KEPEMIMPINAN

KEPEMIMPINAN

Pendahuluan.
Salah satu alasan berdirinya organisasi mahasiswa atau pemuda adalah sebagai sarana pengembangan kader-kader pemimpin bangsa yang tangguh untuk menyongsong masa depan. Karena itu masalah pemimpin (leader) dan kepemimpinan (leadership) selalu mendapat porsi yang strategis dalam setiap gerak dan dinamika organisasi-organisasi tersebut.
Menilik dari catatan sosio-historis perkembangan organisasi mahasiswa/pemuda di Indonesia, setiap fase sejak era kolonialisme, awal kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan telah banyak melahirkan kader-kader pemimpin bangsa, terlepas dari pasang surut yang dialami pada setiap fase sebagai respon terhadap perubahan social yang terjadi di masyarakat. Fenomena kepemimpinan secara alamiah memang akan menjadi semakin kompleks kalau dihadapkan pada realitas sosial kehidupan masyarakat yang semakin diwarnai oleh kompetisi dan konflik.
Kondisi obyektif masyarakat Indonesia yang sangat plural dan memiliki tingkat pemilahan sosial (social cleavage) yang tinggi serta relatif masih rendahnya mobilitas sosial menuntut kualifikasi kepemimpinan yang cukup tinggi sebagai syarat bagi seseorang untuk menjadi pemimpin (Gaffar,1990). Mempersiapkan calon pemimpinan bangsa di masa depan (kasus Sekolah Taman Madya Taruna Nusantara) yang mencoba mengkombinasikan konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara dan semi militer. Pro dan kontra terhadap efektifitas lembaga semacam ini terus bermunculan. Tetapi secara rasional dalam realitas pola rekruitment kepemimpinan yang relatif tertutup selama beberapa fase akhirnya melahirkan pemimpin yang diragukan kemampuannya dalam pencapaian tujuan.
Saat ini bangsa Indonesia masih menyisakan multi krisis yang demikian kompleks. Padahal beberapa negara yang juga mengalami krisis pada beberapa tahun yang lalu telah mampu keluar dari lingkaran. Hal ini tentu saja dikarenakan adanya kebijakan dan kekompakan dari elit politik yang berperan dalam mengambil kebijakan. Sedangkan di Indonesia, krisis tidak kunjung selesai dan bahkan ada kecenderungan meningkat serta mengarah pada disintregasi bangsa yang merupakan imbas betapa tidak mampunya pemimpin kita saat ini. Maka tidak salah jika forum “45 mengidentifikasi bahwa krisis bangsa Indonesia adalah akibat krisis kepemimpinan, baik yang di eksekutif maupun legislatif.
Definisi Kepemimpinan.
Kepemimpinan menurut Mac Gregor (Gaffar,1990) tidak lain adalah, “Kemampuan untuk memobilisasi dan mengelola sejumlah sumber daya dalam rangka mencapai tujuan yang sudah ditentukan”. George R Terry mendefinisikan kepemimpinan sebagai aktivitas mempengaruhi orang-orang untuk mencapai tujuan kelompok secara suka rela. Dari berbagai definisi tentang kepemimpinan yang berkembang saat ini, disepakati bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktifitas seseorang atau kelompok orang untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa proses kepemimpinan adalah fungsi pemimpin, pengikut dan variable situsional lainnya (Hersey and Blanchard,1986).
Definisi tersebut tidak menekankan pada suatu jenis organisasi tertentu. Dalam situasi apapun dimana seseorang berusaha mempengaruhi perilaku orang lain atau kelompok, maka sedang berlangsung proses kepemimpinan. Dengan demikian, setiap orang melakukan proses kepemimpinan dari waktu ke waktu, apakah aktifitasnya dipusatkan pada dunia usaha, lembaga pendidikan, organisasi, atau keluarga.
Apabila di dalamnya disebutkan ada pemimpin dan pengikut, bukan berarti bahwa hubungan hirarkis antara atasan dan bawahan akan menjadi titik tekan dalam pembahasan ini. Setiap saat seseorang berusaha mempengaruhi perilaku orang lain, maka orang itu adalah pemimpin potensial, dan orang yang dipengaruhi adalah pengikut potensial, tidak jadi soal apakah itu atasan, rekan sejawat, bawahan, kawan maupun sanak keluarga. Pemimpin dalam konteks ini adalah orang yang mampu mempengaruhi orang lain dan yang memiliki otoritas manajerial. Ia dapat ditunjuk atau muncul dari suatu kelompok dan kemampuannya dalam mempengaruhi orang lain.
Karena kekuasaan (power) adalah inti dari kepemimpinan, maka sumber-sumber kekuasaan juga menjadi penting. Amitai Etzioni membagi sumber kekuasaan menjadi kekuasaan posisi (position power) dan kuasa pribadi (personal power). Perbedaan ini berkembang dan konsep tentang kekuasaan sebagai kemampuan untuk menimbulkan atau mempengaruhi perilaku (Hersey and Blanchard, 1986). Sumber-sumber kekuasaan dibagi menjadi lima dimensi sebagai berikut:
a) Kekuasaan karena kedudukan/jabatan (kekuasaan legitimasi)
b) Kekuasaan karena kualitas pribadi yang menimbulkan rasa hormat/segan (kekuasaan pribadi).
c) Kekuasaan karena kemampuan memberi atau mencabut anugerah yang bernilai tinggi (kekuasaan berlian).
d) Kekuasaan karena kemampuan menjatuhkan hukuman atau menimbulkan keadaan yang tidak disenangi (kekuasaan paksaan).
e) Kekuasaan karena kemampuan intelektual/keahlian/ketrampilan atau memiliki sesuatu yang berharga (kekuasaan pengetahuan).
Adapun unsur pengikut juga mendapat perhatian dalam kepemimpinan. Secara formal pemimpin dan pengikut dapat dibedakan, namun belum tentu dalam praktek pemimpin formal yang berpengaruh, bisa saja pemimpin informal justru dipengaruhi pengikut. Adapun empat golongan pengikut sebagi berikut:
1) Pengikut konstruktif, yaitu pengikut yang patuh kepada pemimpin tetapi kritis dalam memberi saran-saran apabila dirasa perlu untuk pencapaian tujuan.
2) Pengikut subversif, yaitu pengikut yang egois, tidak loyal, musuh dalam selimut, dimana kepatuhannya hanya untuk tujuan-tujuan tertentu pribadinya.
3) Pengikut rutin, yaitu pengikut yang asal patuh saja, pasif dan tanpa berfikir.
4) Pengikut fanatik, yaitu pengikut yang cenderung memuja serta membangun kultus individu terhadap pemimpin.
Pendekatan dan Model-Model Kepemimpinan
Jika kita mengamati perilaku kepemimpinan, maka kita dapat membaginya menjadi tiga bagian pendekatan (adair,1994). Yaitu:
a. Pendekatan Situasional terhadap Kepemimpinan
Pendekatan ini merupakan pendekatan tradisionalis. Dalam pendekatan ini disebutkan bahwa orang dapat tampil menjadi pemimpin dalam sebuah kelompok karena memiliki cirri-ciri tertentu, tetapi tidak memfokuskan pada kemampuan atau potensi kepemimpinan yang dimiliki. Walaupun banyak ditolak oleh kebanyakan ilmuwan karena berdasarkan penelitian melanggar demokrasi, namun tetap disepakati bahwa pemimpin memang memiliki kualitas tertentu yang diharapkan oleh kelompoknya. Sehingga ia sekaligus sebagai cermin kelompoknya.
b. Pendekatan Kelompok
Pendekatan ini memandang kepemimpinan menurut fungsi yang memenuhi kebutuhan kelompok, yaitu apa yang harus dilakukan. Di sini terjadi interaksi antara tiga variable penting, yakni: pemimpin yang berkaitan dengan kualitas, kepribadian dan watak, kemudian situasi penunjang, dan berkaitan dengan pengikut dan kebutuhannya.
c. Pendekatan fungsional.
Pada bagian ini pendekatan mempertimbangkan fungsi-fungsi kepemimpinan sebagai variable yang penting. Misalnya keikutsertaannya dalam pengambilan keputusan, konsistensi dan fleksibilitas (kualitas), level kepemimpinan, dan nilai-nilai yang dianut sebagai indikator kualitas kepemimpinan dan penerapannya.
Berbagai pendekatan yang telah diuraikan diatas dapat dikonfirmasi secara teoritik dengan teori perilaku kepemimpinan yang berkembang sampai saat ini, diantaranya:
a) Model Fiedler, menyatakan bahwa kelompok-kelompok yang efektif tergantung pada kecoccokan antara gaya interaksi seorang pemimpin dengan anak buah serta sejauh mana situasi memberi kendali dan pengaruh pada pemimpin itu. Menurut model ini, ada tiga factor yang menentukan efektifitas kepemimpinan, yaitu:
1. Hubungan Pemimpin-Anggota, yaitu tingkat kepercayaan, keyakinan dan rasa hormat anak buah terhadap pemimpin mereka (baik atau buruk).
2. Struktur tugas, sejauh mana formalitas tugas-tugas yang dipandang secara prosedural (tinggi atau rendah).
3. Kekuasaan posisi, tingkat pengaruh yang dimiliki pemimpin berdasar kekuasaannya seperti memerintah, memecat, menertibkan, mengangkat dan sebagainya (kuat atau lemah)
b) Model Alur Tujuan, Bahwa tingkah laku pimpinan itu dapat diterima bawahan sejauh mereka menganggap sebagai sumber kepuasan, entah langsung atau masa depan. Pada model ini ada empat perilaku pemimpin, yaitu:
• Pemimpin yang direktif, membiarkan bawahannya mengetahui apa yang diharapkan dari diri mereka, menjadwal pekerjaan sebagai mana mestinya dilakukan, memberi bimbingan spesifik dalam menyelesaikan tugas.
• Pemimpin yang suportif, bersikap bersahabat dan menunjukkan perhatian terhadap kebutuhan bawahan.
• Pemimpin yang partisipatif, memberikan kesempatan bawahan dalam memberikan saran dan kritik (berunding) sebelum membuat keputusan.
• Pemimpin yang berorientasi prestasi, mematok tujuan-tujuan mendatang dan mengharapkan bawahan bekerja pada tingkat tinggi (maksimal).
c) Model Partisipasi Pemimpin, menurut Victor Vroom dan Phillip Yetton model ini menggambarkan hubungan perilaku pemimpin dan pembuat keputusan.
Beberapa model kepemimpinan diatas dapat dikelompokkan sebagai bagian dari teori kontingensi. Sedangkan beberapa pandangan kepemimpinan yang lebih dapat diterapkan, meliputi:
1. Teori Atribusi Kepemimpinan, dalam konsep ini kepemimpinan sekedar atribut yang dibuat orang mengenai individu dan lain. Misalnya, kecenderungan orang mencirikan pemimpin memiliki karakterristik, kecerdasan, keterampilan, dan lain-lain.
2. Teori Kepemimpinan Karismatik, pengikut cenderung membuat atribusi-atribusi kepemimpinan yang heroik atau luar biasa. Karakteristiknya meliputi keyakinan, visi, dan ideology. Mengartikulasikan keyakinan kuat terhadap visi, perilaku yang lain dari biasa, penampilan terhadap kepekaan lingkungan.
3. Teori Kepemimpinan Visioner, yaitu kemampuan untuk mencandra, menciptakan dan menegaskan suatu visi yang realistis, dapat dipercaya dan menarik menangani masa depan sebuah organisasi yang ada sekarang. Kepemimpinan model ini sekarang ini banyak diperbincangkan sebagai syarat yang harus dimiliki pemimpin organisasi demi menjawab tantangan masa depan. Tiga sifat yang harus dimiliki pemimpin Visioner adalah :(1) emampuan untuk menjelaskan visi kepada oprang lain (komunikator yang baik); (2) Kampuan-kemampuan untuk menafsirkan visi dalam perilaku (mengaktualisaikan); (3) Kemampuan untuk memperluas atau menerapkan visi pada berbagi konteks kepemimpinan.
4. Teori Kepemimpinan Transaksional, adalah kepemimpinan yang membimbing dan memotivasi pengikut-pengikut mereka dalam arah tujuan yang sudah ditetapkan dengan cara menjelaskan persyaratan peran dan tugas. Model Fiedler, Alur-tujuan, dan partisipasi pemimpin termasuk dalam tipe ini.
5. Teori Kepemimpinan Transformasional, adalah kepemimpinan yang memberikan pertimbangan yang tersendiri, rangsangan intelektual dan memiliki kharisma. Kepemimpinan yang memperhatikan perkembangan masing-masing pengikut dan selalu memandu menuju perbaikan.
Kepemimpinan dapat juga diklasifikasikan berdasarkan atas kecenderungan dalam memimpin. Dari kecenderungan dalam memimpin tersebut, kemudian dibagi lima tipe kepemimpinan, yaitu:
a) Teori Otokratik, yakni pemimpin yang bersifat egois sehingga parameter yang dipakai dalam mengukur organisasi sangat subyektif. Selain itu, secara metode jenis-jenis perilaku loyalitas bawahan adalah kesetiaan pada dirinya. Dan dominasi peribadi terhadap kebijakan sangat kentara\menonjol.
b) Tipe Paternalistik, yakni pemimpin yang dimunculkan karena sifat keteladanan sehingga difigurkan.
c) Tipe Kharismatik, yakni kepemimpinan yang dimunculkan oleh seseorang yang diangap memiliki kemampuan yang tidak bisa dimiliki oleh masyrakat biasa dan terkadang orang yang dipimpin tidak mengetahui alasan secara logis mengapa demikian.
d) Tipe Laised Faire, yakni pemimpin yang mengangap bahwa organisasi dapat berjalan dengan sendirinya walau tanpa melalui bentuk manajemen yang baik. Dan biasanya tingkat intervensi pemimpin kepada bawahan sangat rendah.
e) Tipe Demokratik, yakni kepemimpinan yang menempatkan pemimpin dalam organisasi sebagai seorang koordinator, tetapi juga menempatkan diri sebagi mediator/fasilitator sehingga gerak dan langkah organisasi menggunakan pendekatan holistik dan intregralistik.
Kualitas Kepemimpinan.
Ukuran kualitas dari kepemimpinan adalah sejauh mana efektifitas seorang manajer menjalankan fungsi-fungsi kepemimpinannya. Efektifitas kepemimpinan itu tidak diukur dari sekedar mencapai keberhasilan tertentu. Faktor keberhasilan kepemimpinan biasanya mengutamakan kuasa posisi dan supervisi yang ketat. Pra syarat yang harus dipunyai dari kepemimpinan yang berkualitas adalah: Kecerdasan, pendidikan, keterampilan, dan daya andal dalam melakukan tanggung jawab, stabilitas emosi, ketegasan, obyektivitas dan kerja sama yang sinergis sebagai kekuatan progresif. Namun yang tidak kalah pentingnya adalah kepribadian yang tersirat dalam kepemimpinan karena menyangkut watak dan integritas moral yang dimiliki. Hal tersebut merupakan modal dalam membangun budaya kepercayaan & kredibilitas. Dan keberadaan kepercayaan ini harus didukung oleh:
• Integritas : Keterampilan dan kelugasan.
• Kompetensi : Keterampilan dan pengetahuan teknis antar pribadi.
• Loyalitas : Kesetiaan dan kesediaan melindungi/menyelamatkan.
• Keterbukaan : Kesediaan berbagi ide secara bebas dan terbuka.
Dari berbagai uraian tentang aspek-aspek kepemimpinan diatas sangat memberikan suatu pelajaran yang penting. Apalagi bila kita lihat situasi dan arah perkembangan masalah kepemimpinan di Indonesia di masa mendatang. Kompleksitas persoalan yang kita hadapi dengan kepemimpinan yang mempunyai visi kedepan sekaligus mempunyai kemampuan transformasi yang progresif sehingga diharapkan terwujud kepemimpinan yang terbuka dan demokratis.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s