai baik dan bagus. Sebagai contoh budaya ‘ngaret’ jika dilakukan oleh pimpinan organisasi akan diikuti bawahannya.
• Simpati. Yaitu sifat solidaritas manusia terhadap manusia lainnya. Sebagai contoh seorang yang di-PHK oleh perusahaan dengan semena-mena akan mengundang simpati rekan-rekannya, kemudian bisa saja terjadi mogok kerja atau demonstrasi besar-besaran. Oleh karenanya, setiap kebijakan organisasi harus menimbang dan memperhatikan faktor simpati ini.
Communication & Public Relation

Pengantar
Salah satu aspek yang penting dalam berorganisasi adalah komunikasi. Teori-teori manajemen yang hebat, rancangan dan perencanaan yang bagus serta sumber daya yang melimpah tidak akan berpengaruh banyak bagi kemajuan organisasi, jika tidak terdapat komunikasi yang baik antar pelaku organisasi. Menggarisbawahi pentingnya komunikasi dalam organisasi, Lawrence D. Brennan, seorang pakar manajemen terkenal pernah berkata, management is communication.
Komunikasi berasal dari bahasa latin commicatio, yang berarti pemberitahuan atau pertukaran pikiran. Kata ini berasal dari kata communis yang artinya sama. Ini bisa difahami bahwa setelah mengalami proses komunikasi, komunikator dan komunikan memiliki pengetahuan dan pandangan yang sama terhadap suatu kasus permasalahan. Tujuan dilakukannya komunikasi dalam organisasi adalah unyuk mengubah sikap (attitude), pendapat (opinion) dan tingkah laku (behavior) pelaku organisasi agar dapat mendukung cita-cita dan tujuan organisasi.
Dengan komunikasi kita membentuk saling pengertian dalam menumbuhkan persahabatan, memelihara kasih saying, menyebarkan pengetahoan, dan melestarikan peradaban beserta kebalikanya. oleh karena itu untuk memanajemen sebuah komunikasi agar menjadi sesuatu yang baik dan berguna maka diperlukan berbagai hal sebagai syaratnya.
Sebagai makhlug social, setiap individu manusia membutuhkan pengetahuan dan kemahiran yang baik dalam membangun hubungan yang sehat yang bermartabat dengan orang-orang lain yang ada di lingkungannya. Para eksekutif perusahaan, manajer, pemuka masyarakat, dan para tokoh-tokoh pemimpin lainya tidak akan efektif dalam mempengaruhi dan menuntun orang lain apabila merekatidak memiliki pengetahuan dan kemahiran dalam berinteraksi dengan lingkungan sosialnya dengan lebih manusiawi dan produktif.
Sesuai dengan perintah Al-Quran surat 4 : 63
…berbicaralah kepada mereka dengan pembicaraan yang berbekas pada jiwa mereka.

Membuka Diri
Pengetahuan tentang diri akan meningkatkan komunikasi dan pada saat bersamaan, dalam berkomunikasi dengan orang lain maka akan meningkatkan pengetahuan baik tentang dirisendiri, orang lain dan lain sebagainya.dengan membuka diri, konsep diri akan menjadi lebih dekat pada kenyataan. Bila konsep diri sesuai dengan pengalaman kita, kita akan lebih terbuka untuk menerima pengalaman-pengalaman dan gagasan-gagasan baru, lebih cenderung menghindari sifat defensive, dan lebih cermat dan cerdas dalam memandang sesuatu dengan objektif.
Langkah pertama dalam upaya meningkatkan kemahiran untuk berinteraksi secara manusiawi dan positif dengan sesame manusia adalah dengan memiliki pemahaman yang benar mengenai manusia beserta sifat dasarnya dan bahasa apa yang akan dipakai.
Untuk itu kita hanya butuh menuntut diri untuk mengakui dan menerima orang lain sebagaimana adanya – bukan sebagaimana kedirian orang lain sesuai pandangan kita.

Jenis-jenis Komunikasi.
Komunikasi menurut jenis pesan yang digunakan dibagi menjadi dua:
• Komunikasi Verbal (Verbal Communication), yaitu komunikasi menggunakan bahasa manusia.
• Komunikasi non Verbal (Non Verbal Communication), yaitu komunikasi menggunakan selain bahasa manusia.
Menurut jumlah pesannya, komunikasi dibagi menjadi dua :
• Komunikasi satu arah (One Way Traffic Communication), terdiri dari pesan komunikator saja.
• Komunikasi dua arah (Two Way Traffic Communication), terdiri dari pesan komunikator dan tanggapan komunikan.
Menurut arahnya, komunikasi dibagi :
• Komunikasi Internal
• Komunikasi Vertikal; down ward Communication, contoh : pimpinan kepada bawahan, dan up ward Communication, contoh: bawahan kepada pimpinan.
• Komunikasi Horisontal, contoh : komunikasi antar teman.
• Komunikasi Diagonal/ cross Communication, contoh : komunikasi dalam rapat.
• Komunikasi Eksternal, contoh : Komunikasi dengan organisasi dan instansi lain.
Unsur Komunikasi.
6) Communicator/komunikator, yaitu orang yang menyampaikan pikirannya.
7) Communicant/komunikan, yaitu sasaran penyampaian pesan. Jenisnya bisa homogen dan heterogen. Komunikasi dalam organisasi biasanya homogen.
8) Massage/Pesan, yaitu pesan yang ingin disampaikan, berupa meaningful symbols/ simbol yang memiliki arti.
9) Media, yaitu sarana untuk menyalurkan pesan.
10) Effect/tanggapan, yaitu respon, reaksi dari komunikan. Efek komunikasi dapat berupa :
• Cognitive Effect, yaitu yang berhubungan dengan nalar. Contoh: dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dsb.
• Affective Effect, yaitu yang berhubungan dengan perasaan. Contoh: dari tidak suka menjadi suka, dari benci menjadi cinta, dsb.
• Conative Behavioral Effect, yaitu yang berhubungan dengan kebiasaan. Contoh: dari malas menjadi rajin, dari pembangkang jadi penurut, dsb.
Human Relation dan Public Relation.
Aspek ini mulanya hanya dipandang sebelah mata, seiring berkembangnya kapitalisme di seluruh dunia. Tapi kemudian para ahli mulai menyadari penanganan manusia tidak dapat disamakan dengan penanganan terhadap mesin atau barang. Penanganan yang kurang baik terhadap anggota organisasi terkadang dapat menghambat organisasi itu sendiri. Jack Hallowan dalam bukunya Apphed Human Relationship, An Organizational Approach mengemukakan bahwa human relation mulai dikenal orang pada 1850 dalam permasalahan buruh. Ini bermula ketika Fredrick Taylor pada awal abad XX menawarkan teori Scientific Management yang kemudian banyak diterapkan oleh para pengelola pabrik. Ia berpendapat bahwa produktifitas akan naik jika masing-masing pekerja memiliki perincian tugas tertentu. Maka mulai dikenallah ban-ban berjalan di pabrik-pabrik.
Teori ini kemudian dikecam karena dianggap hanya merupakan bentuk lain eksploitasi pekerja saja. Pada 1920, mulai muncul pendekatan humanistik bagi pekerja. Adalah Elton Mayo dari National Research Council dan Massachussets Institute of Technology (MIT), yang mengadakan studi tentang efek lampu dan ventilasi udara terhadap pekerja di sebuah pabrik di Hawthorne, Amerika.
Pada era 30-an, Human Relation diabaikan karena terjadi resesi di AS pasca PD II. Barulah pada pertengahan abad XX, orang mulai melirik konsep ini. Dan sampai sekarang terbukti bahwa human relations dan public relations yang terbina dengan baik dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi kerja. Jika Human Relation (HR) menitikberatkan obyeknya pada pandangan-pandangan humanistic, maka Public Relations menitik beratkan obyektifitas pada tingkah laku manusia dalam dinamika kelompok. Human Relations bersifat represif, sedangkan PR bersifat preventif/pencegahan.
Human Relations.
Dalam organisasi harus dihindari dan diwaspadai permasalahan-permasalahan yang timbul dari pribadi-pribadi anggota organisasi. Permasalahan-permasalahan ini bisa menyebabkan perpecahan dalam tubuh organisasi yang berakibat terancamnya keberhasilan tujuan organisasi itu sendiri. Permasalahan-permasalahan ini biasanya timbul dari:
• Conflict of Interest, Manusia memiliki keinginan, cita-cita, harapan dan tujuan yang berbeda-beda. Masing-masing ingin mencapai tujuannya sendiri-sendiri. Tidak jarang kepentingan-kepentingan mereka harus berbenturan dengan kepentingan orang lain. Jika kedua belah pihak tidak pat bersikap dewasa dan profesional, dapat menimbulkan perpecahan. Untuk itu, setiap anggota suatu organisasi, harus mampu memisahkan permasalahan dan konflik pribadi dengan kepentingan organisasi serta mendahulukan kepentingan bersama.
• Motivasi. Tidak semua memiliki motivasi yang bagus ketika memasuki suatu organisasi. Ini dapat berpengaruh terhadap dedikasi dan loyalitasnya terhadap organisasi tersebut. Tugas organisasi lah yang harus memupuk motivasi mereka, dengan cara meningkatkan daya undang partisipasi. Dengan demikian diharapkan tumbuh loyalitas dan dedikasi mereka.
• Heredity. Pembawaan pribadi kadang dapat pula menjadi faktor penyebab kurang lancarnya komunikasi dalam organisasi. Seorang yang pembawaannya sombong pasti akan dikucilkan dari rekan-rekannya. Dalam hal ini diperlukan pemahaman dan pengertian seluruh anggota organisasi terhadap sifat dan pembawaan manusia. Secara garis besar, manusia dibagi tiga: ettrofert, introvert dan ambivert. Seorang extrofert memiliki wawasan dan perhatian keluar dari dirinya. Ia suka bergaul, periang dan mudah dipengaruhi orang lain. Sebaliknya, introfert adalah seorang yang pembawaannya pediam, suka menyendiri, dan hanya memikirkan dirnya sendiri. Secara teori seorang extrofert dan introfert tidak pernah bisa bersatu. Namun kita tidak perlu khawatir, karena jumlah mereka hanya sedikit. Kebanyakan orang memiliki karakter ambivert, yaitu karakter pertengahan antara extrofert dan introfert.
• Environment. Latar belakang juga bisa menjadi penyebab potensial bagi permasalahn organisasi. Untuk itu setiap anggota harus memahami betul latar belakang orang lain bisa sangat sangat jauh berbeda dengan dirinya, untuk itu diperlukan pengertian dalam memahami sikap dan tingkah laku seseorang.

Public Relation
Permasalahan dalam bidang ini lebih kompleks dan memiliki hubungan langsung dengan sumber daya organisasi
• Sugesti. Yaitu sikap apriori tertutup yang dipengaruhi lingkungan dan pengalaman pribadi. Contoh: anggota suatu kepanitiaan gagal mengajukan proposal karena sudah memiliki sugesti yang tidak baik terhadap suatu perusahaan.
• Imitasi. Yaitu sifat meniru manusia terhadap yang ia nilai baik dan bagus. Sebagai contoh budaya ‘ngaret’ jika dilakukan oleh pimpinan organisasi akan diikuti bawahannya.
Simpati. Yaitu sifat solidaritas manusia terhadap manusia lainnya. Sebagai contoh seorang yang di-PHK oleh perusahaan dengan semena-mena akan mengundang simpati rekan-rekannya, kemudian bisa saja terjadi mogok kerja atau demonstrasi besar-besaran. Oleh karenanya, setiap kebijakan organisasi harus menimbang dan memperhatikan faktor simpati ini.

Pengantar Rethorika
Pengertian
Secara etimologis, rethorika adalah berasal dari bahasa latin rethor, yang berarti pidato. Di daerah kelahirannya – Syracusa, ibukota pulau Sisilia abad V sebelum masehi – Rethorika dipahami sebagai kecakapan berpidato. Rethorika menjadi populer di Athena dan semenanjung Atika berkat jasa Corax dan muridnya Tissias yang mendirikan sekolah rethorika.Akhir abad ke V SM, kaum sofis mengembangkan pengertian rethorika sebagai kecakapan berpidato untuk memenangkan suatu kasus. Pengertian tersebut kelihatannya berangkat dari sumber filsafat yang diyakini, yakni filsafat materialisme atau pragmatisme. Tokoh-tokoh yang menonjol dari kelompok ini adalah: Gorgias, Phidias, Protagoras, dan Isocrates.
Perkembangan selanjutnya rethorika diartikan sebagai “seni bertutur untuk membeberkan kebenaran”. Pemahaman tersebut berdasarkan pada filsafat idealisme. Tokoh utama rethorika yang berangkat dari pengertian ini adalah Plato dengan bukunya “Phaedrus”. Pikiran-pikiran Plato dikembangkan lebih luas dan mendalam serta menggunakan pendekatan ilmiah oleh Aristoteles dalam bukunya yang berjudul “Rethoric”. Pada intinya Aristoteles memberikan pengertian rethorika sebagai “ilmu dan seni yang digunakan untuk persuasi”.
Pada awal abad XX berkembang pengertian lain yang disebut sebagai rethorika’baru’. Tokoh-tokoh rethorika aliran baru ini antara lain I.A. Richards, Kenneth Burke, S.I. Hayakawa dan Alfred Korzybski. Richards memberi arti rethorika sebagai; studi tentang kesalahpahaman dan penemuan sarana pengobatan. Burke melihat rethorika sebagai; ilmu yang mengajar orang untuk mengidentifikasi dalam arti yang seluas-luasnya. Hayakawa (aliran general semantik) memandang rethorika sebagai; ilmu yang mengajar orang untuk memetakan bagian dari suatu persoalan sebaik mungkin. Sedangkan Krobzyski dan ilmuwan pendukungnya (teori Tagmemik) menyatakan bahwa rethorika adalah ilmu yang mengajarkan penggarapan masalah tutur secara heuristik untuk ditampilkan secara sistematis guna membina saling pengertian dan kerja sama.
1. Prinsip-prinsip Rethorika.
a. Tentang Orator (Komunikator)
Orator atau Komunikator merupakan subyek utama dalam kegiatan rethorika. Karena orator merupakan pihak yang lebih dinamis dan memiliki peluang yang lebih besar dalam proses kegiatan tersebut. Keadaan itu tidak terlepas dari sifat kegiatan rethorika yang ‘cenderung’ berbentuk linier dan searah. Agar kegiatan tersebut dapat berhasil dengan baik maka orator harus mampu menampilkan baik diri maupun isi rethorikanya dengan menarik dan mempunyai nilai guna bagi pendengarnya. Oleh karena itu dalam hal ini berlaku dalil “He doesn’t communicate what he says, he communicate what he is” disini terlihat bahwa pendengar tidak hanya memperhatikan ‘apa’nya tetapi juga sangat tergantung terhadap ‘siapa’ yang berbicara.
Menurut Aristoteles, komponen ‘siapa’ harus memenuhi unsur-unsur Ethos, Phatos, dan Logos . Ethos adalah karakteristik yang menonjol dari seseorang yang mengacu kepada hal-hal yang bersifat konigtif (good sense, good moral character, good will) dalam konsep modern, Ethos diartikan sebagai kredibilitas yang menurut Hovland dan Weiss terdiri dari dua unsur yaitu Expertise (keahlian) dan trustworthiness (dapat dipercaya).
b. Tentang audience atau komunikan
Menurut pakar psikologi sosial yang bernama H.L. Hollingworth, pendengar (audience atau komunikan) dapat digolongkan menjadi lima kelompok yang disebut sebagai: Pedestrian Audience, Discussion an Passive Audience, Selected Audience, Concerted Audience, Organized Audience. Masing-masing kelompok mempunyai karakteristik sendiri-sendiri.
Pedestrian Audience adalah pendengar temporer, seperti kelompok yang berada di pasar, terminal, atau di alun-alun kota. Pendengar jenis ini hampir sama sekali tidak memiliki jenis hubungan apapun dengan komunikator. Hal paling sulit yang dirasakan oleh komunikator adalah menumbuhkan perhatian pendengar.
Discussion or Passive Audience adalah kelompok yang sudah memiliki perhatian terhadap pendengar karena faktor peraturan atau perintah. Persoalan yang biasanya muncul adalah usaha bagaimana untuk menciptakan ketertarikan. Kelompok ini misalnya adalah forum pengajian dan sebagainya.
Selected Audience adalah kelompok yang memiliki persamaan tujuan sehingga pendengar jenis ini sudah mempunyai perhatian dan ketertarikan yang sama. Bagi orator/komunikator adalah tinggal memberikan kesan kepada pendengar untuk mengerti dan mengikuti maksud dan tujuannya. Contoh kelompok Selected adalah peserta Training.
Concerted Audience merupaka kelompok yang memiliki kesamaan tujuan dan latar belakang. Seperti mahasiswa Hukum kelas IA umpamanya, merupakan kelompok jenis ini. Langkah yang perlu dilakukan oleh orator adalah meyakinkan pendengar.
Organized Audience sebagai kelompok yang memiliki kondisi-kondisi khusus, seperti aturan, job discription, manajerial dan lain-lain. Kelompok pekerja di sebuah perusahaan misalnya, merupakan contoh jenis audience ini. Orator/komunikator tinggal memberikan arahan, maka mereka sudah akan langsung mengikuti, tanpa harus didorong dengan berbagai cara.
Merujuk pada Hollingworth di atas, terdapat lima teknik dasar dalam rangka melakukan persuasi terhadap orang lain/audience, yaitu: attention, interest, impression, conviction, dan direction. Apabila dibuat suatu bagan maka akan terlihat sebagai berikut:
Pedestrian Discussion or Passive Selected Concerted Organized
Attention – – – -
Interest interest – – -
Impression Impression Impression – -
Conviction Conviction Conviction Conviction -
Direction Direction Direction Direction Direction
c. Tujuan (secara umum) Rethorika.
Di atas telah disampaikan bahwa definisi rethorika adalah ilmu dan seni untuk mempersuasi orang lain. Usaha persuasif tersebut sebetulnya untuk tujuan apa? Pada dasarnya tujuan rethorika dapat dibagi menjadi 3(tiga) kategori besar, dimana masing-masing ketegori memiliki target sendiri. Tujuan tersebut adalah to inform (memberitahu), to persuade (mengajak), dan to entertain (menghibur).
Masing-masing tujuan memiliki target tertentu, seperti daftar berikut ini:
Tujuan Target
To Inform Clarity
Interest
Understanding
To Persuade Belief
Action
Stimulation
To Entertain Interest
Enjoyment
Humor

d. Teknik Penyampaian.
Terdapat empat teknik dasar dalam proses penyampaian pada kegiatan rethorika. Keempat teknik tersebut adalah (1) by reading from the manuscript (2) by memorizing (3) by impromptu delivery (4) by speaking extemporaneously.
1. by reading from the manuscript
pada prinsipnya orator menyampaikan gagasannya dengan cara membaca naskah. Hal ini dilakukan oleh orator pemula atau karena materi yang memerlukan ketepatan data.
2. by memorizing
merupakan teknik penyampaian yang berdasrkan kekuatan ingatan. Materi seudah dikuasai dengan baik sehingga orator mampu menyampaikan gagasan secara langsung.
3. by impromptu delivery
dapat juga disebut sebagai cara yang spontanitas. Apabila anda menghadiri undangan kemudian diminta oleh tuan rumah untuk memberikan sambutan, dan anda tidak mempunyai persiapan, maka anda menggunakan teknik impromptu.
4. by speaking extemporaneously
adalah teknik rethorika dengan cara membawa outline materi. Artinya teknik ini adalah perpaduan antara teknik manuscript dan teknik memorizing.
e. Bahasa Sebagai Media
Bahasa merupakan media utama dalam rethorika. Bahasa merupakan alat komunikasi yang berwujud code dan symbol. Arti dari bahasa tergantung dari beberapa aspek, antara lain adalah: audience, situasi, konteks, waktu dan siapa yang berbicara. Bahasa dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu: verbal dan non verbal. Bahasa verbal adalah kata-kata atau kalimat yang disusun dan disampaikan kepada orang lain sebagai tanda pengungkapan pikiran atau ide kita.
Bahasa non verbal adalah ungkapan komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan alat selain tutur atau lisan. Bahasa non verbal dapat berupa:
1. Body Language (Kinesik): bahasa tubuh dapat berupa; posture, walking, face expression dan gestures.
2. Paralanguage (suara dan artikulasinya): karakteristik suara meliputi; frekuensi, intonasi, diksi, irama dan nada.
3. Object language (pakaian dan asesoris). Semua yang melekat dan berkaitan dengan diri kita merupakan bahasa yang dibaca oleh orang-orang yang berhubungan dengan kita.
4. Ruang dan Jarak (proksemik): situasi dan suasana ruangan dimana kita tinggal dan jarak yang kita ciptakan ketika berinteraksi dengan orang lain merupakan bahasa yang dapat dirasakan maknanya.
5. Waktu (kronemik): waktu merupakan bahasa alam yang mempunyai karakter spesifik, seperti pagi, siang, sore, malam dan fajar. Tiap-tiap waktu tersebut memiliki sifat dan memberi efek tersendiri.

Ideologi Gerakan
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
Pengantar
Sebagai sebuah organisasi yang selalu berusaha mempelopori gerakan-gerakan organisasi kepemudaan yang lain, Ikatan mahasiswa Muhammadiyah selalu berpijak pada sebuah sejarah yang membuat IMM ini lahir, sebuah sejarah yang seharusnya selalu menjadi cambuk ketika para kader Ikatan sudah mulai kehilangan kepeloporannya.
Sebuah idemtitas yang bisa membedakan IMM dari organisasi-organisasi lain di saat organisasi-organisasi kepemudaan yang lain mulai terperosok pada jerat kekuasaan dan politik vertical, IMM tetap bersih dan selalu berusaha bersih.
Hand Out
Ketika situasi nasional mengarah pada demokrasi terpimpin yang penuh gejolak politik di tahun 1960-an, dan perkembangan dunia kemahasiswaan yang terkotak-kotak dalam bingkai politik dengan meninggalkan arah pembinaan intelektual, beberapa tokoh angkatan muda Muhammadiyah seperti Muhammad Djaman Alkindi, Rosyad Soleh, Amin Rais dan kawan-kawan memelopori berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Yogyakarta pada tanggal 14 Maret 1964.
Sejak awal berdirinya, IMM sebagai ormas mahasiswa Islam terlahir dari kelompok sosial keagamaan dengan identitas yang jelas. IMM terang-terangan mengusung nama Muhammadiyah. Sebagai organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah sifat dan gerakan IMM sama dengan Muhammadiyah yakni sebagai gerakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi mungkar. Ide dasar gerakan IMM adalah; Pertama, Vision, yakni membangun tradisi intelektual dan wacana pemikiran melalui intelectual enlightement (pencerahan intelektual) dan intelectual enrichment (pengkayaan intelektual). Strategi pendekatan yang digunakan IMM ialah melalui pemaksimalan potensi kesadaran dan penyadaran individu yang memungkinkan terciptanya komunitas ilmiah.
Kedua, Value, ialah usaha untuk mempertajam hati nurani melalui penanaman nilai-nilai moral agama sehingga terbangun pemikiran dan konseptual yang mendapatkan pembenaran dari Al Qur’an. Ketiga, courage atau keberanian dalam melakukan aktualisasi program, misalnya dalam melakukan advokasi terhadap permasalahan masyarakat dan keberpihakan ikatan dalam pemberdayaan umat.
Pengertian Ideologi
Menurut Frans Magnis Suseno, ideologi merupakan keseluruhan sistem berfikir, nilai-nilai dan sikap dasar rohaniah sebuah gerakan, kelompok sosial atau individu. Ideologi dapat dimengerti sebagai suatu sistem penjelasan tentang eksistensi suatu kelompok sosial, sejarahnya dan proyeksinya ke masa depan. Dengan demikian, ideologi memiliki fungsi mempolakan, mengkonsolidasikan dan menciptakan arti dalam tindakan masyarakat. Ideologi yang dianutlah yang pada akhirnya akan sangat menentukan bagaimana seseorang atau sekelompok orang memandang sebuah persoalan dan harus berbuat apa untuk mensikapi persoalan tersebut.
Ideologi dalam pengertian yang paling umum dan paling dangkal biasanya diartikan sebagai istilah mengenai sistem nilai, ide, moralitas, interpretasi dunia dan lainnya. Menurut Antonio Gramsci, ideologi lebih dari sekedar sistem ide. Bagi Gramsci, ideologi secara historis memiliki keabsahan yang bersifat psikologis. Artinya ideologi ‘mengatur’ manusia dan memberikan tempat bagi manusia untuk bergerak, mendapatkan kesadaran akan posisi mereka, perjuangan mereka dan sebagainya.
Secara sederhana, Franz Magnis Suseno mengemukakan tiga kategorisasi ideologi. Pertama, ideologi dalam arti penuh atau disebut juga ideologi tertutup. Ideologi dalam arti penuh berisi teori tentang hakekat realitas seluruhnya, yaitu merupakan sebuah teori metafisika. Kemudian selanjutnya berisi teori tentang makna sejarah yang memuat tujuan dan norma-norma politik sosial tentang bagaimana suatu masyarakat harus di tata. Ideologi dalam arti penuh melegitimasi monopoli elit penguasa di atas masyarakat, isinya tidak boleh dipertanyakan lagi, bersifat dogmatis dan apriori dalam arti ideologi itu tidak dapat dikembangkan berdasarkan pengalaman. Salah satu ciri khas ideologi semacam ini adalah klaim atas kebenaran yang tidak boleh diragukan dengan hak menuntut adanya ketaatan mutlak tanpa reserve. Dalam kaitan ini Franz Magnis-Suseno mencontohkan ideologi Marxisme.
Dari beberapa fungsi tersebut, terlihat bahwa pengaruh ideologi terhadap perilaku kehidupan sosial berkaitan erat. Memahami format sosial politik suatu masyarakat akan sulit dilakukan tanpa lebih dahulu memahami ideologi yang ada dalam masyarakat tersebut. Dari sinilah terlihat betapa ideologi merupakan perangkat mendasar dan merupakan salah satu unsur yang akan mewarnai aktivitas sosial dan politik.
Pendekatan teologis, sebagai basis ideologi IMM
Pemikiran teologi dalam ideologi IMM bersumber dari ajaran aqidah yang dijelaskan dalam Al Qur’an dengan inti kepercayaan pengesaan Tuhan (tauhid) dan pengakuan atas kerasulan Muhammmad (Muhammad Rasulullah). Pemikiran teologi tentang Allah merupakan sebuah keyakinan terhadap adanya realitas transedental yang tunggal dan menuntut adanya aplikasi ketaatan pada tataran aksi. Oleh karenanya wujud nyata dari perilaku dan kepribadian kader IMM merupakan cerminan yang tidak dapat dipisahkan dari landasan teologisnya.
IMM, sebagai underbow ormas Islam, tidak bisa lepas begitu saja dari pengaruh kultur yang ada di Muhammadiyah. Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan, tentu saja tidak bisa lepas dari agama sebagai landasan teologis dalam berpikir, bertindak dan berinovasi. Aspek teologis ini penting karena dari sinilah Muhammadiyah melancarkan purifikasi agama atau pemurnian tauhid dari segala bentuk praktek keagamaan yang berbau takhayyul, bid’ah dan khurafat. Dengan langkah ini sebenarnya Muhammadiyah ingin melangkah ke arah praksis, yaitu memperbaharui pola pikir umat yang lebih “membumi”, tidak mistis dan metafisis semata. Pada konteks historis, pemahaman teologis semacam ini sangat hidup dan dinamis di Muhammadiyah, sehingga seringkali “gebrakan kultural” yang dilakukan Muhammadiyah cukup mengesankan.
Kita meyakini teologi yang melatari ideology IMM tidak berhenti pada tataran wacana, melainkan membumi dalam bentuk praksis pembebasan. Mengutip Farid Esack, tokoh Islam Afrika Selatan, menyatakan perlunya menggeser teologi eksklusif kearah teologi yang liberatif terhadap kaum tertindas. Jalan Allah dan Rasul dijadikan poin niat transformasi mental karena Allah dan Rasul merupakan jati diri eksistensial kemanusiaan. Dengan kata lain, Allah merupakan poros yang menjadi substansi kebenaran dan Rasul adalah poros moralitas universal yang pada poros itulah seluruh dimensi kemanusiaan kembali. Allah adalah kebenaran itu sendiri yang personifikasi moralitasnya adalah Rasul. Dengan makna seperti ini, pemancangan niat itu adalah pengakuan untuk turut merasakan dan terlibat dalam proses-proses substansialisasi manifestasi nilai-nilai kemanusiaan yang liberatif-emansipatif dan menerjemahkan nilai menjadi fakta sosial yang damai dan menyejukkan secara eksistensial.
Ideologi IMM
Upaya memahami ideologi gerakan IMM merupakan hal yang sangat penting. Apabila ditelisik, persoalan ideologi merupakan pusat kajian ilmu sosial. Namun hingga kini, kajian tentang ideologi khususnya dalam gerakan mahasiswa sangat minim. Maka, identitas ideology IMM yang niscaya terefleksikan dalam praksis gerakan IMM perlu dikaji.
Dalam tataran konseptual sebenarnya IMM memiliki sebuah konsep yang komprehensif. Trilogi Iman-Ilmu-Amal yang kemudian juga berkaitan dengan Trilogi lahan garapan Keagamaan-Kemasyarakatan-Kemahasiswaan dan juga trikompetensi kader Spiritualitas-Intelektualitas-Humanitas memiliki konsep yang khas dibanding pola gerakan lain. Hal ini bisa dilihat dalam struktur organisasi IMM yang ingin mengakomodasi semua realitas Mahasiswa : Bidang IPTEK yang berorientasi pada Profesionalisme, Bidang Sosek yang berorientasi pada Gerakan Kongkrit Pemihakan-Dakwah-Pemberdayaan dan Bidang Khikmah yang berorientasi pada peran IMM sebagai organ intelektual kritis-etis-politis.
Dari asal katanya, kata intelek berasal dari kosa kata latin: Intellectus yang berarti pemahaman, pengertian, kecerdasan. Sedangkan kata intelektual berarti suatu sifat cerdas, berakal, dan berfikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan. Kata intelektual juga berkonotasi sebagai kaum yang memiliki kecerdasan tinggi atau juga disebut kaum cendekiawan.
Dari pengertian istilah, intelektualisme adalah sebuah doktrin filsafat yang menitikbertkan pengenalan (kognisi) melalui intelek serta secara metafisik memisahkannya dari pengetahuan indra serapan. Intelektualisme berkerabat dengan rasionalisme. Dalam filsafat Yunani Purba, penganut intelektualisme menyangkal kebenaran pengetahuan indra serta menganggap pengetahuan intelektual sebagai kebenaran yang sungguh-sungguh. Di dalam filsafat modern, intelektualisme menentang keberatsebelahan sensasionalisme yang hanya mengandalkan indra, antara lain didukung oleh Rene Descartes (1596-1650), kaum Cartesian, serta sampai batas tertentu oleh spinizisme. Pada masa kini, bercampur dan tambah dengan aliran agnitisme, intelektualisme dibela positivisme logikal.
Dalam pembahasan tentang identitas Intelektual IMM, maka tidak terlepas dari konteks Intelektual Islam. Bila dikaitkan dengan arti harfiah intelektualime di atas, maka bisa dikatakan bahwa kata Intelektualime mirip dengan budaya berfikir yang dibangun oleh kaum Mu’tazillah yan mewakili rasionalisme Islam.
Mu’tazillah sendiri adalah aliran rasionalisme dalam teologi Islam yang muncul sejak permulaan abad ke-2 Hijriyah atau perempat abad pertama abad ke-8 Masehi. Pemikiran rasionalismenya itu hanya terikat kepada Al Qur’an dan Hadist Mutawir, atau minimal hadist yang diriwayatkan oleh 20 sanad. Pendiri aliran ini Washil bin Atha’ dan pendukungnya antara lain Abul Huzail al Allaf, Ibrahim an Nazzam, Muammar ibnu abbad, Muhammad al-Jubbai dan al Jahiz. Dalam paham mereka, Al-Qur’an adalah mahluk dan diungkapkan dalam huruf atau suara yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW pada waktu, tempat dan bahasa tertentu. Ayat-ayatnya yang menyebutkan tangan, wajah, mata Tuhan dan yang seperti itu hendaklah difahami secara metaforis.
Selain itu menurut mereka Tuhan hanya berbuat baik danmesti berbuat demikian sebagai kewajiban-Nya untuk kepentingan manusia. Ia tidak bisa dilihat dengan mata jasmani, bukan saja di dunia, juga diakhirat. Manusia dalam pandangan mereka mempunyai kemampuan yang cukup untuk mengetahui adanya Tuhan, mengetahui baik dan buruk serta mengetahui dengan akalnya kewajiban untuk bersyukur kepada Tuhan dan mengamalkan kebaikan. Manusia memiliki kemauan bebas dan kebebasan bertindak: dan terhadap kebebasannya itu Tuhan akan mengadilinya nanti di akhirat.
Bila didasarkan pada pengertian harfiah tentang intelek atau intelektual yang berkaitan tentang akal fikiran atau mentalitas berdasarkan kemauan berfikir Al Qur’an banyak membahas. Sebagai contoh tentang akibat orang-orang bodoh. Pada Surat Al An’aam ayat 119. dijelaskan tentang orang-orang yang melampaui batas kerena tidak berpengetahuan. Atau surat Al An’aam ayat 144 tentang relasi ketiadaan pengetahuan dengan kezaliman. Hal ini sejalan dengan pengakuan keberadaan akal seperti pada Az Zumar ayat 91. dan kedudukan bagi orang yang berilmu seperti ayat.
Dari istilah intelektual muslim (Islam) Dawam Raharjo mengartikan bahwa ke-intelektualan adalah ekspresi dari ke-Islaman. Atau yang lebih jelas lagi, ke-Intelektualan adalah konsekuensi dari ke-Islaman. Artinya, bahwa sikap, budaya, kompetensi (dan status) intelektual seorang muslim adalah ekspresi dan konsekuensi dari deklarasi ke-Islaman muslim tersebut. Sehingga tampak secara tegas perbedaan antara orang Islam yang intelektual dan non-Islam yang intelektual. Ke-intelektualan seorang muslim adalah dikarenakan ke-Islamannya, sedangkan ke-intelektualan non muslim tidak berdasarkan ke-Islaman. Pengertian di atas hanya berdasarkan sebab terjadinya suatu ke-intelektualan, sedangkan hasil kongkrit (materiil) dari suatu ke-intelektualan non-muslim bisa saja lebih canggih atau lebih primitive.
Dari konsep intelektual Islam, terlebih dahulu perlu dikaji konsep Ulil Albab. Istilah Ulil Albab di dalam Al Qur’an terdapat pada beberapa ayat. Salah satu ayat tertera pada Ayat ke 190-191 Surat Al Ali Imron.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ(190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ(191)

“Sesungguhnya, dalam (proses) penciptaan langit dan bumi, dan (proses) pergantian malam dan siang, adalah tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi ulil albab (orang-orang yang berfikir [menggunakan intelek mereka]). Yaitu orang-orang yang berzikir (berlatih diri dalam mencapai tingkat kesadaran akan kekuasaan Allah) dalam keadaan berdiri, duduk, dan dalam keadaan terlentang, dan senantiasa berfikir tentang (proses) penciptaan langit dan bumi, (sehingga mereka menyatakan) wahai Tuhan kami, Engkau tidak menciptakan semua ini dalam keadaan sia-sia. Maha suci Engkau, peliharalah kami dari siksa api neraka” (QS 3: 190-191)
Dalam ayat Ali Imron 190-191, dinyatakan adanya aspek hasil pengamatan realitas (tanda-tanda alam), dan aspek hasil interpretasi intrinsik (proses) sebagai hasil proses fikir dan zikir. Di dalam konsep ini, kata ulil albab sebagai padanan arti Intelektual berarti ada kesinambungan antara kemampuan berfikir, merenung dan membangun teori ilmiah dari realitas alam yang empiris dengan metode induktif dan deduktifnya namun sekaligus mampu mempertajam analisisnya dengan mengasah hati dan rasa melalui berzikir.
Dalam perkembangan kaitan antara fikir dan zikir ini Taufik Pasiak menyatakan bahwa kadang kita salah mengartikan fikir sebagai kerja otak dan zikir sebagai kerja hati. Karena sesungguhnya setelah adanya perkembangan dalam ilmu kedokteran dalam bidang neurologi kedua kerja tersebut merupakan kerja otak dimana didalam organ otak ada organ yang berfungsi untuk melakukan tugas berlogika (untuk kerja fikir) dan ada organ yang berfungsi untuk intuisi (kerja zikir). Bahkan Taufiq Pasiak menyatakan bahwa sesungguhnya terjemahan kata qolb (qolbu) adalah menunjuk organ otak juga. Perasaan di dada itu adalah karena aliran darah yang mengalir tidak teratur di jantung, sehingga kadang orang menyebut bahwa qolb (terjemahan kata hati dari kata inggris heart bukan liver) itu berada di dada. Jadi otak bukanlah hanya fikiran karena otak tempat proses berfikir dan pengendali perasaan. Untuk pembahasan selanjutnya kata Ulil Albab dianggap sama dengan kata Intelektual (Islam).
Epilog
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) telah mengukir sebuah sejarah yang tidak mungkin mengelak dari konsep utama pendiriannya sebagai gerakan intelektual. Dalam realita kemusliman, ke-Indonesiaan, ke-Muhammadiyahannya IMM memiliki sebuah dilema kesejarahan yang menjadikan dirinya seakan inferior dibanding organ gerakan Mahasiwa lain di Indonesia. Intelektualitas sebagai konsekuensi ke-Islaman seseorang memerlukan pemetaan untuk membentuk jati diri yang lebih mantap. Dialektika identitas diri dari konsep Ulil Albab, Intelektual-Intelegensia, hingga Intelektual Organik perlu direlasikan dengan idealisme dakwah Islam, profesionalisme kader dan pemihakan. Sehingga peran kesejarahan IMM akan mantap khususnya dalam proses melakukan perkaderan demi tersedianya kader Bangsa, Ummat dan Persyarikatan.

Sejarah dan Identitas
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
Pengantar
Sebagai sebuah organisasi yang selalu berusaha mempelopori gerakan-gerakan organisasi kepemudaan yang lain, Ikatan mahasiswa Muhammadiyah selalu berpijak pada sebuah sejarah yang membuat IMM ini lahir, sebuah sejarah yang seharusnya selalu menjadi cambuk ketika para kader Ikatan sudah mulai kehilangan kepeloporannya.
Sebuah idemtitas yang bisa membedakan IMM dari organisasi-organisasi lain di saat organisasi-organisasi kepemudaan yang lain mulai terperosok pada jerat kekuasaan dan politik vertical, IMM tetap bersih dan selalu berusaha bersih.
Sejarah Berdirinya IMM
Pada tahun 60-an secara komparatif mahasiswa merupakan tokoh-tokoh elit dari kalangan para intelektual. Tetapi setelah terjadinya bom sarjana pada tahun 70-an dan pada awal 80-an, mahasiswa tak lagi memiliki predikat yang istimewa. Salah satunya adalah IMM, dimana organisasi ini didirikan oleh salah seorang tokoh bernama Drs. Moh. Djasman Al-Kindi ketua pertama IMM atas restu Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang diketuai oleh H.A. Badawi.
Pada dasarnya IMM didirikan atas dua faktor integral, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal bersumber dari kondisi Muhammadiyah sendiri, sedangkan aspek eksternal disebabkan kondisi di luar Muhammadiyah, yaitu realitas umat Islam dan bangsa Indonesia pada umumnya.
1. Faktor Internal
Aspek internal kelahiran IMM lebih dominan pada idealisme untuk mengembangkan ideologi Muhammadiyah, yaitu faham dan cita-cita Muhammadiyah. Pada awalnya dalam gerakan dakwahnya, Muhammadiyah telah memiliki organisasi otonom (ortom) seperti Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi’atul Aisyiyah yang dianggap cukup mampu menampung mahasiswa dan putra-putri Muhammadiyah untuk melaksanakan aktivitas keilmuan, keagamaan dan kemasyarakatan. Namun pada Muktamar Muhammadiyah ke-25 di Jakarta tahun 1936, dihembuskan cita-cita untuk mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah sekaligus agar mampu menghimpun mahasiswa Muhammadiyah dalam sebuah wadah organisasi otonom. Namun cia-cita itu lama terendapkan seiring dengan sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia, sampai dirintisnya Fakultas Hukum dan Filsafat PTM di Padang Panjang tahun 1955 dan Fakultas Pendidikan Guru di Jakarta tahun 1958.
Sementara Pemuda Muhammadiyah sendiri dalam Muktamar Muhammadiyah tahun 1956 menginginkan untuk menghimpun pelajar dan mahasiswa Muhammadiyah menjadi organisasi terpisah dari pemuda Muhammadiyah. Langkah selanjutnya dalam Konferensi Pimpinan daerah (KOPINDA) Pemuda Muhammadiyah se-Indonesia di Surakarta, akhirnya diputuskan untuk mendirikan Ikatan Pelajar Mahasiswa (IPM), dimana mahasiswa Muhammadiyah tergabung di dalamnya. Pasca lahirnya beberapa PTM pada akhir tahun 1950-an mendorong semakin kuatnya keinginan untuk mendirikan organisasi mahasiswa Muhammadiyah.
Berdasarkan pada hasil Muktamar I Pemuda Muhammadiyah 1956 dan diadakannya kongres mahasiswa Muhammadiyah di Yogyakarta (atas inisiatif mahasiswa dari Malang, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, dan Jakarta) menjelang Muktamar Muhammadiyah tahun 1962, yang merekomendasikan dilepaskannya departemen kemahasiswaan dari Pemuda Muhammadiyah. Sebagai tindak lanjut, dibentuk kelompok Dakwah Mahasiswa yang dikoordinir oleh Ir. Margono, dr. Sudibyo Markus, dan Drs. Rosyad Saleh. Ide pembentukan ini berasal dari Drs. Moh. Jazman Al-Kindi yang saat itu menjadi sekretaris PP Pemuda Muhammadiyah pada tanggal 14 Maret 1964 atau 29 Syawal 1384 H.

2. Faktor Eksternal
Realitas sejarah sebelum kelahiran IMM bahwa hampir sebagian besar putra-putri Muhammadiyah dikader oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dan HMI secara organisasi ikut dibesarkan dan didanai oleh Muhammadiyah dalam aktivitasnya. Ada apa antara Muhammadiyah dan HMI sebenarnya? HMI adalah organisasi mahasiswa underbow Masyumi (untuk pelajar-PII). Sementara Masyumi memiliki hubungan kultural dengan Muhammadiyah, karena Muhammadiyah dalam pemilu 1955 mendukung Masyumi (bukan seperti NU yang menjadi partai politik).
Pergolakan organisasi kemahasiswaan antara tahun 1950 s/d 1965 membawa perubahan peta pergerakan organisasi kemahasiswaan. Seiring dengan semakin dominannya PKI dalam percaturan politik mendekati tahun 1965. HMI yang identik dengan Masyumi menjadi sasaran politik pemberangusan lawan politiknya, PKI. Sehingga muncul desakan untuk membubarkan HMI atas dorongan PKI yang dekat dengan Presiden Soekarno. Kondisi itu merupakan sinyal bahaya bagi eksponen mahasiswa Muhammadiyah. Dibutuhkan organisasi alternatif untuk menyelamatkan kader-kader Muhammadiyah yang ada di HMI. Tapi kita tidak hanya melihat ini sebagai unsur keterpaksaan semata, melainkan unsur-unsur lain yang menjadi keharusan sejarah.
IMM dalam Sejarah Pergerakan Mahasiswa Indonesia
IMM merupakan kekuatan besar dalam setiap momentum perjuangan Mahasiswa Indonesia, disamping HMI, PMII, PMKRI, GMNI, dll. Perjalanan sejarah bangsa Indonesia yang unik menempatkan mahasiswa pada posisi istimewa sebagai pendobrak kemapanan sistem kekuasaan melalui berbagai fase bersejarah gerakan mahasiswa Indonesia. Mulai periode 1966, 1974 dan 1978, dan 1998 sampai 2002. IMM pada periode ini pun banyak melahirkan tokoh-tokoh bangsa seperti Dr. Jasman Al-Kindi, Prof. Dr. Amien Rais, Dr. Sudibyo Markus, Dr. yahya Muhaimin, Dr. Bambang Sudibyo, Prof. Dr. Dien Syamsudin, hingga tokoh-tokoh muda yang ada di parlemen, birokrasi, parpol, akademisi dan lembaga-lembaga lain.
IMM lahir bukan dengan ciri gerakan aksi seperti KAMMI atau gerakan politik vertical seperti HMI. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sejak kelahirannya mendeklarasikan diri sebagai gerakan intelektual sekaligus gerakan sosial politik, dengan semboyan “unggul dalam intelektualitas, anggun dalam moralitas”. Sehingga ciri ini menempatkan IMM pada posisi yang agak jauh dari pergumulan kekuasaan ‘orde baru’ yang berakhir dengan reformasi 1998. Ketika organisasi kemahasiswaan lain sibuk dengan ‘cuci gudang’ pasca 1998, IMM masih tetap steril dari “generasi laten orde baru”.
Saat ini dan ke depan, keberadaan IMM akan semakin penting dan kian dihargai dalam pergumulan realitas kebangsaan, baik politik, sosial, ekonomi, budaya, maupun dalam dunia keilmuan. Terbukti IMM merupakan organisasi kemahasiswaan dengan jaringan terluas yang ada di 172 cabang di seluruh Indonesia. Secara historis posisi IMM diuntungkan dengan bersihnya IMM dari konspirasi politik orde baru yang penuh korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang telah melibatkan banyak elemen kemahasiswaan lain. Sementara IMM tetap konsisten dengan gerakan moral & intelektual, sebuah citra dan modal yang sangat berharga bagi perjalanan IMM ke depan.
Identitas IMM
IMM merupakan organisasi kader di lingkungan Muhammadiyah, seperti juga organisasi mahasiswa lainnya, identitas merupakan cirri khas yang membedakan dengan lainnya, (ideintiatas IMM) yaitu:
• IMM adalah organisasi kader
IMM merupakan organisasi kaderisasi yang bergerak dibidang keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.
• IMM sebagai Ortom Muhammadiyah
IMM merupakan organisasi otonom Muhammadiyah, menjiwai semangat Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah khususnya di tengah-tengah mahasiswa, yaitu menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar, sebagai mana yang tertuang dalam ayat 104 surat Ali Imron yang berbunyi :
“dan hendaklah diantara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada keutamaan, menyuruh kepada yang baik (ma’ruf) dan mencegah yang buruk (munkar), merekalahorang-orang yang menang (falah)”
• IMM sebagai gerakan Religius & Intelektual
Aktualisasi yang dilakukan merupakan proses integrasi dari nilai-nilai religius dan ilmiah, artinya pola gerakan yang dibangun senantiasa mengedepankan wacana dzikir dan fikir.
• Setiap kader IMM harus mencirikan:
1. Tertib dalam ibadah sebagai wujud ke-taqwa-an
2. Tekun dalam mengkaji dan mengamalkan ilmu
3. Konsisten dalam perjuangan keagamaan dan kemasyarakatan
Dan dalam memegang teguh identitas, Ikatan mahasiswa Muhammadiyah di setiap gerak perjuangannya telah meletakkan beberapa dasar falsafah:
1. Semua amal gerak harus diabadikan untuk Allah.SWT semata
2. Keikhlasan menjadi landasannya
3. Ridho Allah harus menjadi ghoyah terakhir, karena tanpa ridho-Nya tidak akan pernah ada hasilyang akan dicapai
4. Tenaga praksis (power of action) sangatlah menentukan, karena nasib kita akan sangat tergantung pada usaha dan perbuatan kita sendiri.
Misi & Visi IMM
Seperti yang dirumuskan dalam AD IMM, tujuan didirikannya IMM adalah: “Mengusahakan terbentuknya akademisi muslim yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah”. Tujuan ini kemudian dijabarkan dalam bentuk misi yang wajib diemban oleh setiap kader ikatan yang terdiri dari misi keagamaan, keintelektualan, dan kemasyarakatan.
Visi adalah “seperangkat pengetahuan yang diyakini kebenarannya yang akan memberi arahan tujuan yang akan dicapai sekaligus memberi arahan proses untuk mencapai tujuan”. Dalam konseptualisasi gerakan ini visi yang dicita-citakan harus senantiasa terpelihara secara kokoh di dalam “state of mine” kader-kader persyarikatan yang dibina oleh Ikatan sebagai bentuk pelestarian dokrin dan loyalitas kelembagaan. Dengan demikian integrasi dari misi dan visi ikatan ini menjadi mainstream yang secara komunalitas akan membingkai kader-kader Ikatan dalam satu kerangka keseragaman paradigmatik atau pola pikir yang dikembangkan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.
Misi dan Visi gerakan IMM tertuang dalam Tri Cita Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah :
• Keagamaan (religiusitas)
Sebagai organisasi kader yang berintikan nilai-nilai religiusitas, IMM senantiasa memberikan pembaruan keagamaan menyangkut pemahaman pemikiran dan realisasinya, dengan kata lain menolak kejumudan. Menjadikan Islam dalam setiap proses sebagai idealitas sekaligus jiwa yang menggerakkan. Motto indah yang harus diaktualisasikan adalah :
“Dari Islam kita berangkat (landasan & semangat) dan kepada islam lah kita berproses (sebagai cita-cita)”
• Keintelektualan (Intelektualitas)
Dalam tataran intelektual IMM berproses untuk menjadi “centre of excellent”, pusat-pusat keunggulan terutama sisi intelektual. Organisasi ini diharapkan mampu menjadi sumber ide-ide segar pembaharuan. Sebagai kelompok intelektual, kader IMM harus berpikir universal tanpa sekat eksklusivisme. Produk-produk pemikirannya tidak bernuansa kepentingan kelompok dan harus bisa menjadi rahmat untuk semua umat.
• Kemasyarakatan (humanitas)
Perubahan tidak dapat terwujud hanya dengan segudang konsepsi. Yang tak kalah pentingnya adalah perjuangan untuk mewujudkan idealitas (manifestasi gerakan). Kader IMM harus senantiasa berorientasi objektif, agar idealitas dapat diwujudkan dalam realitas. Namun perlu dicatat, membangun peradaban tidak dapat dilakukan sendirian (eksclusif), dalam arti kita harus menerima dialog dan bekerjasama dengan kekuatan lain dalam perjuangan.
Profil Kader IMM
Tiga kompetensi dasar di atas harus terinternalisasi melalui proses dan kultur IMM. Indikasi dari terpenuhinya kemampuan-kemampuan tersebut dapat dinilai dari 3 kadar indikator, yaitu:
1) Kompetensi Dasar Keagamaan
 Akidah yang terimplementasi.
 Tertib dalam ibadah.
 Menggembirakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi mungkar.
 Akhlaqul karimah.
2) Kompetensi Dasar Keintelektualan
 Kemampuan bersikap rasional dan logis.
 Ketekunan dalam kajian dan pengembangan ilmu pengetahuan.
 Pengembangan kemampuan manajerial.
 Terbuka terhadap pandangan baru.
 Memiliki tanggung jawab sosial dengan mengembangkan kesadaran ilmiah.
3) Kompetensi dasar Humanis atau Kerakyatan
 Agamis dan senantiasa setia terhadap keyakinan dan cita-cita.
 Rasa solidaritas sosial.
 Sikap kepemimpinan sosial dan kepeloporan.
 Bersikap kritis terhadap diri dan lingkungan.
 Kedewasaan sikap yang tercermin dari kedalaman wawasan.
 Berpribadi Muhammadiyah.
TEKNIK PERSIDANGAN
Dalam Negara yang menganut asas demokrasi, istiah mufakat akan selalu muncul disetiap engambilan keputusan. Mufakat berarti sesuatu yang dihasilkan melalui jalan musyawarah. Dalam musyawarah juga dikenal namanya siding, dan disini kita akan belajar tekhnik-tekhnik persidangan.
1. Bentuk-nemtuk sidang.
Dilihat dari bentuk pelaksanaan sidang. Maka sidang dapat dibedakan menurut.
1. Sidang Pleno.
Sidang yang dihadiri oleh seluruh komponen sidang yang ada pada suatu forum.
2. Sidang komisi
Sidang kelompok yang dilaksanakan dengan membagi peserta sidang dalam beberapa bagian dengan tempat berbeda dan pembahasan yang berbeda pula.
3. Sidang sub komisi.
Sidang kelompok yang dilaksanakan dengan membagi kelompok komisi menjadi beberapa bagian lagi sesuai kebutuhan, mungkin dengan pertimbangan banyaknya pemasalahan yang harus dibahas, sehingga lebih ringan dan cepat jika dibagi. Dilihat dari bentuknya.
1. Sidang mengikat
Sidang yang dilaksanakan sesuai dengan suatu agenda dan peserta sidang adalah orang-orang yang mempunyai hak untuk ikut sidang. Dan biasanya sidang ini bersifat tetutup.
2. Sidang yang tidak mengikat,
A). Debat.
Adalah pertemuan yang membicangkan suatu masalah yang dilakukan oleh beberapa komponen, yang saling berbeda pendapat dengan argument yang dilontarkan dengan maksud untuk mencari penyelesaian.
B). DIskusi Panel
Suatu pertemuan yang membahas suatu permasalahan yang diikuti oleh para narasumber dari keahlian yang berbeda
C). Seminar
Suatu pertemuan yang membahas permasalah yang terfokus dan terarah dengan menghadirkan beberapa pakar dibidangnya.
D). Lokakarya
Suatu pertemuan yang dihardiri beberapa kelompok dan pemateri dan disertai langsung
praktek/Pelatihan.
2.Komponen-komponan sidang.
1). Presidum Sidang (nggih puniko…) Orang yang memimpin jalannya persidangan Hak dan Kewajiban Presidium Sidang: menghantarkan sidang, mengatur dan mengontrol jalannya sidang, dan mengesahkan hasil persidangan.
2). Peserta Sidang = semua para undangan peserta sidang.
a. Utusan
yang mempunyai hak suara dan hak bicara dalam persidangan, hak bicara peserta sidang diperbolehkan berargument, berpendapat dengan seijin presidium sidang.
b. Peninjau
yang hanya punya hak Bicara, yang sudah tentu tercantum dalam peserta undangan dan di ijinkan dengan seijin Presidium Sidang.
c). Kepanitiaan
dibagi 2 menjadi =
1). Organization commite (OC) katrok kalo ndak bisa mbaca…….
Kepanitiaan yang bertyanggung jawab terhadap operasional dan logistic persidangan, perijinan, konsumsi, pengadaan materi dan lain-lain yang diperlukan dalam persidangan.
2). Steering Commite (SC)
Kepanitiaan yang bertanggung jawab terhadap materi-materi, rancangan agenda sidang yang akan dibahas, pengaturan peserta, yang mengikuti persidangan atau dapat juga yang dikatakan sebagai penyedia perangkat lunak (bukan software) seperti rancangan tata tertib, surat keputusan.
3.Istilah dalam Persidangan
Dalam persidangan istilah untuk member masukan , pendapat, argument, gugatan, interupsi, ijin, dll. Haruslah disampaikan melalui presidium sidang.. adapun istilah-istilahnya adalah..
1). Interuption Point of ORDER
Digunakan untuk memberikan masukan yang berupa ide, gugatan, ketidak puasan, ketidak setujuan, ataupun solusi. Interupsi ini bersifat memerintah.
2). Interuption Point of INFORMATION.
Digunakan apabila peserta bermaksud memberi informasi karena mengetahui ataupun bertanya karena tidak mengetahui kepada presidium sidang.
3). Interuption Point of CLARIFICATION
Digunakan apabila peserta ataun pemimpin sidang bermaksud menjelaskan kembali pokok permasalahan, sehingga tidak ada kesalah pahaman antara semua peserta sidang berikut
Pemimpin sidang.
4). Interuption Point of JUSTIFICATION
Digunakan untuk menyutujui/menyepakati pendapat yang sudah diusulkan sebelumnya.
5). Interuption Point of PREVILAGE
Digunakan untuk pernyataan sikap ego peserta, ataupun keberatan peserta sidang terhadap peserta sidang yang lain yang dianggap melecehkan….merendahkan… menghina harga diri pserta lain atau peserta meminta izin kepada presidium sidang yang berkenan dengan
kepentingan pribadi.
(bagi presidium sidang, urutan-urutan diatas sudah merupakan urutan prioritas apabila peserta sidang dalam waktu yang bersamaan mengajukan interupsi….)
4). Proses Pengambilan Keputusan.
Dalam sidang ada tiga mekanisme dalam pengambilan keputusan:
a. Kesepakatan
Bila Forum mempunyai pemikiran dan pendapat yang sama dalam mmbahas suatu hal. Tapi jika tidak terjadi kesepakatan final maka dilakukan Lobbiying.
b. Lobbiying
Ada dua pihak atau lebih yang berbeda pendapat dan keinginan untuk mencapai suatu kesepakata, atau disebut juga tawar menawar. Dan bila tidak terjadi kesepakatan pula maka dilakukan Votting.
c. Votting.
adalah proses pengambilan suarau terbanyak… jika masih belum juga mencapai kesepakatan maka presedium sidang berhak melakukan penundaan.
5) Etika Persidangan.
a). Luruskan Niat Karena Allah
b). menjunjung tinggi dan Menghormati Forum
c). menjaga sikap objektif
d). sopan dalam mengutarakan
e) menghargai Pendapat orang lain
f) Lugas

Contoh Draf Persidangan
Draf Pemilihan Formatur Panitia Musyawarah Komisariat BBM (Baru Bisa
Mimpi) 2018

Bab I
Ketentuan Umum
Pasal 1
1. Yang disebut Formatur adalah mereka yang berhak menentukan Komposisi Kepanitiaan Musyawarah Komisariat BBM
2. Panitia Musyawarah Komisariat BBM adalah semua peserta yang telah mengikuti dan dinyatakan lulus DAD yang diadakan oleh Pimpinan Cabang
Bab II
Keputusan Sidang
Pasal 2
1. Setiap Keputusan diambil dengan cara Musyawarah untuk mufakat.
2. Apabila Point pertama tidak tercapai, maka kekputusan diambil dengan cara lobbiying.
3. Dan apabila cara kedua tidak terpenuhi maka keputusan diambil dengan pingsut..
Bab III
Peserta Sidang
Pasal 3
1. Peserta sidang adalah anggota IMM yang ttelah mengikuti DAD.
2. Semua Anggota dan Pengurus IMM Musyawarah Komisariat BBM
3. Semua simpatisan dan peminat IMM.
Pasal4
Hak dan Kewajiban Peserta Sidang
1. Peserta memiliki Hak Suara dan hak bicara.
2. Dalam menggunakan haknya, peserta harus melalui presidium sidang.
3. Peserta Wajib datang 15 Menit sebelum sidang dimulai
4. Peserta Perempuan berkewajiban menyiapkan Konsumsi.
5. Peserta laki-laki berkewajiban dalam hal perlengkapan.
6. Peserta sidang harus mengikuti jalannya sidang sampai selesai.
Bab IV
Syarat-syarat Formatur.
Pasal 6
1. Syarat Umum.
a. Telah atau sedang mengikuti Pengkaderan DAD.
b. Setia, pada asaz, tujuan dan perjuangan organisasi.
c. Memiliki pemahaman Ke-ber-Agamaan yang bagus
d. Memiliki prestasi yang dibanggakan
e. Sehat jasmani Rohani
f. Cakep dan tampan.
2. Syarat Khusus.
a. Calon formatur minimal semester 4 dan maksimal semester 8.
b. IPK minimal 3.0
c. Mampu membaca Al-Qur’an Secara benar.
d. Punya pendukung.
3. Calon formatur dinyatakan syah bila didukung minimal 10 suara dan menyatakan kesediaannya di depan forum, serta menyampaikan pandangan umum di
kepanitiaan Musyawarah Komisariat BBM.
Bab VI
Pemilihan
Pasal 7
Pemilihan Formatur dilakukan secara Langsung, umum, Bebas, Rahasia, Jujur, dan adil
serta diselenggarakan dengan meriah.
Bab VII
Tata cara Pemilihan Formatur
Pasal 8
1. Setiap peserta sidang berhak memilih satu orang calon formatur yang sudah
dinyatakan syah.
2. Formatur yang memperoleh suara terbanyak adalah sebagai ketua formatur.
3. Ketua formatur terpilih diharuskan mandi janabat/mandi besar sebelum
pelantikannya.
Bab VIII T
ugas Formatur
Pasal 9
1. Menyusun dan membentuk kepanitiaan Musyawarah Komisariat BBM
2. Memimpin sidang Formatur.
3. Menyediakan keperluan seluruh anggota Musyawarah Komisariat BBM.
4. Mengumumkan hasil rapan didepan Umum.
Bab IX
Penutup pasal 10
Segala sesuatu yang belum diatur ,ditetapkan kemudian.
Ditetapkan tanggal :
Pukul :
Bertempat di :
Presidium sidang I : Presidium sidang II : Presidium sidang III
(…………………………) (…………………………) (…………………………)
MARS IMM
Lagu : Mursjid
Syair : M. Diponegoro
Ayolah Ayo-ayo
Derap derukan langkah
Dan kibar geleparkan panji-panji
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
Sejarah Ummat Telah Menuntut Bukti
Ingatlah Ingat-Ingat
Niat â˜tlah di ikrarkan
Kitalah cendekiawan berpribadi
Susila cakap taqwa kepada Tuhan
Pewaris Tampukpimpinan ummat nanti
Immawan dan Immawati
Siswa tauladan Putra harapan
Penyambung Hidup generasi
Ummat Islam seribu zaman
Pendukung cita-cita luhur
Negri indah adil dan makmur
MARS
MUHAMMADIYAH
Am
Sang surya telah bersinar
A Dm
Syahadat dua melingkar
F Am
Warna yang hijau berseri
Em Am
Membuatku rela hati
Ya Allah Tuhan Ribbiku
Muhammad junjunganku
Al Islam agamaku
Muhammadiyah gerakanku
Reff : Am
Ditimur fajar cerah gemerlapan
A Dm
Mengusir kabut hitam
G F G
Menggugah kaum muslimin
F G Am
Tinggalkan peraduan
Lihatlah matahari telah tinggi
Diufuk timur sana
Seruan Illahi Robbi
Sami’na waatho’na

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.