Artikel Hakekat ISLAM

HAKIKAT ISLAM

Pengantar
Sebagai sebuah entitas yang multi-interpretable, Islam menjadi mungkin untuk didekati dalam banyak perspektif, seperti perspektif budayanya, jurisprudensinya, spiritualitasnya saja dan lain sebagainya. Terlepas dari banyaknya perspektif yang dapat kita gunakan tersebut, dalam konteks perkaderan di IMM, diperlukan perspektif pemahaman yang segar atas Islam. Dalam arti Islam tidak hanya boleh dipahami dalam perspektif rasionalisasi realitas dan gejala empiris semata, akan tetapi perspektif pemahaman atas Islam tersebut harus dapat menyentuh sisi-sisi emosional (afektif) kesadaran keagamaan dan kesadaran ketuhanan (god concicousnes) kader-kader Ikatan., yang diharapkan mampu menumbuhkan tata nilai etis Islam yang membimbing kader menuju ridho Allah. SWT. Oleh sebab itu disamping internalisasi sisi-sisi normatif teks juga harus dikedepankan penciptaan suasan yang ‘islami’ secara formal.
Handout Materi
Kata Islam berasal dari kata Islaman yang merupakan derivasi (isytaq) dari kata aslama, berbentuk kata benda kerja (verbal noun/ mashdar), yang berarti keparahan dan ketundukan secara mutlak terhadap hukum-hukum Tuhan. Sikap yang sebenarnya adalah kecenderungan asasi (fitrah) dari semua makhluk yang ada di semesta ini: maka apakah selain dari agama Allah yang kamu pegang, padahal telah berserah diri (Islam) kepadaNya apa-apa yang ada di langit dan di bumi (ali imron: 83). Oleh sebab itu berislam berarti proses aktif seeorang untuk meleburkan diri dalam ketentuan-ketentuan Tuhan yang telah digariskan di alam semesta serta telah dititahkan dalam bentuk wahyu dan tauladan rasul-rasulnya. Risalah ilahiyah yang diwahyukan inilah yang disebut sebagai risalah munazzalah yang merupakan fitrah asazi manusia. Fitrah ini tidak akan pernah bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal (fitrah majbulah) yang dapat dicapai manusia walaupun tanpa agama.”maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (fitrah munazzalah); tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu (fitrah majbulah) tidak ada perubahan pada fitrah Allah, (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. 30: 30).
Konsep mengenai tata nilai universal ini menegaskan bahwa apabila manusia mengikuti fitrahnya maka akan dapat menemukan nilai kebenaran yang berhubungan dengan sistem tingkah laku terhadap sesamanya dan alam sekitarnya. Hanya saja dibutuhkan petunjuk ilahi yang membimbing manusia menuju tuhannya, disamping itu manusia cenderung tidak bersikap kritis terhadap tata nilai yang sudah mentradisi dalam masyarakat, inilah kedua alasan yang menjadikan kehadiran rasul merupakan suatu keharusan. Nabi bersabda: sesungguhnya aku (Muhammad) diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak manusia (muttafaq’alaihi).
Dengan rasul-rasul tersebut Allah membimbing manusia untuk menemukan makna hidup sejati dan sistem tingkah laku (code of conduct) serta cara pandang manusia terhadap tuhannya, alam semesta dan dirinya sendiri, oleh sebab itulah maka risalah yang dibawa utusan-utusan Tuhan tersebut pada esensinya adalah sama dan selaras. Karena system tata nilai tersebut berasal dari tata nilai ideal yang tertinggi (matsal Al a’la) yang ketika berada dalam kondisi otentiknya hanya mampu tercakup dalam pengetahuan tuhan yang maha luas (ecclesiastical) dan transenden “dan pada Allah lah nilai-nilai tertinggi (al Matsal A’la) dan dialah yang maha perkasa lagi maha bijaksana” (An nahl: 60).
Jika seseorang tidak berislam maka jiwanya akan tersesat dan terbelenggu oleh taghut. Perkataan taghut adalah kata keterangan pelaku (Fa’il) dalam format penegasan (sighoh muballaghoh) berasal dari kata kerja tagha yang bermakna bertindak menguasai, tirani dan hegemoni. Maka berislam yang esensial adalah bagaimana melepaskan ikatan yang menyebabkan manusia tidak bebas dan merdeka dari kekuatan tiranik sesama makhlukNya yang berarti membuatnya telah keluar dari fitrah.
Kemudian siapa yang dapat dikategorikan sebagai muslim dan non muslim?. Disini kita akan menghadapi dua sudut pandang yang berbeda yakni agama sebagai institusi (organized religion) dan agama sebagai tata nilai fitri. Sebagai institusi maka agama mengidentifikasi adanya insider dan outsider dalam agama Islam. Identifikasi ini selain bertujuan praktis untuk amar makruf nahi munkar (oleh sebab itu kaum muslimin pengikut Muhammad disebut sebagai umat penengah dan sebaik-baik umat) menuju fitrah manusia yang asasi yaitu kesamaan konsep ketuhanan (kalimatun sawa’), juga untuk internalisasi semangat fitri kepasrahan tersebut dalam jiwa setiap muslim.
Sedang dalam perspektif islam sebagai fitrah manusia maka semua manusia memiliki potensi untuk menjadi muslim asalkan ia bersikap lapang dan secara tulus mengikuti fitrah kemanusiaan. Karena Islam disini bermakna sebagai kualitas ketauhidan sebagai mana kata Ihsan dan Iman. Kualitas yang bisa dimiliki siapa saja. Kualitas ini bisa terdegradasi dalam bentuk-bentuk yang minus seperti fasik, zindik, maupun munafik bila seseorang keluar dari fitrahnya. Oleh sebab itu pengikut Muhammad di Al Qur’an disebut sebagai kaum beriman dan bukan kaum muslimin.
Lawan kategoris dari kata muslim adalah kafir yang secara genetic berarti menyembunyikan, atau menutup. Jadi ia adalah kualitas sikap hidup seseorang yang menutup hatinya dari bimbingan Tuhan melalui fitrah kemanusiaan (majbullah) dan fitrah ilahiyahnya (munazzalah). Dalam persfektif agama sebagai institusi maka Islam mengenal kafir zhimmi yakni kaum beragama lain yang mau berdamai dengan kelompok kaum muslimin dan tidak mengadakan permusuhan, serta kafir harbi yakni umat beragama lain yang berbuat kerusakan dimuka bumi serta memusuhi umat Islam. Karena saat ini tidak dapat kita temukan lagi institusionalisasi Islam dalam bentuk khilafah yang tunggal maka konsep ini sudah tidak relevan lagi untuk diterapkan.
Sedang dalam perspektif substantifnya kafir berarti mengingkari keberadaan gharizah (insting) fitri manusia yang asasi. Oleh sebab itu kata kafir dalam Al Qur’an mempunyai banyak kategori yakni kafir inkar (yang bermakna tidak mengakui ketuhanan, keesaan, dan risalahnya), kafir jahid yang bermakna mengingkari adanya tauhid rububiyah, kafir nifak yakni kafirnya orang munafik dan kafir nikmat yakni seseorang yang mengingkari kemaha pemurahan Allah.
Dalam perjalanannya tata nilai, pandangan hidup dan pandangan dunia yang berasal dari Tuhan tersebut kemudian mengambil bagian dari sejarah kehidupan manusia. Unsur kesejarahan inilah yang sering dilupakan manusia, manusia sering mengklaim bahwa apa yang sampai kepada mereka adalah Islam yang otentik dan tidak lepas dari kesejarahan manusia. Padahal semenjak keberadaannya ke bumi, Islam telah menjadi bagian dari sejarah umat manusia, yang interpretable sesuai dengan kondisi ruang dan waktu sang penafsir serta kondisi obyektif yang meliputi penafsirnya.
Kesejarahan Islam tersebut mengambil bentuk dalam peradaban manusia dalam disiplin keilmuan, yang meliputi hukum, telogi, falsafah dan mistisme dan dalam wujud kongkrit kebudayaan dan peradaban umat manusia. Bentuk sejarah inilah yang sekarang sampai kepada kita saat ini.
Oleh sebab itu dalam ber-Islam kita dilarang bertaklid, disamping karena hubungan dengan tuhan melibatkan kualitas interaksi yang sifatnya private juga hal tersebut berarti menganggap Islam yang mengada dalam sejarah kemanusiaan tersebut adalah islam yang otenik. Sikap ini sangat berbahaya karena sering kali terjadi deviasi bahkan pemalsuan ajaran Tuhan yang sekarang disampaikan Tuhan melalui rasulnya akibat proses sejarah dan kesengajaan oknum tertentu.
Untuk menentukan otensitas islam maka kita harus melakukan penggalian geneologis dalam lapisan-lapisan sejarah itu sehingga kita akan dapat menangkap makna dalam dan pemahaman yang seharusnya atas keberadaan Islam di dunia ini. Dengan begitu akan ada kontinuitas dalam menangkap makna dan semangat Islam semenjak zaman nabi sehingga ke masa kini. Tidak bisa kita hanya memahami Islam dari sumber-sumber terkini karena kalau ada distorsi konsep, semangat maupun nilai kita tidak akan pernah dapat melacaknya. Untuk melakukan penggalian geneologis ini maka kita membutuhkan banyak diiplin keilmuan dasar seperti bahasa dan penguasaan sumber utama Islam (Al Qur’an dan Hadist) yang memadai dan keilmuan keislaman lainnya. Wallahu’alam Bissowab.
Pemantapan
Disampaikan diakhiri session atau diakhir pelatihan, bisa berupa pemantapan dengan komunikasi verbal dan atau dengan tulisan ataupun, pemantapan yang berifat menyegarkan seperti permainan, simulasi dan sebagainya. Dianjurkan untuk memberikan pemantapan ini pada akhir session karena suasana yang ada masih terbangun dan fokus peserta masih terjaga, dengan alokasi waktu kira-kira 10-15 menit.
Contoh-contoh pertanyaan untuk pemantapan:
 Makna generik dari kata Islam adalah menyerahkan diri kepada Allah, dengan demikian apakah semua penyerahan diri kepada Allah atau yang dianggap Allah walaupun melalui jalan yang tidak diajarkan oleh nabi dapat disebut sebagai ber-Islam?
 Seorang yang berijtihad dengan mandiri akan bertanggungjawab terhadap hasil ijtihadnya sendiri, oleh sebab itu sebaiknya kita menyadarkan keislaman kita dengan bertakliq kepada imam tertentu karena kita tidak akan bertanggungjawab terhadap hasil ijtihad tersebut karena semua telah ditanggung imam yang bersangkutan, bagaimana komentar anda tentang pertanyaan ini?
 Dalam surat At Taubah disebutkan “dan barang siapa menghukumi dengan selain apa yang diturunkan Allah maka mereka termasuk orang-orang yang kafir”. Saat ini di Indonesia yang kita pakai adalah hukum yang diturunkan oleh Allah, apakah kita termasuk orang kafir?
 Tujuan dari shalat adalah untuk menumbuhkan sikap amar ma’ruf nahi munkar, kalau sikap ini sudah kita miliki berarti kita tidak perlu melakukan sholat. Bagaimana komentar anda atas pernyataan ini?

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s