PENGANTAR RETHORIKA

PENGANTAR RETHORIKA

Pengertian
Secara etimologis, rethorika adalah berasal dari bahasa latin rethor, yang berarti pidato. Di daerah kelahirannya – Syracusa, ibukota pulau Sisilia abad V sebelum masehi – Rethorika dipahami sebagai kecakapan berpidato. Rethorika menjadi populer di Athena dan semenanjung Atika berkat jasa Corax dan muridnya Tissias yang mendirikan sekolah rethorika.Akhir abad ke V SM, kaum sofis mengembangkan pengertian rethorika sebagai kecakapan berpidato untuk memenangkan suatu kasus. Pengertian tersebut kelihatannya berangkat dari sumber filsafat yang diyakini, yakni filsafat materialisme atau pragmatisme. Tokoh-tokoh yang menonjol dari kelompok ini adalah: Gorgias, Phidias, Protagoras, dan Isocrates.
Perkembangan selanjutnya rethorika diartikan sebagai “seni bertutur untuk membeberkan kebenaran”. Pemahaman tersebut berdasarkan pada filsafat idealisme. Tokoh utama rethorika yang berangkat dari pengertian ini adalah Plato dengan bukunya “Phaedrus”. Pikiran-pikiran Plato dikembangkan lebih luas dan mendalam serta menggunakan pendekatan ilmiah oleh Aristoteles dalam bukunya yang berjudul “Rethoric”. Pada intinya Aristoteles memberikan pengertian rethorika sebagai “ilmu dan seni yang digunakan untuk persuasi”.
Pada awal abad XX berkembang pengertian lain yang disebut sebagai rethorika’baru’. Tokoh-tokoh rethorika aliran baru ini antara lain I.A. Richards, Kenneth Burke, S.I. Hayakawa dan Alfred Korzybski. Richards memberi arti rethorika sebagai; studi tentang kesalahpahaman dan penemuan sarana pengobatan. Burke melihat rethorika sebagai; ilmu yang mengajar orang untuk mengidentifikasi dalam arti yang seluas-luasnya. Hayakawa (aliran general semantik) memandang rethorika sebagai; ilmu yang mengajar orang untuk memetakan bagian dari suatu persoalan sebaik mungkin. Sedangkan Krobzyski dan ilmuwan pendukungnya (teori Tagmemik) menyatakan bahwa rethorika adalah ilmu yang mengajarkan penggarapan masalah tutur secara heuristik untuk ditampilkan secara sistematis guna membina saling pengertian dan kerja sama.
1. Prinsip-prinsip Rethorika.
a. Tentang Orator (Komunikator)
Orator atau Komunikator merupakan subyek utama dalam kegiatan rethorika. Karena orator merupakan pihak yang lebih dinamis dan memiliki peluang yang lebih besar dalam proses kegiatan tersebut. Keadaan itu tidak terlepas dari sifat kegiatan rethorika yang ‘cenderung’ berbentuk linier dan searah. Agar kegiatan tersebut dapat berhasil dengan baik maka orator harus mampu menampilkan baik diri maupun isi rethorikanya dengan menarik dan mempunyai nilai guna bagi pendengarnya. Oleh karena itu dalam hal ini berlaku dalil “He doesn’t communicate what he says, he communicate what he is” disini terlihat bahwa pendengar tidak hanya memperhatikan ‘apa’nya tetapi juga sangat tergantung terhadap ‘siapa’ yang berbicara.
Menurut Aristoteles, komponen ‘siapa’ harus memenuhi unsur-unsur Ethos, Phatos, dan Logos . Ethos adalah karakteristik yang menonjol dari seseorang yang mengacu kepada hal-hal yang bersifat konigtif (good sense, good moral character, good will) dalam konsep modern, Ethos diartikan sebagai kredibilitas yang menurut Hovland dan Weiss terdiri dari dua unsur yaitu Expertise (keahlian) dan trustworthiness (dapat dipercaya).
b. Tentang audience atau komunikan
Menurut pakar psikologi sosial yang bernama H.L. Hollingworth, pendengar (audience atau komunikan) dapat digolongkan menjadi lima kelompok yang disebut sebagai: Pedestrian Audience, Discussion an Passive Audience, Selected Audience, Concerted Audience, Organized Audience. Masing-masing kelompok mempunyai karakteristik sendiri-sendiri.
Pedestrian Audience adalah pendengar temporer, seperti kelompok yang berada di pasar, terminal, atau di alun-alun kota. Pendengar jenis ini hampir sama sekali tidak memiliki jenis hubungan apapun dengan komunikator. Hal paling sulit yang dirasakan oleh komunikator adalah menumbuhkan perhatian pendengar.
Discussion or Passive Audience adalah kelompok yang sudah memiliki perhatian terhadap pendengar karena faktor peraturan atau perintah. Persoalan yang biasanya muncul adalah usaha bagaimana untuk menciptakan ketertarikan. Kelompok ini misalnya adalah forum pengajian dan sebagainya.
Selected Audience adalah kelompok yang memiliki persamaan tujuan sehingga pendengar jenis ini sudah mempunyai perhatian dan ketertarikan yang sama. Bagi orator/komunikator adalah tinggal memberikan kesan kepada pendengar untuk mengerti dan mengikuti maksud dan tujuannya. Contoh kelompok Selected adalah peserta Training.
Concerted Audience merupaka kelompok yang memiliki kesamaan tujuan dan latar belakang. Seperti mahasiswa Hukum kelas IA umpamanya, merupakan kelompok jenis ini. Langkah yang perlu dilakukan oleh orator adalah meyakinkan pendengar.
Organized Audience sebagai kelompok yang memiliki kondisi-kondisi khusus, seperti aturan, job discription, manajerial dan lain-lain. Kelompok pekerja di sebuah perusahaan misalnya, merupakan contoh jenis audience ini. Orator/komunikator tinggal memberikan arahan, maka mereka sudah akan langsung mengikuti, tanpa harus didorong dengan berbagai cara.
Merujuk pada Hollingworth di atas, terdapat lima teknik dasar dalam rangka melakukan persuasi terhadap orang lain/audience, yaitu: attention, interest, impression, conviction, dan direction. Apabila dibuat suatu bagan maka akan terlihat sebagai berikut:
Pedestrian Discussion or Passive Selected Concerted Organized
Attention – – – –
Interest interest – – –
Impression Impression Impression – –
Conviction Conviction Conviction Conviction –
Direction Direction Direction Direction Direction
c. Tujuan (secara umum) Rethorika.
Di atas telah disampaikan bahwa definisi rethorika adalah ilmu dan seni untuk mempersuasi orang lain. Usaha persuasif tersebut sebetulnya untuk tujuan apa? Pada dasarnya tujuan rethorika dapat dibagi menjadi 3(tiga) kategori besar, dimana masing-masing ketegori memiliki target sendiri. Tujuan tersebut adalah to inform (memberitahu), to persuade (mengajak), dan to entertain (menghibur).
Masing-masing tujuan memiliki target tertentu, seperti daftar berikut ini:
Tujuan Target
To Inform Clarity
Interest
Understanding
To Persuade Belief
Action
Stimulation
To Entertain Interest
Enjoyment
Humor

d. Teknik Penyampaian.
Terdapat empat teknik dasar dalam proses penyampaian pada kegiatan rethorika. Keempat teknik tersebut adalah (1) by reading from the manuscript (2) by memorizing (3) by impromptu delivery (4) by speaking extemporaneously.
1. by reading from the manuscript
pada prinsipnya orator menyampaikan gagasannya dengan cara membaca naskah. Hal ini dilakukan oleh orator pemula atau karena materi yang memerlukan ketepatan data.
2. by memorizing
merupakan teknik penyampaian yang berdasrkan kekuatan ingatan. Materi seudah dikuasai dengan baik sehingga orator mampu menyampaikan gagasan secara langsung.
3. by impromptu delivery
dapat juga disebut sebagai cara yang spontanitas. Apabila anda menghadiri undangan kemudian diminta oleh tuan rumah untuk memberikan sambutan, dan anda tidak mempunyai persiapan, maka anda menggunakan teknik impromptu.
4. by speaking extemporaneously
adalah teknik rethorika dengan cara membawa outline materi. Artinya teknik ini adalah perpaduan antara teknik manuscript dan teknik memorizing.
e. Bahasa Sebagai Media
Bahasa merupakan media utama dalam rethorika. Bahasa merupakan alat komunikasi yang berwujud code dan symbol. Arti dari bahasa tergantung dari beberapa aspek, antara lain adalah: audience, situasi, konteks, waktu dan siapa yang berbicara. Bahasa dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu: verbal dan non verbal. Bahasa verbal adalah kata-kata atau kalimat yang disusun dan disampaikan kepada orang lain sebagai tanda pengungkapan pikiran atau ide kita.
Bahasa non verbal adalah ungkapan komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan alat selain tutur atau lisan. Bahasa non verbal dapat berupa:
1. Body Language (Kinesik): bahasa tubuh dapat berupa; posture, walking, face expression dan gestures.
2. Paralanguage (suara dan artikulasinya): karakteristik suara meliputi; frekuensi, intonasi, diksi, irama dan nada.
3. Object language (pakaian dan asesoris). Semua yang melekat dan berkaitan dengan diri kita merupakan bahasa yang dibaca oleh orang-orang yang berhubungan dengan kita.
4. Ruang dan Jarak (proksemik): situasi dan suasana ruangan dimana kita tinggal dan jarak yang kita ciptakan ketika berinteraksi dengan orang lain merupakan bahasa yang dapat dirasakan maknanya.
5. Waktu (kronemik): waktu merupakan bahasa alam yang mempunyai karakter spesifik, seperti pagi, siang, sore, malam dan fajar. Tiap-tiap waktu tersebut memiliki sifat dan memberi efek tersendiri.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s