Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Mensyukuri yang Sedikit

Mensyukuri yang Sedikit

Orang yang tidak pernah memuji Allah atas nikmat air dingin yang bersih dan
segar, ia akan lupa kepada-Nya jika mendapatkan istana yang indah, kendaraan yang mewah,
dan kebun-kebun yang penuh buah-buahan yang ranum.
Orang yang tidak pernah bersyukur atas sepotong roti yang hangat, tidak akan pernah bisa
mensyukuri hidangan yang lezat dan menu yang nikmat. Orang yang tidak pernah bersyukur
dan bahkan kufur tidak akan pernah bisa membedakan antara yang sedikit dan yang banyak.
Tapi ironisnya, tak jarang orang-orang seperti itu yang pernah berjanji kepada Allah bahwa
ketika nanti Allah menurunkan nikmat kepadanya dan menyirami mereka dengan nikmatnikmat-
Nya maka mereka akan bersyukur, memberi dan bersedekah.

Continue reading

QAAF 1-8

1. Qaaf, Demi Al Quran yang sangat mulia.
2. (Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir :”Ini adalah suatu yang amat ajaib.”
3. Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi) ?, itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin
4. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka, dan pada sisi Kamipun ada kitab yang memelihara (mencatat).
5. Sebenarnya, mereka telah mendustakan kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, maka mereka berada dalam keadaan kacau balau.
6. Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun
7. Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata,
8. untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah).

“Dunia Tanpa ISlam”


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-font-family:”Traditional Arabic”;}

Dunia tanpa Islam

Judul dari ¬†artikel Graham Fuller ini , mantan Wakil Ketua CIA, dalam Foreign Policy (edisi Januari-Februari 2008): “A World Without Islam”. Fuller sekarang adalah guru besar sejarah pada Universitas Fraser, Vancouver. Ia telah menulis beberapa buku tentang Timur Tengah, termasuk The Future of Political Islam (2003).

Judul semacam ini sungguh menyakitkan. Islam seperti akan dihalau dari muka bumi karena dianggap sebagai biang kekacauan global. Bahkan sebagian golongan neokonservatif Amerika menggunakan istilah Islamofascism (fasisme Islam), musuh yang sedang disumpahi dalam sebuah bayangan PD (Perang Dunia) III.

Kekacauan itu terlihat dalam: serangan bunuh diri, bom mobil, pendudukan militer, perjuangan perlawanan, amuk massa, fatwa, jihad, perang gerilya, video ancaman, dan jangan lupa tragedi 11 September 2001 sebagai puncaknya. Pendek kata, sebagian pers Barat memandang Islam sebagai pemicu keonaran di mana-mana, gara-gara perbuatan segelintir orang yang putus asa.
Continue reading

Tak ada Kemiskinan dalam “INDONESIA MERDEKA”


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-font-family:”Traditional Arabic”;}

Tak ada Kemiskinan dalam “INDONESIA MERDEKA”

Potongan kalimat dari Bung Karno itu sebagai bagian dari usulnya untuk sila keempat Pancasila dalam pidato tentang dasar negara di depan sidang BPUPK (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) pada 1 Juni 1945. Sila itu semula berbunyi “Kesejahteraan sosial,” kemudian dalam sidang pada 22 Juni ditempatkan sebagai sila kelima dengan redaksi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Bagi Bung Karno, sila ini sama dengan tidak akan ada kemiskinan di dalam Indonesia merdeka.

Sekarang sudah lebih 62 tahun negeri ini merdeka, kemiskinan masih ‘setia’ bersama kita. Menurut Faisal Basri, jika ukuran yang digunakan adalah hitungan pendapatan rata-rata per kepala, sebesar dua dolar AS, maka rakyat Indonesia yang miskin berjumlah 100,7 juta jiwa atau 42,6 persen dari seluruh jumlah penduduk. Dua dolar AS setara Rp 18.500. Itu jika semua rakyat Indonesia dianggap punya penghasilan. Jumlah yang tidak punya penghasilan atau penganggur total masih di atas 10 juta, sebuah angka yang cukup mengerikan.

Dalam Resonansi 11 Desember lalu, disebut penyebab utama dari malapetaka kemiskinanan adalah karena pemerintah sejak kita merdeka tidak pernah merancang strategi pembangunan yang benar-benar prorakyat. Ada dua atau tiga kabinet tahun 1950-an yang punya komitmen untuk menghalau kemiskinan ini, tetapi umurnya pendek-pendek. Perseteruan antarpartai atau terjadinya gesekan sipil-militer telah memangkas umur kabinet, sehingga semua program prorakyat itu kandas. Inilah yang terjadi pada periode yang disebut era demokrasi liberal di bawah payung UUDS. Continue reading

Kekerasan atas nama Agama

Ahmad Syafii Maarif Rabu, 30 April 2008

Tindakan kekerasan, brutalitas, bahkan peperangan atas nama agama bukan barang baru dalam sejarah peradaban (kebiadaban) manusia. Pelaku tindakan ini merasa paling beriman di muka bumi. Karena menganggap diri sebagai makhluk agung di antara manusia, mereka mengangkat dirinya sebagai orang yang paling dekat dengan Tuhan.
Karena itu, mereka berhak memonopoli kebenaran. Seakan-akan mereka telah menjadi wakil Tuhan yang sah untuk mengatur dunia ini berdasarkan tafsiran monolitik mereka terhadap teks suci. Perkara pihak lain akan mati, terancam, binasa, dan babak belur akibat perbuatan anarkis mereka, sama sekali tidak menjadi pertimbangan. Inilah jenis manusia yang punya hobi “membuat kebinasaan di muka bumi”, tetapi merasa telah berbuat baik. Continue reading

Kader Ulama di Muhammadiyah Perlu Diperhatikan Kembali


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;
mso-bidi-font-family:”Traditional Arabic”;}

Kader Ulama di Muhammadiyah Perlu Diperhatikan Kembali

Suara Muhammadiyah 12/maret/2008

“Ulama itu adalah pewaris para nabi”, demikianlah salah satu ungkapan hadist nabi mengingkatkan kepada umatnya tentang pentingnya arti dan posisi ulama di dalam Islam. Sehingga nabi menempatkan kaum ulama bagian dari ahli warisnya.

Di tengah kelangkaan kaum ulama serta banyaknya prilaku dan tradisi keberagamaan masyarakat yang jauh dari semangat ajaran Al-qur’an dan Sunnah, sejak dahulu hingga sekarang Muhammadiyah terus berusaha menyemai kader Ulama dengan mendirikan berbagai lembaga pendidikan sebagai sekolah kader ulama.
Komitmen Muhammadiyah mendirikan sekolah kader ulama tersebut sangat mendapat perhatian warga Muhammadiyah. Hampir setiap Muktamar, selalu membahas sekolah kader ulama tersebut. Sebagaimana yang terlihat dalam Muktamar ke-41 di Surakarta maupun Muktamar ke-43 di Banda Aceh.
Akan tetapi perkembangan dan perubahan kehidupan masyarakat menuntut terjadinya peningkatan jumlah ulama di berbagai daerah. Apalagi perubahan masyarakat yang terjadi selalu beriringan dengan berbagai persoalan keagamaan yang muncul. Kondisi ini memang dibenarkan oleh Dr. Jaih Mubarok, M.Ag, menurut Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Jawa Barat ini, kader ulama Muhammadiyah memang sangat perlu ditingkatkan, baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya. “Karena kalau saya lihat untuk wilayah Jawa Barat saja misalnya, saya betul-betul mengalami kekurangan ulama tarjih tersebut. Untuk tingkatan PDM mungkin masih ada, akan tetapi untuk PCM apalagi PRM sudah sangat langka. Ini menurut saya merupakan problem yang cukup mendasar, sebab banyak sekali persoalan-persoalan baru yang muncul menuntut Muhammadiyah bisa menjawabnya,” tuturnya saat dihubungi SM. Continue reading

  • Calendar

    • December 2016
      M T W T F S S
      « Apr    
       1234
      567891011
      12131415161718
      19202122232425
      262728293031  
  • Search